Seorang sejawat menyebut nama saya dalam tulisannya. Demi memenuhi kewajiban, pagi itu (15/05/2023) dia menyetorkan sebuah tulisan ke institusinya. Panjangnya sepuluh kalimat. Isinya curhat. Dia bingung hendak menulis apa. Di situlah dia ingat pesan saya suatu ketika: pengalaman kesulitan menulis pun bisa menjadi cerita yang layak untuk ditulis.
Sayangnya, dia berhenti di pengakuan bingung itu saja. Seandainya dia mengelaborasi kegundahannya, pasti panjang tulisannya akan berlipat ganda. Perasaan yang meliputinya menjelang tiba gilirannya menyetor tulisan adalah cerita menggelitik. Usahanya menggali ide dan menuangkannya dalam tulisan adalah cerita heroik. Suasana—lahir dan batin—yang mengiringi proses menulisnya adalah cerita epik.
