2021/04/08

Semalam di Bukit Kori #2 (Habis)

Ini kegiatan yang dirancang secara grusa-grusu tapi berakhir mubra-mubru. Sedari awal tak jelas struktur organisasinya. Juga tak ada job descriptions. Apalagi sampai standard operation procedure-nya, blas! 

Sebenarnya sempat beberapa kali muncul pertanyaan, “Aku kebagian bawa apa?” Tapi—seperti lazimnya soal ujian untuk anak sekolah—pertanyaan terbuka macam itu selalu memantik keraguan untuk menjawabnya. Takut salah. Kali lain, tawaran kesanggupan mengemban tugas itu dirumuskan dalam soal pilihan ganda saja.

Seperti ini, misalnya:

Perlengkapan yang harus saya bawa adalah ....

A. anglo

B. baskom

C. ceret

D. dandang

E. enthong


Juga pernah muncul pertanyaan, “Kumpul di mana? Jam berapa?” Lagi-lagi, pertanyaan ini tidak menarik minat untuk menjawab. Alhasil, masing-masing berangkat menurut naga dina-nya sendiri. Ada yang menjelang jam 10 sudah take off dari tanah airnya, tapi kesasar touring dulu ke Segawe-Kendil-Pojok. Ada yang bakda salam salat Jumat langsung nggendring, wiridnya dilafazkan sambil sai dari rumah ke Kori hingga tawaf di seputar calon lokasi kemah. Dan lain-lain. Pokoknya, lain penjuru angin lain pula jam berangkatnya.

Lantaran tak ada SOTK, tupoksi, dan SOP, semua pekerjaan beserta peralatan dan bahan yang diperlukan mengalir begitu saja. Ada yang tumpang tindih, ganda, atau malah zonk. Ini misalnya: ada yang membawa BBA (bahan bakar arang) sekira cukup untuk nyate unta selama seminggu nonstop. Mungkin yang terbayang, kemahnya di Bukit Uhud yang tidak memberikan kesempatan tumbuh bagi segala jenis pohon. Tak tahunya, sang baureksa lokasi sudah menyiapkan setumpuk kayu pohon secang kering kemripik yang cukup untuk bedhihan sekaligus mengkremasi Manihot selama sebulan.

Ada juga bekal beras sekantong plastik, hasil panen sendiri tampaknya. Padahal sudah di-wanti-wanti, tidak usah masak. Nanti mbakar bodin saja, sambil ngopi. Eee, ... lha kok jebul-nya ada dapur siluman yang menyediakan makan malam komplet+++. Matur nuwun, Mbak Parti. Semoga (harapan sepenuh keyakinan) Yang Maha Pembalas melipatgandakan imbalan atas kemurahan hati pyenengan sekeluarga dengan rezeki yang melimpah dari segala arah dan disempurnakan dengan sepenuh berkah. Untung, ada yang menyewagratiskan piring, sendok, gelas, panci, ember, dll., dsb., dst. Matur thengkiyuh, Mbak Lasi. Semoga (dan pasti) Yang Mahateliti mencatat semua itu sebagai amal jariah pyenengan sekeluarga.

Masih ada pula perbekalan pakaian yang ganda. Ada yang menyimpan kaus warok di dalam tas TNI-AD-nya. Halhuaaahhh ... ternyata sudah disiapkan kostum seragam kaus bermotif warok juga. Ya tentu, pilih memakai yang baru! Matur kamsia, Masbro Harso. Semoga (tanpa keraguan) Sang Mahacahaya senantiasa menerangi setiap jengkal bumi pijakan sampeyan dan segenap keluarga, yang masih di sini maupun yang sudah di sana.

Lalu tentang tenda itu. Susah-susah diangkut dari sekolah, bersama bambu-bambu yang harus ditebang, dipotong, dan di-sisiki, lalu dengan payah dibentangkan dengan tali-tali hingga berdiri menyerupai vila mini. Eee, ... lha kok disinggahi selama makan lalu ditinggal menggelandang di luar hingga gelapnya malam terusir terangnya mentari pagi. Para arsitek, kontraktor, mandor, dan tukang yang telanjur mengerahkan segenap daya dan usaha dijamin tidak kecewa, apalagi merasa sia-sia. Yang Mahabijak mustahil salah fokus dalam membidik sisi mana yang mesti dinilai.

Persiapan grusa-grusu menghasilkan keadaan mubra-mubru. Adakah yang salah? Jelas ada! Adakah yang layak dipersalahkan? Jelas ada! Adakah yang perlu disesalkan? Jelas ada! Adakah manfaatnya jika yang salah, yang dipersalahkan, dan yang disesalkan sudah ditemukan dan dikenai sanksi? Blas nggak ada! Nah, di sinilah letak keindahan manajemen wong Jawa. Di tanah ini, Jawadwipa, mana dikenal kata “rugi” (tuna)? Yang dikenal hanya kata “untung” (begja). Maka ... untung cuma membawa arang; coba kalau tabung elpiji plus kompornya! Untung berasnya belum diliwet, untung belum telanjur jajan! Untung yang didirikan cuma tenda, mudah dibongkar; coba kalau loji!

Begitulah. Secanggih apa pun manajemen modern tak pernah sanggup mengungguli keefektifan manajemen Jawa. Manajemen modern itu baru sampai di level ilmu, sementara manajemen Jawa sudah mencapai tataran hikmah. Ah, tak laik untuk dikupas di sini. Biarlah bab ini menjadi mata kuliah di peTUAlangan warok episode berikutnya, atau berikutnya lagi.

Yang jelas, kemah satu malam itu tercukupi sempurna kebutuhan primernya: pangan, sandang, dan papan. Tapi ketiga kebutuhan itu baru di dasar piramidanya Maslow. Bagi para ksatria weton Pedepokan Sendang Lanang, hajat hidupnya tidak boleh berhenti terpuaskan di situ. Demi menaikkan makam (biasa ditulis maqom) itulah, mereka berani melakoni peralihan sejumlah situasi: dari kehangatan tabir tenda ke kehangatan api unggun, dari kelezatan masakan dapur ke kenikmatan bakaran singkong, dari silaunya sinar lampu ke temaramnya cahaya rembulan, dari serbuan darat semut ke serangan udara nyamuk, dari kebasahan oleh keringat dari tubuh sendiri ke kebasahan oleh tetesan embun dari langit.

Di kampus Kori itulah kitab kejadian-kejadian mulai dibedah. Ada kejadian-kejadian masa sekolah, kejadian-kejadian pascasekolah, dan kejadian-kejadian kontemporer. Kitab kejadian masa sekolah sudah dapat ditebak, pasti berisi suka duka selama menempuh pendadaran di Sendang Lanang. Kitab kejadian pascasekolah didominasi cerita-cerita heroik dalam upaya menyambung nyawa dan membelah jiwa. Kitab kejadian kontemporer tak kalah menggelitik, membutuhkan keterampilan tingkat dewa untuk mengolah cipta dan menyelaraskan rasa.

Jika hanya disimak narasi adegannya, kaleidoskop 1986—1989 itu tak lebih dari sekadar cerita basi. Insiden pecahnya cermin di toilet kampus baru (yang sering menguapkan bau pesing karena langka air itu, lho) misalnya, narasi adegannya ya hanya seperti yang terjadi kala itu. Teman-teman bercanda, lepas kendali, terjadi kontak fisik hingga menyebabkan cermin pecah. Pelaku dan saksi disidang, lalu konsekuensi disepakati. Selesai. Itu kulitnya.

Namun, ketika kini rekaman adegan itu diputar ulang, daya jangkau pandangan warok besutan Sendang Lanang sudah jauh melampaui jaringan kulit, menembus tulang. Terbayanglah ekspresi para pihak yang terlibat dalam insiden cermin pecah itu. Menampaklah wajah-wajah yang berusaha melepaskah sorak tawa, namun sejatinya hanyalah akting untuk menyembunyikan penyesalan dan ketakutan. Tak ada motif untuk mengambil keuntungan apa pun yang mendorong dan menyertai tindakan ceroboh yang berujung kerusakan fasilitas sekolah itu.

Itulah tugas perkembangan. Ya, gojek antarteman adalah tugas perkembangan yang tidak pernah absen sepanjang rentang usia manusia. Bentuknya bisa beragam sesuai dengan impuls, tingkat usia, dan ruang ekspresi yang tersedia. Motifnya juga beraneka, tergantung suasana batin yang terbentuk dari interaksinya dengan tugas-tugas yang menjadi tanggung jawabnya.

Pada kadar tertentu, gojek bisa dicap sebagai kenakalan. “Nakal” itu sebenarnya label subjektif, yang dilekatkan hanya oleh orang yang memiliki standar berbeda. Si X dibilang nakal oleh si B ketika tindakan X menyimpang dari standar perilaku yang oleh B diharapkan terjadi pada X. Seorang anak yang mandi di sungai sambil memercik-mercikkan air ke wajah temannya, dibilang nakal oleh nenek-nenek yang lewat di tepi sungai karena si nenek mengharapkan si anak mandi tanpa memercikkan air ke wajah temannya. Sebaliknya, bagi teman sepermandiannya itu, dia sama sekali tidak nakal, justru teman yang asyik.

Beruntung, kampus Sendang Lanang dulu gudangnya guru-guru berilmu dan berhikmah. Walau tidak dituturkan oleh si empunya cerita, suasana sidang penghakiman (jangan dibaca: pengadilan) para pihak yang terlibat insiden cermin pecah itu tergambar jelas di benak para penyimak. Di sana tidak terdengar nada bentakan, tidak terpancar aura kemarahan, tidak terlihat aksi tuding-tuding muka, pun tidak ada pengutipan pasal-pasal pidana. Apalagi percobaan pemerasan yang dikemas dalam lembutnya rayuan atau kasarnya ancaman! Yang hadir di ruang sidang itu hanya suasana permakluman dan permaafan. Oh, betapa teduhnya roh almarhumah sekolah kita itu! Maka, nikmat manakah yang pantas untuk kita dustakan?

Kini saatnya kawanan warok mewarisi ilmu dan hikmah pusaka para guru maharesi, yang tidak sekadar dikhotbahkan di ruang-ruang kelas dan di mimbar inspektur upacara, melainkan juga mengejawantah dalam sikap ketika berhadapan dengan “kenakalan” putra-putri didiknya kala itu. Bukankah para mantan cantrik Sendang Lanang itu kini juga sering mendapati “kenakalan” anak-anak (anak biologis, ekonomis, atau pedagogis) mereka? “Nakal” adalah fitrah yang tak mengenal batasan usia dan kasta. Hatta di kalangan siswa calon guru sekalipun, “kenakalan” masih punya ruang untuk tumbuh secara natural.

Layak untuk direnungi—bila perlu, diriset secara saksama—adakah bukti bahwa “kenakalan” dapat dihilangkan, dihentikan, atau bahkan sekadar diredam dengan hukuman, kemarahan, kejengkelan, atau bahkan sekadar penolakan? Jika tak sanggup mendekati “kenakalan” anak-anak dengan ilmu dan hikmah, setidaknya kaum dewasa bisa bersakinah di posisi rida (sering ditulis ridha, ridho, ridla, atau ridlo). Petuah bijak menegaskan, “Rida Tuhan berada di dalam (membersamai) rida kedua orang tua.” Bukankah rida Tuhan menjadi puncak cita-cita setiap hamba? Nah, senakal-nakalnya anak, ketika sudah mendapat rida Tuhannya, siapa yang kuasa mencegah perubahan perilakunya ke garis hidup yang bertabur cahaya kebaikan?

Sayonara, Bukit Kori yang menginspirasi!

Tabik.

2021/04/06

Semalam di Bukit Kori #1

Kori adalah sebutan untuk sebuah bukit (atau perbukitan?) di Dusun Randubang, Desa Pare, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri. Dari jalan raya Wonogiri—Pracimantoro, lokasinya dapat diakses melalui jalan lingkar selatan kota Wonogiri, masuk dari sebelah utara Mapolres Wonogiri. Sebelum sampai Dusun Sumber, Desa Pare, kira-kira satu kilometer dari Mapolres, ada jalan naik di sebelah kiri. Mengikuti jalan beton itulah, kita akan menjumpai kawasan penambangan bahan galian C.

Ratusan penambang bekerja di kawasan perbukitan batu itu sejak pagi hingga sore. Puluhan dump truck hilir mudik, datang kosong dan pergi penuh muatan batu hasil perontokan bukit. Para pelaku ekonomi berbagi peran. Ada pemilik lahan yang menyewakan (baca: menjual) bukitnya untuk dikeruk isinya. Ada pemilik modal yang menjalankan usaha pertambangan, yang lazimnya sekaligus pemilik alat-alat berat penghancur, penghimpun, dan pengangkut kandungan bukit. Ada pemilik keterampilan mengoperasikan kendaraan-kendaraan berat itu. Ada pemilik otot bertenaga yang mengerahkan seluruh kekuatan raganya untuk melakukan pekerjaan manual dalam kegiatan penambangan yang tidak bisa dikerjakan dengan mesin. Ada pemilik warung yang melayani kebutuhan perut para pekerja dan sekaligus pemilik keterampilan mencatat angka-angka yang belum tunai. Last but not least, ada pemilik keberanian yang “berjasa besar” dalam mengendalikan sistem pengamanan lokasi tambang.

Di sekitar lokasi tambang itulah, pada Jumat Pon (2/4/21) sore hingga Sabtu Wage (3/4/21) pagi ada rumah darurat berdiri setengah hati. Terbuat dari kain, atapnya sekaligus menjadi dinding. Orang-orang menyebutnya tenda. Itulah ruang yang mempertemukan delapan sahabat lama. Dulu mereka terhimpun selama tiga tahun (1986—1989) di satu sekolah: SPG Negeri Wonogiri. O, kumpulan alumni satu almamater? Reuni, ceritanya? Kok, hanya berdelapan? Adakah ikatan khusus pada masa lalu mereka?

Itulah pertanyaan yang tidak menemukan jawaban untuk menjelaskannya. Selama menempuh pendidikan di sekolah calon guru yang juga lekat dengan julukan “Kampus Sendang Lanang” itu, mereka tidak terikat dalam geng tertentu. Bahkan, di antara mereka ada yang semasa sekolah itu tidak saling mengenal. Yang dulu sering berkegiatan bareng pun ada yang gagal menyimpan kenangan. Perjumpaan di jagat maya setelah 30-an tahun berpisah memaksa mereka bersusah payah mengenang sosok teman-temannya, dan sering gagal. Alhasil, banyak sahabat lama yang berasa teman baru.

Ide untuk berkemah itu pun tercetus secara tiba-tiba. Salah seorang di antara mereka pernah melontarkan pertanyaan di grup obrolan sesama alumni, “Bagaimana kalau para mantan Arjuna Sendang Lanang berkemah semalam saja di Gunung Gandul? Bercengkerama mengenang masa muda sambil ngopi dan mbakar singkong?”

Sepi. Berminggu-minggu tidak ada respons serius. Agak lama berselang, baru muncul tanggapan dari seorang teman, “Bagaimana, Bro, kalau ide pasang tenda itu didadekne?

Bak ditagih utang, si pelontar gagasan cepat-cepat menawarkan jadwal. Pendaftaran peserta pun segera dibuka. Enam nama tercatat sebagai calon peserta. Dibuatlah grup obrolan baru, dengan anggota enam orang itu. Tiga orang lagi diundang untuk bergabung. Ketiganya memenuhi undangan. Sembilan orang mulai berunding tentang lokasi kemah, perlengkapan, dan waktu. Dua personel melakukan survei calon lokasi. Dengan pertimbangan sekenanya, disepakatilah Bukit Kori sebagai tempat bernostalgia.

Mas Sriyatno, yang tinggal paling dekat dengan lokasi, mulai sibuk sejak siang. Satu unit tenda milik sekolah tempat pengabdiannya dibawa. Sejumlah perabot dapur dipinjam dari warung Mbak Sulasi, teman yang berwirausaha di kawasan pertambangan.

Mas Sutardi Sentot, yang berjanji untuk membantu persiapan lokasi, sesiang itu masih sibuk memuliakan tamunya dari Semarang. Bersama Mas Sutito, Mas Tardi menjamu habis-habisan Kang Gw yang datang ke rumahnya menjelang salat Jumat. Setelah menyeruput teh dan kopi panas serta menyantap singkong kukus, pisang ambon super besar nan panjang, dan juga jeruk, mereka bertiga bergegas memenuhi panggilan Jumat. Sepulang dari masjid, ketiganya disambut sajian makan siang komplet yang disiapkan oleh Mbak Nyonya Sutardi.

Usai menunaikan urusan perut, ketiga jawara Sendang Lanang beranjak dari Segawe, Purwosari, Wonogiri menuju kampung sebelah. Rutenya melalui medan cross country, menyeberangi sungai. Syukur, airnya dangkal dan arusnya tidak deras. Di Dusun Kendil, Manjung, Wonogiri itulah Mas Sutito tinggal bersama seorang putri cantiknya nan salihah, yang sudah hampir dua tahun menekuni keahlian akuntansi di SMKN 1 Wonogiri. Di rumah Mas Sutito, mereka hanya berfoto ria sejenak di serambi. Bertamu kurang beradab itu terpaksa dilakukan demi mengejar target membersamai Mas Sriyatno si pawang Kori.

Dari rumah Mas Sutito, ketiganya melanjutkan perjalanan ke Dusun Pojok, masih dalam wilayah Desa Manjung. Di luar dugaan, dalam perjalanan mereka melihat BuNga Muara duduk-duduk santai bersama keluarga di teras rumah kedua orang tuanya. Teman yang satu ini sehari-hari mengabdi sebagai guru di Ibu Kota. Menyiasati larangan mudik Lebaran, barangkali, dia manfaatkan libur akhir pekan itu untuk menyungkem ibu-bapaknya di kampung halaman. Kesempatan bertemu teman jauh tak disia-siakan. Ketiganya mampir meski tidak lama. Seperti di rumah Mas Sutito, empat sahabat itu cukup berpose di teras dan halaman. Lalu seorang gadis manis (saking girangnya, ketiga tamu lupa untuk menanyakan identitas si gadis) bermurah hati memotret dengan kamera ponsel.

Usai melewati “gangguan kecil” (belum puas menikmati “gangguan” itu, sebenarnya), perjalanan menuju rumah Pakde Parpal Poerwanto dilanjutkan. Berbekal ancar-ancar yang diberikan Pakde, Mas Sutito memandu perjalanan dengan yakin. Hanya perlu satu kali bertanya untuk memastikan kebenaran alamat, rombongan bertiga sampai di tujuan.

Benar-benar sekadar demi memuliakan tamu, Mas Sutardi dan Mas Sutito segera mohon diri setelah menyerahkan Kang Gw kepada Pakde Parpal. Tawaran untuk masuk rumah pun ditolaknya secara tegas. Sejurus kemudian kedua lelaki semanak itu pun lenyap dari pandangan Kang Gw dan Pakde Parpal yang melepasnya di depan pintu. Kembali ke Segawe untuk mengambil perbekalan, Mas Sutardi dan Mas Sutito langsung meluncur ke Kori, menyusul Mas Sriyatno.

Sementara, Kang Gw kembali menikmati pemuliaan oleh keluarga Pakde Parpal. Segelas kopi hitam manis (serupa si tamu) yang disedu Mbak Nyonya Parpal dan dihidangkan oleh si ragil Ken the Fourth (nama aslinya bukan itu) segera mengaliri kerongkongan Kang Gw.

Sambil menanti calon-calon tamu yang lain, Pakde Parpal mengajak Kang Gw meninjau kandang cacing di belakang rumah. Ini bisnis barunya Pakde dan menjadi perintis di wilayah Wonogiri. Lepas asar, salah seorang yang ditunggu hadir, Mas Kun Prastowo. Pria kelahiran Slogohimo, Wonogiri yang berdomisili di Solo itu meluncur dari kampung halamannya. Di sana ia merintis usaha ternak kambing bersama Badan Usaha Milik Desa (BUM Des).

Satu lagi warga KSGK (Komunitas Sastra Giri Kawedhar) datang: Mas Lurah Bambang Purmianto. Ia datang super telat lantaran harus mandhégani warganya yang mantu. Sedianya masih ada dua lagi yang berhasrat untuk bergabung: Mbah Poncowae Lou (Wonogiri) dan Pak Arih Numboro (Solo). Namun, sejak pagi Mbah Ponco sudah pamit karena sedang berdukacita, kakak iparnya meninggal. Sedangkan Pak Arih sore itu minta dimaafkan lantaran batal hadir.

Setelah tidak ada lagi yang ditunggu, ritual santap mi pentil (baca: pèntil) segera dimulai. Sayang, Mbak Nyonya Parpal tidak menyediakan daun pisang. Terpaksa mi pentil dituang di piring porselin lalu diguyur sambal pecel. Tidak ketinggalan, gembus goreng menemani sajian khas Wonogiri itu. Biasanya Kang Gw mendadak rakus kalau terkena sihir mi pentil. Tapi sayang, kali ini perutnya telanjur penuh sejak di Segawe. Maksud hati ingin mberkat, apa daya tuan rumah tidak menawari.

Usai ritual mi pentil, Kang Gw mohon diri. Dua keping buku berhasil dikantongi: antologi cerkak (cerita cekak = cerita pendek berbahasa Jawa) terbitan Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah (BBPJT) dan antologi geguritan (puisi berbahasa Jawa) karya Mas Lurah Bambang. Beberapa warga KSGK turut menyumbangkan karyanya dalam antologi cerkak berjudul Nalika Rembulan Bunder itu: Pakde Parpal Poerwanto (Wonogiri), Pakde Budi Wahyono (Semarang-Wonogiri), Pak Didit Setyo Nugroho (Wonogiri), Pak Arih Numboro (Solo-Wonogiri), dan Dikbro Eko Wahyudi Merapi (Kebumen-Sleman). Sedangkan antologi geguritan karya Mas Bambang, Marang Angin Segara, tengah diikutkan dalam seleksi untuk menerima anugerah Prasidatama dari BBPJT tahun 2021.

Ya dua buku itu yang sejatinya mengundang Kang Gw untuk bertandang ke Pojok. Sementara, kumpul bareng para pujangga itu adalah bumbu penyedap belaka. (Eits, jangan sepelekan makna bumbu penyedap! Bayangkan sup iga tanpanya, sebutannya akan berubah menjadi iga rebus!) Siapa tahu, ketularan gila menulis? Sebenarnya, pertemuan dengan Mbah Ponco menjadi target utama kedua setelah dua buku itu. Kang Gw belum pernah bertemu langsung dengan seniman serbabisa yang berpenampilan nyentrik itu.

Dari Pojok, Kang Gw memacu WinAir-100—pesawat beroda dua kebanggaannya—ke Kori. Tepat bersamaan dengan kumandang azan magrib, ia tiba di kemah. Mas Yai Sriyatno Sumber Pare, Mas Bei Sutito Kendil Manjung, Den Mas Sriyadi Sukoharjo (Selogiri), Masbro Parino Selogiri, dan Kak Pembina Yato Girimarto (Ngadirojo) sudah berkumpul. Dua yang menghilang: Masbos Suharso Ponorogo (Slogohimo) dan Masbrew Sutardi Sentot Segawe Purwosari. Kata teman-teman, mereka berdua pamit turun untuk mencari tisu dan air minum.

Belum sempat duduk, buru-buru Kang Gw diboncengkan Mas Sriyatno menuju warung Mbak Sulasi. Alhamdulillah, yang dikejar belum pulang. Suaminya menyambut ramah, sementara Mbak Lasi masih sibuk mencuci perabot dapur di belakang. Tidak lama berselang, Mbak Lasi keluar. Tangan setengah basahnya dijulurkan. Kang Gw menyambutnya dengan jabat tangan erat. Ceria. Genuine happiness. Entah mengapa, tampilan bersahaja pada wanita seperti yang ditunjukkan Mbak Lasi selalu layak mendapat apresiasi. Asam garam kehidupan telah mengendap membentuk inner beauty.

Setelah mempertemukan Kang Gw dengan Mbak Lasi—yang hanya dua sampai tiga putaran jarum terpanjang jam—Mas Sriyatno pamit pulang untuk mandi. Lima teman yang lain menyusul. Yang tiga mampir di masjid untuk salat Magrib, yang dua langsung ke rumah Mas Sriyatno dan salat di sana. Selesai salat, yang tiga menyusul naik ke rumah Mas Sriyatno. Selepas isya, semua kembali ke istana, eh, tenda.

Bro Harso dan Brew Tardi sudah menunggu. Tampak pemandangan aneh. Ada bakul berisi penuh nasi. Ada stoples sayur, sejumlah plastik berisi ikan kering, aneka lauk, mete, dan camilan lainnya. Masih ditambah pisang emas, entah berapa sisir. Ternyata dua pensiunan arjuna Sendang Lanang itu mengelabui teman-temannya. Tidak sekadar membeli tisu dan air minum, mereka juga dolan ke Bulusulur. Bejibun makanan itulah oleh-oleh yang diangkut dari sana. Entah bagaimana skenarionya, yang jelas Mbak Parti Bulusulur mendadak menjadi pemasok kebutuhan logistik para petapa.

Sebelum ritual santap malam dimulai, Brew Tardi mengambil ponsel untuk mengabadikan momen berebut centong. Bro Harso menahannya. Ia bergegas lari menuju motor jumbonya. Sekejap kemudian ia kembali ke tenda dan membagikan kaus hitam bergambar warok kepada ketujuh temannya. Ia sendiri memegang satu. Seketika semua berkostum seragam: warok. Maka, jadilah Pasukan 8 Warok Sendang Lanang 89. Ini pun tidak pernah tercium skenarionya.

Betapa peka hati-hati mulia itu menangkap bisikan samawi
bahwa berbagi tak kenal kalkulasi untung-rugi.
Betapa ringan tangan-tangan dermawan itu
menunaikan bisikan kalbu tanpa mengulur waktu.
Maka, masih adakah nikmat Tuhanmu yang pantas untuk kaudustakan?

*****

(Bersambung ....)

2021/03/27

Labu Madu "Sumber Mirah"

Pracimantoro, 24 Desember 2018. Selepas magrib. Gerimis kecil masih belum jemu. Membasahi bumi kelahiran saya. Mantan saya mengajak cari makan di luar. Tidak lazim. Kalau lagi berlibur di rumah mertua, biasanya dia suka bereksperimen di dapur. Ya, eksperimen. Karena tidak jarang terjadi error.

Kali ini dia ingin mencicipi. Kuliner khas kampung halaman mantannya. Saya tawarkan warung nasi tiwul. Tidak tertarik. Memang, lidahnya kurang bersahabat dengan nasi gaplek. Alternatif kedua saya tawarkan. Resto “Sumber Mirah”. Dekat. Di sebelah timur kampung kami. Milik teman sekolah. Seangkatan waktu SMP dulu. Beberapa kali pulang kampung, saya gagal menjajal menunya. Terbentur kesempatan.

Awalnya saya ragu. Tidak gampang mengajak mantan bertemu teman sekolah saya. Maklum. Dia pencemburu. Dan sadar. Mantannya ini pensiunan Arjuna. Haha. Silakan tertawa. Di luar dugaan. Dia setuju. Padahal sudah saya bilang. Mungkin nanti bertemu juragannya. Teman sekolah saya waktu SMP itu. Yang cantik itu. Yang nama panggilannya bikin jantung saya berdegup kencang.

Bersama WinAir. Saya bonceng mantan. Menembus rinai gerimis ringan. Sampai di resto. Sambil memarkir sepeda motor. Saya menoleh ke arah masjid. Di samping masjid. Ada sesosok perempuan. Mengenakan mukena. Tengah berbincang dengan perempuan lain. Lalu masuk ke masjid. Tampaknya baru akan bersalat magrib. Saya beritahu mantan saya. “Kayaknya itu orangnya. Juragan restonya.” Mantan saya heran. Kok bisa mantannya ragu. Tidak mengenali teman sekolahnya. Rupanya dia sedang lupa. Bahwa mantannya punya banyak mantan. Terlalu banyak. Hingga mudah lupa tampangnya. Satu per satu.

Kami terus masuk. Disambut seorang waitress. Cantik. Muda. Menawarkan menu. Makan dan minum. Kami memesan minum yang sama. Teh panas. Untuk makannya, saya pesan tengkleng. Biar tidak ketahuan kalau gigi-gigi saya sudah rapuh. Mantan saya pesan garang asem. Maklum. Dia berpantang makan daging kambing. Takut ketagihan.

Teh panas datang. Dua gelas besar. Tersaji di meja kami. Saya seruput sedikit. Sambil menoleh. Ke meja sebelah. Meja prasmanan. Muncul lagi. Perempuan yang tadi bermukena. Saya panggil. Coba-coba. Siapa tahu dugaan saya benar. Dia menoleh. Ke arah saya. Lalu berjalan. Menghampiri kami. Bertanya, “Siapa, ya?” Sambil tersenyum. Ramah. Tak kalah ramah dari waitress. Pegawainya. Yang tadi menyambut kami.

Benar! “Thik wis tuwek?” Celetuknya. Spontan. “Alhamdulillah,” batinku. Coba, seandainya dia bilang, “Kok makin ganteng saja?” Pasti mendadak panas-dingin. Mantan saya. Lalu pandangannya beralih. Ke perempuan cantik. Yang duduk berhadapan dengan saya. “Tapi bojone ijik mlunur.” Hasyeeem! Bisa besar kepala itu Nyonyah. “Jelas lah .... Kan kerumat?” sahutku. Sekenanya. “Andai dulu kau mau ... pasti juga jadi mlunur!” Saya bergurau. Dalam hati.

Kami mengobrol sejenak. Dua piring datang. Diantar perempuan muda. Yang tadi menyambut pertama. Satu piring berisi garang asem. Masih berbungkus daun pisang. Yang layu akibat dikukus. Satunya lagi berisi nasi. Terlalu banyak. Porsi mantan saya tak sampai separuhnya. Disusul dua piring lagi. Sepiring tengkleng. Sepiring lagi nasi. Sama banyaknya. Dengan yang pertama. Piring nasi kedua saya kembalikan. “Nasinya satu saja. Untuk berdua.” Kata saya. Kepada Mbaknya.

Lahap sekali. Kami makan. Berdua. Dengan mantan. Tidak seperti biasanya. Kalau makan di rumah. Kali ini hanya bersama semeja. Piringnya terpisah. Akibat beda selera. Tak butuh waktu lama. Untuk menuntaskan santap malam. Saya kecewa. Tak bisa lagi ngrikiti daging yang menempel di tulang. Pertanda saya mulai menua. Betul kata teman saya. Yang menjelma jadi juragan itu.

Mantan saya beranjak ke kasir. Belajar meniru orang berduit. Membuka dompet. Rajut. Manis. Seperti yang punya. Itu hadiah. Dari teman baik. Pernah saya pamerkan. Di dinding facebook saya. Mantan saya kecele. Kasir tak mau menerima. Pesanan makan-minum sudah lunas. Dibayar dengan titah sang juragan. Teman SMP saya itu. Persis. Seperti yang saya duga. Tepatnya, yang saya harap. Haha ....

Tersipu. Mantan saya marah kepada teman saya. Pura-pura pasti. Saya baca batinnya. “Besok lagi, ya, Mbak,” begitu. Bisikan hatinya. Tercermin pada air mukanya. Malu-malu berselimut harap.

Kami berpamitan. Puas. Eits ... terhenti di depan pintu. Bertemu kakaknya teman saya itu. Kakak kelas saya juga. Di SMP dulu juga. Saya sapa. Beliau pangling. Maklum. Lama sekali tidak berjumpa. Muncul lelaki lain. Suami teman saya itu. Saya dikenalkan. Saya menyebut nama. Desa asal. Dan nama seseorang. Kakak sepupu saya. Yang saya tahu beliau mengenalnya. Kami terlibat dalam obrolan renyah. Orang sukses. Pejabat di salah satu kementerian. Pebisnis. Petani. Begitu beliau menyebut profesinya.

Profesi terakhir itu yang menarik. Beliau berkisah tentang kiprahnya. Kepada kami. Tentang usahanya. Di bidang pertanian. Tentang pemberdayaan masyarakat. Tentang kegigihan mengubah mindset. Petani tradisional. Budidaya tanaman secara turun-temurun. Monoton. Termasuk orang tuanya. Rupanya beliau tak suka banyak ceramah. Kepada masyarakat tradisional. Petani kolot. Bisa-bisa dianggap mengigau. Beliau tunjukkan bukti.

Kepada kami beliau tunjukkan. Kalkulasi hasil budidaya tanaman asing. Beliau mengenalnya ketika belajar di negeri Belanda. Labu madu. Banyak khasiatnya. Untuk kesehatan. Besar pula nilai ekonominya. Menjanjikan. Fantastis. Angka-angkanya. Beliau sudah memanen. Buah kreativiasnya. Keberaniannya menyelisihi tradisi. Masyarakat petani di sekitar kampung halamannya. Yang hanya mengenal padi dan palawija.

Perbincangan masih seru. Saya belum puas menyimak. Penuturan beliau yang amat menggugah. Azan isya sudah usai mengumandang. Di masjid restonya. Beliau terpaksa berpamitan. Untuk menunaikan salat. Kami tidak ikut. Salat Isya sudah kami jamak di waktu magrib tadi. Memanfaatkan dispensasi sebagai musafir. Kami pun pamit. Kembali ke rumah Simbok. Sambil menenteng tiga buah labu madu.

Silaturahmi penuh arti. Pertama, bertemu teman sekolah. Yang sudah 32 tahun tak pernah berjumpa. Sempat membuat saya kesulitan. Mengingat-ingat sosoknya. Beruntung. Ada teman sekampungnya. Yang menyebut dua kakaknya. Keduanya kakak kelas saya juga. Berurutan. Kedua, makan malam gratis. Enak pula. Ketiga, membawa pulang labu madu. Buah berkhasiat. Yang baru pertama saya kenal.

Keempat. Sengaja saya pisahkan paragrafnya. Karena ini yang paling berharga. Dibanding tiga yang sangat berharga tadi. Saya bertemu sosok inspiratif. Sukses itu hebat. Tapi, inspiratif jauh lebih bermakna. Menurut saya. Belum tahu. Bagaimana respons masyarakat di sekitarnya. Apakah sudah bangkit mengikuti jejak beliau? Atau masih tertegun sebagai penonton? Atau cukup puas menjadi pegawainya? Atau sudah merasa pantas untuk berleha-leha? Menikmati uang sewa lahan? Yang lebih besar daripada hasil bertanam padi atau palawija?

“Kampoeng Djadjan Sumber Mirah” juga wujud kreativitas beliau. Keberanian pula. Inspirasi. Bagi masyarakat sekitar. Letaknya di jalur selatan-selatan Jawa. Menghubungkan dua kabupaten kaya destinasi wisata: Pacitan di Jawa Timur dan Gunungkidul di DIY. Lalu lintas wisatawan ramai. Layak untuk ditiru. Bila masyarakat mau. Menangkap peluang. Mengubah peta ekonomi. Semoga.

*) Tulisan ini pernah tayang di https://www.facebook.com/notes/3612685085419220/


2021/03/15

Merindukan Cetak Biru Pendidikan Nasional

Peta jalan itu memicu kegaduhan. Fenomena ini tidak jauh berbeda dari pengalaman sementara orang ketika bepergian ke suatu tempat yang belum dikenali secara pasti rutenya. Pada era sekarang makin banyak orang mengandalkan jasa peta digital yang aplikasinya bisa diinstal di telepon pintar. Aplikasi canggih ini memang cukup memanjakan. Hanya dengan memasukkan alamat yang hendak dituju, pelawat akan dipandu menyusuri rute menuju alamat tersebut. Tak perlu repot-repot berhenti di sana sini untuk bertanya. Efisien.

Di balik kecanggihannya, adakalanya aplikasi digital membuat penggunanya kesal. Alih-alih menghemat waktu dan jarak tempuh, kadang-kadang pengguna peta virtual itu justru dibawa berputar-putar tak kunjung sampai ke alamat. Bahkan, lebih tragis lagi, ada yang perjalanannya berujung di tempat angker, kuburan misalnya. Dalam situasi demikian, wajar jika penggunaan jasa peta digital berbuntut kekesalan. Tak aneh pula jika kekecewaan itu dilampiaskan dengan gerutu, caci maki, umpatan, atau sumpah serapah.

Suasana menjadi lebih heboh jika di dalam rombongan lawatan itu ada peserta yang merasa tidak diacuhkan. Misalnya, di situ ada orang yang pernah bertandang ke tempat yang dimaksud. Karena sudah berselang lama, dia lupa-lupa ingat rute menuju ke sana. Ketika sampai di simpang jalan, dia sempat menawarkan arah yang berbeda dari arah yang disarankan oleh peta digital. Tetapi tawaran itu diabaikan. Pemegang peta lebih percaya kepada panduan yang diberikan aplikasi. Setelah terbukti aplikasi canggih itu menyesatkan, dia mendongkol. Perasaan serupa bisa menimpa anggota rombongan yang sempat menyarankan untuk bertanya kepada orang-orang yang dijumpai di perjalanan tetapi tidak dipedulikan oleh pengendali rute. Tidak mustahil, hal itu memicu pertikaian antarpeserta lawatan.

Boleh jadi, kegaduhan dalam menanggapi Peta Jalan Pendidikan Nasional 2020--2035 itu analog dengan ilustrasi di atas. Sebagai pemegang kekuasaan eksekutif dalam urusan pendidikan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud)--saya tidak tega untuk mengalamatkan kepada pribadi Menteri Nadiem--mengandalkan "teropong" mutakhir untuk melakukan pengindraan masa depan pendidikan nasional. Proyeksi yang dihasilkan kemudian dipakai sebagai pijakan untuk merumuskan "peta jalur pelayaran" dari 2020 menuju 2035.

Satu hal yang tampaknya dilupakan Kemdikbud adalah bahwa bahtera pendidikan nasional yang sedang dinakhodai itu kini (2020) sudah berada di tengah samudra, bukan baru ancang-ancang di dermaga. Ada banyak kru yang punya andil dalam sejarah perjalanan kapal itu. Ada yang turut menambal lambung kapal untuk menyelamatkan kapal dari ancaman tenggelam akibat kebocoran. Ada yang turut membentangkan layar untuk menyelamatkan arah perjalanan kapal dari guncangan badai. Ada yang turut mengangkat jangkar ketika kapal baru hendak berangkat dari dermaga. Ada yang turut membangun dermaga dan membuang sauh ketika kapal baru hendak bersandar. Bahkan ada yang berjibaku mengerjakan rancang bangun, membuat kerangka, hingga menyelesaikan prototipenya di galangan sejak kapal raksasa itu belum terbentuk.

Mereka paham bahan-bahan dan desain pembentuk kapal yang kini tengah berlayar di laut lepas itu. Mereka tahu perbekalan dan perlengkapan yang diperlukan untuk melanjutkan pelayaran nirwatas itu. Mereka sudah mengenali karakter angin, ombak, dan badai yang selama ini kerap hadir sebagai ancaman dan tantangan yang mesti ditaklukkan. Mereka hafal laku tirakat dan mantra yang terbukti ampuh untuk menyingkirkan gangguan makhluk halus yang sering muncul di koordinat-koordinat tertentu.

Memang, kru-kru yang punya peran historis dalam perjalanan bahtera pendidikan nasional itu sudah mengalami sekian kali alih generasi. Namun, tidak disangsikan lagi, peralihan dari generasi ke generasi itu selalu dibarengi dengan pewarisan nilai-nilai, semangat, dan jiwa arung samudra yang tak pernah luntur. Hampir dapat dipastikan, hingga generasi kapan pun nilai-nilai luhur yang diwarisi dari pendahulu mereka itu akan dipegang teguh sepenuh keyakinan. Tidak ada perubahan yang dapat menawar keyakinan yang mendarah daging itu.

Zaman terus berubah, yang kadang terasa begitu cepat dan mengagetkan. Pendidikan menjadi sektor kehidupan yang mutlak dituntut untuk beradaptasi terhadap perubahan yang tengah berlangsung sekaligus mengantisipasi tren perubahan yang akan terjadi. Di situlah peta jalan untuk memandu arah pembangunan pendidikan nasional dari masa kini menuju sekian masa ke depan menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditawar.

Saya tidak paham persis, apa perbedaan antara peta jalan (road map) dan cetak biru (blue print). Dugaan saya, cetak biru semestinya mendahului peta jalan. Ibarat perencanaan pembangunan rumah, cetak biru adalah gambar rencana; dikerjakan oleh arsitek. Sedangkan peta jalan ibarat rencana pelaksanaan pembangunannya; dikerjakan oleh kontraktor.

Jika analogi ini benar, muncul pertanyaan mendasar, di mana posisi Kemdikbud: arsitek atau kontraktor? Atau, arsitek sekaligus kontraktor? 

Menurut hemat saya, kedudukan dan peran Kemdikbud--demikian pula kementerian-kementerian yang lain--lebih tepat sebagai kontraktor. Bukankah otoritas kementerian dalam hal eksekusi program berbatas waktu sesuai periode kerja kabinet bentukan Presiden? Betul, lembaga kementeriannya tidak akan bubar meski nomenklaturnya cenderung berubah-ubah. Namun tak dapat dimungkiri bahwa langgam kementerian sulit dipisahkan dari gaya dan selera menteri yang memimpinnya.

Jika demikian, lantas siapa yang berperan sebagai arsitek yang diberi kewenangan membuat cetak biru pendidikan nasional itu? Inilah yang perlu digodok melalui kolaborasi jernih. Dulu, ketika terbit Peraturan Pemerintah tentang Standar Nasional Pendidikan (PP 19/2005), saya berasumsi Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP)-lah yang akan diserahi amanah ini. Ternyata, hingga generasi keempat ini, BSNP tidak pernah menyentuh perumusan cetak biru itu. 

Lalu siapa?

*) Tulisan ini juga dapat dibaca di Kompasiana

2021/03/12

Ketika Semua Harus (Bisa) Menulis

“Halhaaah ... yang penting kamu itu nulis!” 

Begitu, komentar salah seorang guru saya atas keputus(asa)an saya. Tiga huruf di dalam kurung itu opsional: boleh dipakai, boleh juga tidak dipakai. Ada unsur keputusasaan, memang. Akibat kegagalan saya untuk meyakinkan seseorang. Bahwa argumentasi di dalam prosposal saya benar. Secara empiris. Pun solusi yang saya tawarkan. Rasional. Prospektif.

Penolakan atas proposal nakal itu kemudian mengantarkan saya ke sebuah keputusan. Bulat. Memutus rantai ritual akademik. 

Yang penting menulis. Itulah pengakuan jujur dari guru saya itu. Memang, kesimpulan saya, mata rantai yang saya tampik itu beraroma “yang penting menulis”. Tidak harus “menulis yang penting”. Bahkan, praktiknya bisa lebih parah lagi: yang penting setor tulisan. Entah karya sendiri atau belian.

Semua harus menulis. Fardu ain ini sekarang tidak hanya berlaku sebagai ritual untuk memperoleh titel akademik terentu. Syariatnya sudah merambah ke dunia kerja. Menjadi syarat untuk kenaikan pangkat. Atau jabatan? Saya kurang paham.

Yang masih tetap saya kenali: aromanya. Yang penting menulis. Kalau perlu, yang penting setor tulisan. Tak ada uji autentisitas. Toh, itu rumit. Menguras energi.

Dulu, ketika belum musim media digital, saya agak rakus berburu artikel. Di koran-koran. Efektif. Untuk mengasah nalar. Rata-rata cukup begizi. Tentu, ada juga—beberapa—tulisan yang ala kadarnya. Kesan saya: seperti dipaksakan. Titipan, mungkin.

Belakangan, saya jadi malas. Tidak rakus lagi untuk berburu artikel koran. Jenuh, mungkin. Atau kemlakaren. Sudah porsinya banyak, hambar pula. Bayangkan! Dalam satu hari, satu koran bisa memuat 20 artikel. Empat halaman. Masing-masing lima artikel. Secara kualitatif, bahasan dan bahasanya membuat lekas jenuh. Secara kuantitatif, jumlah hidangannya membuat cepat kenyang. Tidak sekadar kekenyangan. Tapi juga menjadikan idle (sempat berhenti lama, mencari-cari padanannya; dan gagal). Dua kondisi itulah yang di dalam bahasa Jawa terwakili oleh satu kata: kemlakaren.

Padahal, dulu biasanya setiap koran memuat hanya dua artikel per edisi. Ada juga yang tiga. Sedikit tapi lezat. Tidak mengenyangkan. Justru membuat makin lapar (biar tidak selalu memakai kata “haus” melulu). 

Mengapa sekarang koran mendadak royal begitu? Itulah ketika semua (yang ingin naik pangkat) harus menulis. Yang penting menulis. Tidak harus menulis yang penting. Tidak penting, yang ditulis itu penting atau tidak. Yang penting menulis. Bahkan, kalau genting, yang penting setor tulisan. Asal, namanya tercacat sebagai penulis. Pada tulisan yang tidak begitu penting itu.

Alkisah, ada seorang aparatur. Titelnya ganda. Berarti, setidaknya sudah 2 kali namanya tercatat sebagai penulis. Pada karya tulis kategori rumit.

Demi mengejar kenaikan pangkat, ia harus menulis artikel. Harus dimuat di media. Datanglah ia menemui orang yang nihil titel. Akibat menolak tuntutan menulis rumit itu. 

Ia utarakan maksud kedatangannya. Ingin dibantu menulis artikel. Ruang di media sudah tersedia. Katanya, redaktur media yang bersangkutan mengundang tulisannya. Tema sudah ditentukan. Ia juga menunjukkan sejumlah artikelnya yang sudah terbit di beberapa media. 

Mulailah timbul pertanyaan: bantuan apa lagi yang dibutuhkan? Media untuk menampung tulisannya sudah ada. Tema sudah oke. Pengalaman menulis artikel sudah cukup. Apa lagi yang dibutuhkan. 

“Saya ini lagi fokus pada tulisan yang lain,” katanya. 

O, mulai terbaca maksudnya. Ia kekurangan tangan. Butuh tangan lain untuk menuliskan isi kepalanya. Si calon asisten—untuk menghaluskan sebutan—tanggap. Dia (biar tidak rancu dengan ia; dan mulai dari sini, Pembaca harus membedakan antara IA dan DIA) minta bahan-bahan yang dibutuhkan untuk diramu menjadi artikel. Sesuai dengan tema yang disodorkan redaktur.

“Itu bisa dicari di YouTube, ya, Pak?” jawabnya. Eh, tanyanya. (PEMBACA HARUS TERSENYUM. TERTAWA TERBAHAK-BAHAK—ASAL JANGAN KETAHUAN GUS BAHA’—JUGA BOLEH).

Dia tidak merespons. Kecuali di dalam hati saja. Lalu dia mengejar, “Barangkali ada regulasi yang bisa dijadikan landasan hukumnya, Pak?”

Tidak dapat dipastikan, ia sadar atau tidak bahwa dia sedang mengujinya. Hari berikutnya ia kirimkan beberapa dokumen. Dia buka, tak satu pun di antara dokumen-dokumen itu match dengan tema. 

Ya sudah. Dia berburu sendiri. Ketemu. Beberapa regulasi. Nyambung. Bahkan ada satu keping transkripsi pidato. Kena banget untuk pijakan mengembangkan gagasan.

Jadilah secarik artikel. Sesuai dengan tema. Panjangnya sudah diukur. Relatif sama dengan kapasitas halaman media yang dituju. Artikel dikirim kepada ia, si pemesan. 

Ia puas. Pas banget, katanya. Dia pikir, selesai sudah urusannya dengan pekerjaan itu. Ternyata ....

Ia kembali datang. Membawa wajah muram. Setelah sebelumnya mengirimkan pesan: artikel 7.000 karakter spasi 1,5. Tak mudah dipahami maksud pesan itu. 

Ternyata, halaman yang—katanya—dijanjikan oleh redaktur sebuah media internal itu zonk (ikut-ikutan generasi milenial saja; saya tak tahu asal-muasal kata zonk itu). Lalu ia hendak menembak media lain. Tergolong media besar pada zamannya. Katanya sudah menghubungi pemimpin redaksinya. Tapi nama yang disebut itu sudah hilang dari susunan organisasi media yang dimaksud. 

Dia makin bingung. Urusan apa lagi yang mesti dibantu? Ternyata, ia minta saran demi melancarkan tembakannya. Wah, berat. Dia sendiri sudah frustrasi untuk mengirim artikel ke media itu. 

Dia berburu informasi. Untuk menemukan dua hal: alamat pos-el dan aturan panjang artikel. Ketemu. Dia buka berkas artikel buatannya dulu itu. Sudah memenuhi kriteria. Jumlah karakter kelebihan sedikit. Tidak perlu dirombak. Masih dalam batas toleransi. 

Ia tanyakan alamat email untuk mengirim artikelnya. Dia buatkan kontak di akunnya, akun ia. Dia tunjukkan cara menampilkan alamat pos-el (saya ragu ejaan bakunya, memakai tanda hubung atau tidak) media itu ketika hendak mengirim surel. 

Respons verbalnya menunjukkan bahwa ia mengerti. Tapi dia ragu, ia benar-benar paham atau hanya pura-pura mengerti. Lalu dia bilang, biasanya media memerlukan biodata penulis. Ia minta contoh. Dia janjikan nanti. Karena dia harus mengerjakan tugas wajibnya. Yang dia dibayar karenanya. 

Contoh biodata terkirim sudah. Beserta contoh surat pengantar. Lamaran untuk menerbitkan artikel. 

Ia mengirim balik surat pengantar buatannya. Minta koreksi. Dia buka. “Ah, kenapa mesti diketik ulang? Bukankah lebih simpel kalau mengganti isinya saja?” batinnya. Dia tahu, surat itu hasil ketikan ulang. Ejaanya berubah (baca: bubrah).

Koreksi selesai. Berkas dikirim balik. Diterima. Buktinya, muncul ucapan terima kasih. Hehehe. Tapi, anehnya ....

Ucapan terima kasih itu diikuti permintaan: alamat posel (kali ini saya tidak ragu lagi, posel ditulis tanpa tanda hubung) media yang diincarnya. Nah, akhirnya terjawab juga keraguannya (keraguan dia). Bahwa sebenarnya ia benar-benar tidak paham ketika dijelaskan kepadanya cara memanggil alamat posel. Jadi, yang benar, ia benar-benar tidak lulus mata kuliah cara bersurel itu.

Sebagai asisten yang baik hati (setidaknya, biar dianggap begitu) dia membalas permintaan itu dengan tutorial berkirim berkas via posel. Semoga ia lulus. Amin.

Kali lain, mbok tidak usah bertipu daya. Setidaknya, kepada diri sendiri. Dengan tidak menipu diri sendiri, dijamin pasti tidak menipu siapa pun. Dan, sedapat mungkin, tak usah berusaha menipu dia. Kalau nekat, ini risikonya: menjadi sasaran doa buruk. Begini, misalnya: semoga artikel itu gagal menemukan ruang tayang. (Siapa tahu, terkabulnya doa buruk itu mengantarkan keduanya—ia dan dia—ke kondisi baik.)

Semua (aparatur) dituntut menulis itu bagus. Menjadi tidak sempurna bagusnya jika tuntutan itu tidak dibarengi tuntunan agar semua BISA menulis. Tulisan yang layak baca (apalagi, laku di media massa) tentu hanya bisa dihasilkan oleh mereka yang bisa menulis. Untuk bisa menulis, tentu siapa pun mesti belajar dan berlatih menulis. Belajar dan berlatih menulis itu tentu proses yang tidak bisa diinstankan seperti mi atau teh. Yang membutuhkan pengakuan sebagai penulis, silakan ikuti prosesnya secara benar dan wajar. Jangan lupa, minta dikawal pasukan andal: sabar.

Yang membuat saya masygul: (1) benarkah menulis (baca: memajang tulisan di media) itu menjadi syarat wajib untuk kenaikan pangkat? (2) jika ya, apakah tulisan itu harus berupa artikel? (3) adakah sanksi tambahan bagi aparatur (selain konsekuensi tidak naik pangkat) yang gagal memenuhi syarat wajib itu?

Bukankah masih amat banyak (untuk mengenang lagu Bintang Kecil) rupa karya yang layak diapresiasi dan diakui sebagai prestasi aparatur? Aneka corak gambar dan lukisan karya Pak Guru Didik Cahlorkidul itu kan juga layak di-cangking bersama keranjang portofolio unjuk kerjanya.

*) Keterangan: Akhirnya artikel itu dimuat di media incarannya. Tapi di versi online. Bukan cetak.


2020/10/17

Berkorban untuk Berkurban

 السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ هَدَانَالِهٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا اَنْ هَدَانَا اللهُ

اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهٗ لَا شَرِيْكَ لَهٗ

 وَاَشْهَدُ انَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهٗ وَرَسُوْلُهٗ لَا نَبِيَّ بَعْدَهٗ

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلٰي نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ

وَعَلٰي آلِهٖ وَاَصْحَابِهٖ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسٰنٍ اِلٰي يَوْمِ الْقِيٰمَةِ

يٰٓأَيُّهَا الّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَ اَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَ لِلّٰهِ الْحَمْدُ

Kaum muslimin, yang dimuliakan Allah,

Hari ini, Jumat, 31 Juli 2020 Miladiyyah bertepatan dengan 10 Zulhijah 1441 Hijriyyah, Allah subānahū wa ta`ālā izinkan kita berjumpa dengan hari raya Iduladha.

Tiada kalimat yang lebih pantas untuk kita ucapkan daripada ungkapan syukur اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ. Umur panjang ini semata-mata karunia Allah, Zat Yang Maha Pemurah, bukan karena kecermatan dan disiplin kita merawat kesehatan tubuh. Betapa sering kita mendengar kabar tentang seseorang yang sehat dan bugar mendadak bertemu ajal, entah melalui ataupun tanpa melalui peristiwa yang oleh nalar kita bisa diterima sebagai sebab kematiannya. Sebaliknya, betapa banyak kita saksikan pasien kronis yang hingga belasan tahun tak kunjung dijemput ajal.

Mudah-mudahan anugerah umur panjang ini dapat kita berdayakan sebagai modal untuk memerkokoh iman dan takwa kita kepada Allah subānahū wa ta`ālā.

اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اكْبَرُ اَللهُ اكْبَرُ وَ لِلّٰهِ الْحَمْدُ

Salah satu jalan menuju puncak takwa adalah kerelaan untuk berkorban. Sebagaimana hari ini kita kenang kisahnya, khalīlullāh Nabi Ibrahim `alaihissalām telah ditampilkan sebagai sosok teladan dalam menjiwai spirit berkorban. Sepenggal kisah Nabi Ibrahim `alaihissalām beserta keluarga beliau bisa kita simak di dalam Alquran surat As-Ṣāffāt ayat 99—110.

اعوذ با لله من الشيطن الرجيم

وَقَالَ اِنِّيْ ذَاهِبٌ اِلٰى رَبِّيْ سَيَهْدِيْنِ ٩٩ رَبِّ هَبْ لِيْ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ ١٠٠ فَبَشَّرْنٰهُ بِغُلٰمٍ حَلِيْمٍ ١٠١ فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ ١٠٢ فَلَمَّآ اَسْلَمَا وَتَلَّهٗ لِلْجَبِيْنِۚ ١٠٣ وَنَادَيْنٰهُ اَنْ يّٰٓاِبْرٰهِيْمُ ۙ ١٠٤ قَدْ صَدَّقْتَ الرُّءْيَا ۚاِنَّا كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ ١٠٥ اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْبَلٰۤؤُا الْمُبِيْنُ ١٠٦ وَفَدَيْنٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيْمٍ ١٠٧ وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِى الْاٰخِرِيْنَ ۖ ١٠٨ سَلٰمٌ عَلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ ١٠٩ كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ ١١٠


 [99]—Dan Ibrahim berkata, “Sungguh, aku harus pergi menghadap Tuhanku, Dia akan memberiku petunjuk. [100]—Ya, Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (anak) yang termasuk golongan orang-orang saleh.”

[101]—Maka Kami gembirakan ia dengan berita (kelahiran) seorang anak yang halīm (Ismail). [102]—Maka ketika anak itu (Ismail) mencapai usia sanggup berusaha bersamanya, Ibrahim berkata, “Wahai, anakku! Sungguh aku telah melihat dalam mimpiku, aku diperintah untuk menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Ismail menjawab, “Wahai, ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu; insyaallah Ayah akan mendapati aku termasuk orang yang sabar.”

[103]—Maka ketika keduanya telah pasrah, Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya, (siap menyembelih). [104]—Lalu Kami panggil dia, “Wahai Ibrahim! [105]—Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.” Sungguh, demikianlah Kami membalas orang-orang muhsin.

[106]—Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. [107]—Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. [108]—Dan Kami abadikan pujian untuk Ibrahim di kalangan generasi belakangan, [109]—“Selamat sejahtera atas Ibrahim.”

[110]—Demikianlah Kami membalas orang-orang muhsin.[110]

اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اكْبَرُ اَللهُ اكْبَرُ وَ لِلّٰهِ الْحَمْدُ

Kehadiran janin di rahim Ibunda Hajar adalah kabar gembira yang luar biasa dampaknya dalam membesarkan hati Ibrahim. Kehamilan Siti Hajar menjadi pelipur lara Ibrahim setelah berpuluh tahun berumah tangga dengan Siti Sarah tanpa keturunan. Sedangkan kerelaan untuk menikahi Siti Hajar itu pun merupakan keputusan pahit. Betapa tidak! Hajar adalah budak Ibunda Siti Sarah, istri Nabi Ibrahim yang tak kunjung membuahkan keturunan. Dalam pandangan mata lelaki normal, Hajar adalah perempuan yang jauh di bawah standar. Selain statusnya sebagai budak, kulitnya hitam selegam batu candi. Barangkali itulah alasan dia berjuluk “Hajar” (batu).

Di tengah suka cita menyambut kelahiran Ismail, Nabi Ibrahim diperintah untuk memboyong bayi merah itu bersama ibunya ke gurun kering nan tandus, Mekah. Di tengah gurun pasir gersang dan jauh dari permukiman itulah, Siti Hajar yang baru melahirkan ditinggal berdua dengan oroknya yang belum bisa mengasup makanan selain air susu ibunya. Perempuan mana yang tidak hancur hatinya? Suami mana yang tidak bercucuran air mata meninggalkan istri dan bayinya di belantara alam yang ganas semacam itu?

Kelak, ketika sedang senang-senangnya menyaksikan Ismail tumbuh menjadi remaja gagah nan santun, kembali Ibrahim menerima perintah absurd: menyembelih sang putra terkasih!

اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اكْبَرُ اَللهُ اكْبَرُ وَ لِلّٰهِ الْحَمْدُ

Menikahi budak istrinya, menitipkan istri dan bayinya kepada tanah gersang yang nyaris tanpa kehidupan, menyembelih anak remajanya yang tengah melambungkan harapan masa depan ... itu semua lebih dari cukup untuk disebut sebagai pengorbanan.

Ya, Nabi Ibrahim `alaihissalām adalah sosok teladan pemilik jiwa yang sarat spirit pengorbanan. Dan keluarga beliau adalah teladan keluarga yang terdidik dan tercelup dalam telaga nilai-nilai pengorbanan.

Apa yang dikorbankan Ibrahim `alaihissalām dan keluarganya? Dan untuk apa mereka rela mengorbankan semua itu? Dari ego ke superego. Itulah transformasi mental yang dilalui Ibrahim dan keluarganya: mengorbankan ego (berkorban) untuk meraih puncak keluhuran superego (berkurban).

Kemesraan memadu kasih dengan istri cantik rupawan adalah kepuasan ego; sedangkan menikahi perempuan budak dekil demi menyambung rantai pewarisan generasi saleh adalah keluhuran superego (Siti Hajar melahirkan Ismail, yang kelak menurunkan nabi dan rasul pamungkas, Muhammad ).

Kegembiraan menimang bayi molek adalah kesenangan ego; sedangkan mengungsikan orok merah yang baru bisa tergolek lemah ke gurun yang tandus bersama ibunya yang masih letih pascapersalinan adalah panggilan superego (kehadiran bayi Ismail dan Siti Hajar kelak menjadi wasilah bagi lahirnya Kota Mekah yang aman dan makmur hingga kini).

Keseruan ngudang anak perjaka yang tengah beranjak dewasa adalah kebanggaan ego; sementara, kesabaran dalam menerima dan menunaikan perintah menyembelih putra kesayangan adalah kemenangan superego (kelak, ritual penyembelihan ini menjadi wasilah tersebarnya rezeki dalam aneka rupa: gizi bagi penerima daging hewan kurban, laba bagi pedagang dan peternak hewan kurban, dan seterusnya).

Nabi Ibrahim dan keluarganya adalah teladan paripurna praktik berkorban untuk berkurban: mengorbankan hak-hak pribadi (kekuasaan ego) demi meraih kurban (keintiman dengan Allah almaliku alaq, Pemelihara keluhuran superego). Pantaslah jika selawat atas keluarga beliau selalu bersanding dengan selawat atas Rasulullah Muhammad di dalam setiap salat kita.

اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اكْبَرُ اَللهُ اكْبَرُ وَ لِلّٰهِ الْحَمْدُ

Di setiap waktu dan tempat, kita punya kesempatan untuk meneladani karakter luhur keluarga Nabi Ibrahim: berkorban untuk berkurban.

Seperti saat ini, misalnya. Bernapas secara leluasa adalah hak kita. Namun, akibat bermasker, napas kita terasa sedikit berat. Pada tiap tarikan napas, volume udara yang kita hirup tidak bisa maksimal karena terhalang lapisan masker yang menutupi lubang hidung. Sedangkan karbon dioksida (CO2) yang keluar bersama embusan napas terkurung oleh masker yang sama. Akibatnya, sebagian limbah pernapasan itu terhirup kembali ke paru-paru kita. Hari-hari ini, selama masa pandemi Covid-19, kita korbankan ego untuk menikmati pernapasan secara lega dan leluasa.

Demi apa? Demi memperkecil risiko tertular atau menularkan virus korona. Memang di antara kita ada yang terpapar virus? Justru karena tidak ada kepastian ada paparan atau tidak itulah, superego kita mengajak berikhtiar, sebagaimana dicontohkan keluarga Ibrahim. Adakah diagnosis bahwa Ibunda Sarah mandul dan Siti Hajar subur? Tidak ada. Adakah vonis bahwa Ibrahim tidak punya keturunan jika tidak menikahi Siti Hajar? Tidak ada. Bahkan, kenyataannya kelak lahirlah Ishaq dari rahim Ibunda Sarah. Pun Ibrahim yakin, tidak sulit bagi Allah untuk memberikan keturunan tanpa sebab apa pun kepada beliau, hamba yang dinobatkan sebagai kekasih-Nya.

Ketika berkemah di padang pasir, mengapa Ibunda Siti Hajar mesti bersusah payah lari bolak-balik antara Sofa dan Marwa demi menemukan sumber air untuk menyambung hidup diri dan buah hatinya? Tidak yakinkah dia bahwa suaminya adalah kekasih Allah, sehingga mudah baginya untuk meminta Allah memenuhi apa pun kebutuhannya? Lalu, ketika mendapati air yang dicarinya ke sana kemari justru keluar di sekitar kaki bayinya, menyesalkah Siti Hajar atas usahanya yang menguras energi belaka? Sama sekali tidak!

Begitulah ikhtiar. Nabi Ibrahim sang kekasih Allah saja tak pernah merasa pantas untuk meninggalkan ikhtiar. Mengapa? Karena di dalam ikhtiar terkandung dua pesan. Pertama, manusia dinilai berdasarkan ikhtiarnya; karena hanya berikhtiar itulah hak manusia, sedangkan menentukan hasilnya menjadi hak mutlak Allah semata. Kedua, manusia selayaknya tawaduk menghormati privasi Allah. Takdir adalah rahasia Allah yang tidak layak untuk diintip oleh makhluk-Nya. Jika manusia enggan berikhtiar, seolah-olah ia jemawa, sudah menerima bocoran takdir Allah.

اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اكْبَرُ اَللهُ اكْبَرُ وَ لِلّٰهِ الْحَمْدُ

Mari, kita pungkasi khutbah pagi ini dengan berdoa, semoga Allah anugerahkan kepada kita kecerdasan hati dan nalar untuk meneladani sifat-sifat utama Nabi Ibrahim dan ahli baitnya.

 

اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰي نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰي آلِهٖ وَاَصْحَابِهٖ

وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسٰنٍ اِلٰي يَوْمِ الدِّيْنِ

وَاجْعَلنَا مِنْهُمْ بِرَحْمَتِكَ يٰٓاَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ

اَلأَحْيَآءِ مِنْهُم وَالْأَمْوَاتِ

اِنَّكَ السَّمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ

رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَ اِنْ لَمْ تَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ

رَبَّنَا فَاغْفِرْلَنَا ذُنُوْبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ

اَللّٰهُمَّ اَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهٗ

وَاَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ

رَبَّنَا لَاتُزِغْ قُلُوْبَنَابَعْدَ اِذْهَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَامِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابِ

رَبّنَا لَا تُأٓ خِذْنَا اِنْ نَسِيْنَا اَوْ اَخْطَأْ نَا

رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهٗ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا

رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَابِهٖ

وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْلَنَا وَارْحَمنَآ اَنْتَ مَوْلٰى نَا فَانْصُرنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ

رَبَّنَا اغْفِرلَنَا ذُنُوْبَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وْارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّيَانَا صَغِيْرًا

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَا اِمَامًا

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنَ الصَّالِحِيْنَ

رَبّنَآ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْأٓخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

رَبَّنَا تَقَبلْ مِنَّا اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمِ وَتُبْ عَلَيْنَا اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمِ

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ

وَالْحَمدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

 

وَالسلام عليكم ورحمة الله وبركاته


*) Khutbah Iduladha 1441 H di Masjid Jami` Ar-Ridho Bukit Kencana Jaya Semarang

2020/01/23

Memuliakan Tamu

Prof Furqon menghadiahkan 3 buku karyanya kepada SMA Islam Hidayatullah Semarang
Solo, 11-01-2020

Saya lagi beruntung. Atau, lebih tepatnya: saya beruntung lagi. Di luar rencana, tetiba mendapat kesempatan jalan-jalan. Tidak jauh, memang. Sekitar 1 jam dari kota pangkalan. Mendadak didaulat untuk mewakili pimpinan. Membersamai teman-teman seperjuangan: para guru dan tenaga kependidikan Smaha Hebat. Silaturahmi ke saudara tua: SMA Al-Islam 1 Surakarta. Sembari kulak kawruh. Ikhtiar untuk selalu berbenah.

Jarum jam masih lumayan jauh menuju angka 8. Rombongan kami tiba di tempat tujuan. Di Jalan Honggowongso. Kelurahan Panularan. Kecamatan Laweyan. Sopir bus sempat bingung mencari tempat parkir. Agar tidak mengganggu lalu lintas. Sementara, bus menepi dan berhenti di seberang Sekolah. Beberapa penumpang turun. Lalu berjalan menyeberang. Tidak lama kemudian, datang seorang petugas. Memandu bus untuk kembali berjalan, berputar balik beberapa meter di depan, dan berparkir di depan Sekolah. Di sebelah kiri gerbang. Berbagi bahu jalan dengan dua deret sepeda motor yang sudah lebih dulu diparkir.

Seluruh sisa rombongan turun. Tanpa harus menyeberang jalan. Regu penerima tamu sudah bersiap. Berjajar satu lapis mulai dari gerbang. Mengular hingga tangga menuju aula. Menyambut kedatangan kami. Dengan senyuman ramah mengembang. Melengkapi ucapan tulus selamat datang. Juga jabat tangan dengan tamu berjenis kelamin sama. Kepada yang berbeda jenis kelamin, cukup dengan menangkupkan kedua tangan di depan dada.

Kami disilakan masuk ke aula. Di lantai dua. Satu per satu mengisi daftar hadir. Lalu duduk di kursi-kursi yang sudah tertata rapi. Tak lama berselang, regu sinoman menyusul. Menyangga baki-baki. Masing-masing berisi sejumlah dus, botol air mineral, dan gelas teh. Satu per satu muatan baki diturunkan, ditata rapi di atas meja bertaplak batik. Pramusaji menjulurkan tangan kanan. Ibu jari terbuka, diacungkan ke kudapan yang sudah tersaji. Bibir tersenyum lebar. Sambil berucap, “Mangga.”

Begitulah Solo, julukan populer untuk Kota Surakarta. Sampai hari ini masih setia menjadi Jawa. Tak peduli dengan kehadiran era revolusi 4.0. Yang memicu hiruk pikuk itu. Kultur Jawa Soloensis tetap eksis. Belum tega menyerahkan hidangan kepada tamu langsung dari tangan ke tangan. Seperti transaksi dengan pengemis. Apalagi, mendistribusikan makanan dan minuman secara berantai. Yang kadang penyampaiannya setengah dilempar. Mirip pembagian sembako kepada kaum fakir. Yang rela berjam-jam berdesakan memadati halaman luas di depan rumah besar nan mewah. Atau, berlepotan lumpur di lapangan desa yang becek setelah diguyur hujan semalam. Demi memperebutkan sedekah dari dermawan berlimpah harta.

Sejumlah meja ditata menyela deretan kursi. Suguhan makanan dan minuman diparkir di atasnya. Tamu-tamu tak perlu repot memegang botol atau gelas minuman dan memangku kotak kudapan. Atau, bersusah payah mencari titik aman untuk menaruhnya di bawah atau sekitar kursi. Selain menyusahkan, gaya nyuguh tamu ala pengungsian itu juga mengandung unsur penistaan terhadap makanan/minuman.

Hidup tak selalu cukup dengan pragmatisme. Meski sudah ada air minum dalam kemasan, kami tetap disuguhi teh manis hangat. Manis adalah simbol. Kami disambut dengan sepenuh ketulusan hati. Itu terpancar jelas pada berpuluh-puluh muka yang menyambut kehadiran kami. Lengkap dengan tatapan mata bersahabat dan sunggingan senyum ramah. Hangat adalah sasmita. Bahwa kami diterima dengan sepenuh kehangatan jiwa. Itu sungguh terasa dalam jabat tangan yang erat. Kami diterima dan diakui sebagai saudara. Tak bersyarat. Teh manis hangat. Disajikan dalam gelas. Memantik sentuhan langsung. Bibir gelas dan bibir si peminum. Tak berjarak. Tak berantara.

Solo: the spirit of Java. Masih begitu terasa.

Oleh pimpinan rombongan, saya didudukkan di barisan kursi terdepan. Bersama beberapa anggota rombongan. Tersisa satu kursi. Paling kanan. Di deretan kami. Datang kemudian seseorang. Berbaju batik bermotif sederhana. Bukan batik berkelas, dugaan saya. Berpeci hitam. Khas peci orang biasa. Berjalan memasuki aula. Seorang diri. Menyalami kami yang duduk di tepi. Mulai dari belakang. Sampai di baris terdepan lalu belok kanan. Akhirnya berlabuh di kursi paling kanan. Yang belum berpenghuni tadi. Selisih satu kursi di sebelah kanan saya.

Saya mulai menduga-duga: apakah ia pengurus Yayasan? Yang didaulat untuk menyampaikan pidato sambutan? Yang bersangkutan tak kunjung berkata-kata. Masih betah duduk dengan santainya. Teman sebelah saya, yang duduk persis di sebelahnya, juga tampak tidak berminat untuk mengajaknya berbincang. Terpaksa saya dikte. Dengan membisikkan pertanyaan, “Apakah Bapak itu pengurus Yayasan?” Teman saya menoleh ke Bapak di sebelah kanannya. Mewakili penasaran saya, “Nuwun sewu, Bapak pengurus Yayasan?” “Inggih,” jawaban Bapak yang ditanya. Percakapan pun berakhir. Dengan skor 1 : 1. Rupanya, teman yang satu ini telanjur dominan unsur asamnya. Kurang piawai berbasa basi.

Upacara penyambutan pun dimulai. Pewara memegang mikrofon. Setelah salamnya dijawab serempak, ia lalu menyapa hadirin. Mulai dari pihak yang paling dituakan. “Yang terhormat, Ketua Yayasan, Profesor Doktor Haji Muhammad Furqon Hidayatullah, eMPede ...,” sebutnya.

Deg! ... Pyarrr ...! Serasa pecah dada saya. Ambyar! Saya tersipu. Nama yang sudah cukup lama akrab di telinga, eh, mata saya. Dulu sering saya jumpai di halaman media massa. Liputan kiprahnya. Atau kutipan pandangan dan pendapatnya. Menyangkut isu-isu aktual. Seputar pendidikan. Sayangnya, saya hanya mengakrabi namanya. Wajahnya, tidak saya kenali. Hingga hari ini kehadirannya saya cuekkan. Padahal duduk sebaris. Hanya tersekat satu orang.

Masih sambil berusaha menyembunyikan perasaan berdosa. Saya rogoh dan keluarkan ponsel dari saku jaket. Saya ketik nama itu. Untuk berburu informasi terkini. Apa jabatan beliau (nah, mulai dari sini saya pakai kata ganti beliau) sekarang? Tak mau kehilangan jejak mutakhir. Maklum, terbilang cukup lama saya tidak mendapati nama beliau di media. Akibat saya tidak sesering dulu memelototi media cetak. Yang masih saya ingat, berita tentang pencalonan beliau sebagai rektor. UNS, tentu. Kampus yang sempat mencantumkan nama saya. Sebagai calon cantrik di salah satu program studi diploma. Namun saya batal melakoninya. Demi menepati akad yang lebih dulu memastikan status saya. Kampus lain di kota lain.

Berselancar sejenak, akhirnya saya temukan profil mutakhir beliau. Direktur Pascasarjana. Tertulis: sejak 2015. Setelah menuntaskan jabatan Dekan FKIP dua periode. Tampaknya beliau hanya menjabat satu periode. Berarti berakhir pada 2019. Di laman https://uns.ac.id/id/tentang-uns/pimpinan-unit-kerja tercantum nama lain pada jabatan itu.

Lagi-lagi, saya dibuat terbelalak. Kami hanya rombongan anak-anak ingusan. Ditakar secara kualitatif maupun kuantitatif, kami terlampau kecil. Diterima oleh Kepala Sekolah saja sudah merasa terhormat. Kenapa musti diterima langsung oleh Ketua Yayasan? Yang adalah seorang guru besar? Yang mantan dekan dua periode? Yang juga pernah menjabat Direktur Pascasarjana? Di perguruan tinggi negeri yang cukup besar? Kontan, kami merasa tersanjung. Harga diri kami melambung.

Sungguh! Teladan berharga dari saudara tua: adab menghormati tamu. Pendidikan karakter yang konkret. Yang luput dari target observasi kami. Barangkali karena kami (eh, diganti saya saja, biar aman) terlalu jemawa. Merasa sudah mengkhatamkan pelajaran akhlak terhadap tamu. Secara tekstual saya memang hafal pesan (lafaz dan tulisannya) teladan utama dan guru paripurna saya. Tentang akhlak terhadap tamu itu. Yang artinya begini: “Sesiapa yang mengaku beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah memuliakan tamunya.”

Namun, saya gagal merumuskan SOP-nya. Belum apa-apa sudah menyerah. Merasa tidak menemukan petunjuk teknisnya. Kedunguan telah membutakan saya. Hingga tak sanggup menangkap makna pesan “memuliakan tamu” itu dalam etika luhur warisan leluhur. Prinsip gupuh, yang mengejawantah dalam optimalisasi aruh, lungguh, dan suguh mestinya dipahami sebagai kearifan lokal. Yang 100% akur dengan konsep memuliakan tamu. Yang sahih untuk diangkat sebagai tafsir kontekstual atas pesan tekstual itu. Yang layak belaka dijadikan prosedur operasional standar pengamalan autentik atas sunah qauliyah itu. Atau, kelewat permisif terhadap penetrasi budaya global? Yang mendewakan spirit kepraktisan dan efisiensi di atas segala-galanya?

Last but not least, saya merasa perlu mencatat bonus perjumpaan kami dengan Prof. Furqon. Beliau diagendakan untuk memaparkan profil Yayasan Perguruan Al-Islam, yang menaungi SMA Al-Islam 1 Surakarta. Masih dalam rangkaian upacara penyambutan. Setelah sebelumnya disuguhkan tari saman. Menampilkan gerak ritmis nan kompak para siswi setempat. Lengkap dengan musik pengiring: perkusi dimainkan oleh dua siswa dan vokal dibawakan oleh dua siswi. Yang sudah menorehkan prestasi di level Kota Surakarta. Juga dibuka dengan pidato selamat datang oleh Kepala Sekolah, Ibu Umi Faizah. Yang disambung dengan pidato kula nuwun oleh Pak Muwahid Din. Wakil Kepala Sekolah Smaha Hebat yang didaulat memimpin rombongan. Mewakili Kepala Sekolah, yang berhalangan hadir. Lantaran sedang berkabung.

Di luar ekspektasi kami. Prof. Furqon tak sekadar memaparkan informasi datar dan dangkal. Tentang sejarah singkat dan profil ringkas Yayasan maupun Sekolah. Setiap butir informasi dielaborasi secara akademis. Aspek historisnya diungkap. Landasan filosofisnya digali. Konsep pedagogisnya dicerna. Rekayasa kontekstualnya diproyeksikan. Kami merasa tercerahkan. Kentara sekali minat dan kepedulian beliau dalam bidang pendidikan. Jauh melampaui latar belakang pendidikan dan pekerjaan formal beliau. Sebagai dosen pendidikan olahraga. Studinya--mulai S1, S2, hingga S3--juga tak pernah beranjak keluar dari bidang pendidikan olahraga.

Mengakhiri paparan yang dilanjut dengan sesi tanya jawab, Prof. Furqon menghadiahkan tiga buku karyanya kepada kami. Berikut buku-bukunya.

Mendidik: Memahami dan Peduli karya Prof. Furqon

Pendidikan Karakter Ibnu Miskawaih karya Prof. Furqon

Pendidikan Al-Ghazali karya Prof. Furqon

Pucuk dicinta ulam tiba. 

Semoga Prof. Furqon selalu dijaga dalam kesehatan prima. Agar terus dapat berkarya nyata. Berkontribusi untuk pendidikan anak Bangsa. Demikian juga SMA Al-Islam 1 Surakarta beserta semua sekolah di bawah naungan Yayasan Perguruan Al-Islam Surakarta. Semoga selalu mencapai kinerja dan prestasi optimal. Dan kami mampu meneladani kebaikan-kebaikannya.