2022/03/21

Surat Terbuka untuk Dirjen GTK

Kamis, 10 Maret 2022, iseng-iseng saya membuka akun SIMPKB (sistem informasi manajemen pengembangan keprofesian berkelanjutan), yang dikelola Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemendikbudrsitekdikti). Saya buka menu program, salah satunya: Studi Lanjut Guru - Bantuan Pemerintah. 

Saya pilih dan ikuti langkah-langkahnya. Sampai di kotak dialog "Apa ada rencana untuk melanjutkan pendidikan tingkat lanjut?", saya pilih opsi "Tidak". Berikutnya, saya diminta: "Mohon disampaikan alasan beserta saran dan masukannya kepada KEMENDIKBUD". 

Dengan antusias saya mengetik di kotak balasan. Selesai mengetik, saya klik tombol "KIRIM SARAN". Hasilnya, muncul jawaban: "Isian Survei Anda gagal disimpan. 406566: Waktu Pengisian Survei telah berakhir."

Agar tidak menjadi selilit, saya salin saja isian survei tersebut di sini sebagai surat terbuka untuk Direktur Jenderal GTK.

Alasan saya enggan melanjutkan studi: trauma.

Saya belum menemukan perguruan tinggi LPTK yang serius menyiapkan guru. Saya lulusan terbaik dari SPGN Wonogiri (1989), mendapat undangan masuk IKIP Semarang tanpa seleksi, dan diterima di program studi S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Inggris.

Ketika penulisan skripsi saya mencapai Bab III, saya mengajukan proposal kepada Rektor untuk mengganti kewajiban menulis skripsi dengan magang dua tahun di sekolah-sekolah yang berbeda-beda jenjang, jenis, dan lingkungan sosial-budayanya. Proposal saya itu bertolak dari kekecewaan atas program magang (PPL) yang hanya berlangsung selama enam minggu di satu sekolah. Pengalaman magang di tiap-tiap sekolah akan saya tulis sebagai laporan studi kasus (sekarang barangkali semacam PTK dan PTS) sebagai refleksi. Pengalaman praktik magang dan refleksinya itu saya pandang jauh lebih bermakna dan berdampak daripada skripsi, yang sering tidak relevan dengan tugas dan fungsi nyata guru.

Rektor menolak proposal saya dan justru menawarkan dua opsi untuk persyaratan lulus: menulis tugas akhir atau turun jenjang ke D3. Karena tawaran tersebut tidak relevan dengan substansi proposal saya, akhirnya saya memutuskan untuk mengakhiri masa studi saya tanpa status apa pun. Saya rela tidak lulus sarjana pendidikan sekalipun sepanjang delapan semester berturut-turut meraih IP tertinggi dan satu-satunya peraih IP > 3,00 di kelas saya serta memegang piagam mahasiswa berprestasi.

Saran: kurikulum keguruan di LPTK perlu ditinjau ulang. 

1.  Masalah kronis di mayoritas (sejauh jangkauan pengamatan saya) PT LPTK:

  • Porsi mata kuliah Psikologi dan Pedagogi di perguruan tinggi LPTK jauh dari memadai.
  • Jam praktik magang di sekolah (apa pun sebutan programnya) jauh dari cukup.
  • Pembangunan karakter (kompetensi kepribadian) guru terabaikan.

2.  Saran perbaikan:

  • Mata kuliah Psikologi dan Pedagogi diberikan secara komprehensif: studi literatur dan studi lapangan. Anak-anak sekelas mahasiswa pasti sudah mampu membaca sendiri literatur-literatur akademik. Tidak perlu dosen menghabiskan jam-jam kuliah dengan berceramah yang isinya sama dengan yang tertulis di diktat. Cukup ditugaskan kepada mahasiswa untuk membaca literatur lalu mengamati perilaku di lapangan, membuat laporan hasil pengamatan, dan diakhiri dengan konferensi kasus. Di situ terjadi dialog antara teori dan praktik sehingga pemahaman mahasiswa menjadi kaya.
  • Program magang di sekolah (mengajar, melatih, dan membimbing siswa; mengelola organisasi pendidikan) diperbanyak, jumlah jam dan variasi karakteristik sekolahnya. Mahasiswa tidak tahu, setelah lulus kelak menjadi guru di sekolah apa dan daerah mana. Perbedaan jenjang, jenis, lingkungan geografis, lingkungan sosial-ekonomi-budaya berpengaruh terhadap perbedaan karakteristik sekolah. Mahasiswa calon guru perlu dibekali pengalaman dari beragam karakteristik tersebut. Adaptasi terhadap beragam situasi dan kondisi riil itu jauh lebih sulit dibandingkan adaptasi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan pada disiplin ilmu di lingkup program studinya. Maka, jam praktik di sekolah selayaknya mendapat porsi lebih besar daripada jam kuliah di kampus. Prof. Pasi Sahlberg mengatakan, "Teaching is a difficult job; it takes 10.000 hours of experience to become a great teacher."
  • Kampus LPTK mesti berperan sebagai lahan pesemaian dan penumbuhan karakter (calon) guru. Selamanya guru adalah model bagi siswa. Pembangunan karakter dan pengembangan kepribadian guru tidak mungkin diharapkan terjadi dengan sendirinya tanpa ekosistem yang baik selama mereka menempuh pendidikan di LPTK.

Resolusi: 

  • Cabut Peraturan Menteri Ristekdikti Nomor 55 Tahun 2017 tentang Standar Pendidikan Guru! Permen tersebut justru mengaburkan makna guru sebagai profesi. Jika untuk menjadi guru, lulusan Program Sarjana Pendidikan diperlakukan sama seperti lulusan program-program lain (wajib menempuh Program Pendidikan Profesi Guru) untuk apa ada Program Sarjana Pendidikan? Saya justru mengusulkan perubahan ekstrem, mengadopsi sistem pendidikan dokter: pendidikan guru umum dulu, baru kemudian pendidikan guru spesialis mata pelajaran. Pendidikan guru PAUD, diksus, dan vokasi barangkali bisa dikecualikan; sejak awal sudah pendidikan guru spesialis.
  • Integrasikan tanggung jawab dan wewenang pendidikan calon guru dan pembinaan guru dalam jabatan. Sebagai produsen, sudah sewajarnya LPTK bertanggung jawab menjaga dan memelihara kualitas produknya: guru. Penyatuan tanggung jawab dan wewenang ini akan berbuah efisiensi dan efektivitas dalam mengembangkan profesionalisme guru. Pengawas (dengan catatan: benar-benar berperan sebagai superintendent) cukup membuat klaim malapraktik guru binaannya, lalu merujuknya ke LPTK untuk memberikan terapi/treatment.

Sekian, mohon maaf dan terima kasih.

----------

Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Surat Terbuka untuk Dirjen GTK", Klik untuk baca: 

https://www.kompasiana.com/teguh50569/622e9e6180a65a6b551de873/surat-terbuka-untuk-dirjen-gtk

Kreator: Teguh Gw

2022/03/14

Masing-Masing Punya Syākilah

Senin (28/02/2022) pagi. Wakinem datang ke rumah Mbakyu. Dia menjadi tamu terakhir yang saya dapati selama dua hari menumpang di sana. Sejak sehari sebelumnya, rumah Mbakyu memang ramai oleh tetamu. Mereka bukan tamu-tamu-nya Mbakyu. Anaknya yang nomor dualah yang mereka cari. Untuk membayar tagihan air. Keponakan saya itu menjadi kasir penerima pembayaran rekening air bersih yang dikelola dusun.

Usai transaksi, Wakinem tak segera pulang. Dia duduk di samping Simbok, yang sudah lebih dulu berangin-angin di bangku panjang di teras. Tampaknya sudah lama dia tidak menghibur mbokdenya. Wakinem dan saya saudara sebuyut (Jawa: naksanak). Mboknya dan Simbok saudara sepupu (Jawa: nakdulur). Kakeknya, adik kandung Nenek.

Sejenak njagongi Simbok, lalu Wakinem beralih topik: curhat. Dia bercerita tentang suka dukanya merawat mertua. Dua-duanya, ayah dan ibu mertuanya, sakit. Untuk merawat fisik mereka yang sakit, Wakinem tidak merasa terbebani. Justru dia sering dibuat tidak nyaman oleh gejolak emosi keduanya. Tidak sebatas umpatan dan caci maki, fitnah keji pun sering dialamatkan kepadanya. 

Wakinem istri yang pandai menjaga muruah suaminya. Tak satu pun kata-kata mertuanya dia sampaikan kepada suaminya, baik yang menyangkut dirinya sendiri maupun yang menyinggung suaminya. Semua disimpan rapat-rapat sebagai rahasia. Hingga suatu hari, belum lama berselang, rahasia itu terbongkar. Bukan dari mulut Wakinem, melainkan dari ulah mertuanya sendiri. 

Ajaib! Ibu mertuanya, yang sudah berbulan-bulan tidak bisa beranjak keluar rumah, tiba-tiba pergi dari rumah. "Mengungsi" semalam di rumah adiknya dan menginap semalam di rumah anaknya yang nomor dua. Wandi, suami Wakinem, adalah anak ketiga alias bungsu. Alasan minggat yang dikemukakan kepada anak keduanya berbeda dari alasan yang disampaikan kepada adiknya. Dari kakak dan bibinya itulah Wandi baru tahu: ibunya suka rewel kelewat batas kewajaran. 

Betapa kaget Wandi mendengar keterangan mereka. Amarah pun nyaris terlampiaskan. Untung, ia punya pendamping bijaksana. Istrinya berhasil meredam emosinya, melunakkan hatinya. Entah, dari mana Wakinem mewarisi jiwa tenang dan legawa sekuat itu. Dia hanya lulusan SD. Jelas, ilmu dan seni mengolah emosi belum diperoleh dari bangku sekolah serendah itu.

Wakinem tidak jemawa. Dia merasa tak cukup untuk menjadi "konselor" tunggal bagi suaminya. Dia dorong-dorong Wandi untuk sering-sering berkumpul dengan sahabat-sahabat lamanya: di masjid atau di rumah-rumah mereka. 

Pada masa lajangnya, Wandi punya geng yang solid. Anggotanya sembilan orang remaja. Setiap malam mereka berkumpul dan berkegiatan bersama. Salat Magrib berjemaah di masjid mengawali pertemuan. Setelah berbincang sembari beristirahat sejenak, menjelang isya mereka berangkat ke tempat "tugas": rumah yang dijadikan "sekolah" mengaji. Usia murid-muridnya beragam: mulai pra-SD hingga lanjut usia. Mengajar mengaji itu mereka tekuni setiap malam. "Sekolah" dan rombongan muridnya berganti-ganti, dari ujung barat sampai ujung timur dua dusun. Sebagian wilayah "sekolah" itu belum dialiri listrik. Mereka harus berpenerang obor untuk berangkat dan pulang.

Pada masa itu, keakraban mereka begitu hangat. Seusai mengajar mengaji, mereka "pulang" ke masjid. Biasanya ada obrolan refleksi sebelum tidur. Mungkin juga ada yang melanjutkan bincang-bincang hingga ke dalam mimpinya. Tikar plastik menjadi pelindung mereka dari terpaan angin dan gigitan nyamuk. Pagi selepas subuh kadang mereka tidak langsung pulang. Ada pesta: membakar singkong yang dicabut dari kebun di samping masjid. Atau, kalau lagi beruntung, membeli dua atau tiga bungkus nasi yang dijajakan pedagang keliling. Lalu mereka santap beramai-ramai.

Kekompakan itu lambat laun memudar, seiring dengan perubahan status para anggota geng. Setelah berumah tangga, satu per satu mereka meninggalkan "profesi" profetik itu. Apalagi, beberapa dari mereka pindah domisili: di kampung istrinya atau di kota tempatnya mencari nafkah. Akhirnya, madrasah-madrasah swasembada itu pun bubar tanpa deklarasi. Kumpul bareng biasanya mereka sempatkan ketika "guru" mereka pulang kampung. Itu pun tidak pernah lengkap.

Kehangatan persahabatan Wandi dan geng-nya itu ternyata terekam apik di memori istrinya. Saya tidak ingat, apakah Wakinem dulu juga menjadi murid mereka. Atau, jangan-jangan perjodohan keduanya berawal dari relasi guru-murid itu? Rupanya, hingga kedua anaknya beranjak remaja, Wakinem masih lancar "memutar kaset rekaman" kebiasaan mereka dulu: saling urun gagasan untuk mencari solusi atas masalah sahabatnya, di samping, tentu, sering membahas masalah bersama.

Pun pengaruh "guru" mereka terhadap perkembangan dan pembentukan pola pikir dan tata laku murid-muridnya, tampaknya terpatri lekat pada kenangan Wakinem. Demi melihat sang "guru" datang, dia memberi tahu suaminya. Dia anjurkan suaminya untuk beranjangsana menemui sang "guru", yang hanya butuh menyeberang jalan raya untuk sampai. Demikian kuat keinginannya membantu suami menemukan katalisator untuk menetralisasi emosinya akibat rentetan perilaku aneh kedua orang tuanya yang menyertai sakit mereka.

Begitukah makna pesan ini: "Katakanlah, 'Setiap orang beramal menurut syākilah masing-masing.' Maka Tuhanmu lebih mengetahui, siapa yang perjalanannya lebih berhaluan.' (Q.S. 17: 84)? 

Tiap-tiap diri punya syākilah (modal dan moda) masing-masing. Setiap individu punya peluang untuk beramal secara optimal dengan syākilah yang dianugerahkan kepadanya. Setiap hamba hanya dibebani amanah sesuai dengan syākilah-nya. Ada yang berpeluang beramal dengan harta sebagai syākilah-nya. Ada yang syākilah-nya berupa tenaga dan keterampilan kasar ataupun teknis. Ada pula yang ber-syākilah-kan ilmu pengetahuan ataupun hikmah. Ada lagi yang syākilah-nya menjelma jabatan dan kekuasaan atau wewenang yang melekat padanya. 

Masing-masing berhak meniti jalan pengabdian kepada Sang Khalik dan pelayanan kepada sesama dengan berbekal, berpeta, berpelita, dan berkendara syākilah yang dititipkan kepadanya. Seperti lakon yang diperankan oleh "guru"-nya Wandi dan geng-nya itu; boleh jadi ia absen dari amal berbasis harta, jabatan, atau apa pun yang kasatmata. Barangkali bukan itu syākilah yang diamanahkan kepadanya.

Masing-masing punya syākilah, yang dengannya ia bisa beramal dan atasnya ia dimintai pertanggungjawaban. Maka, tak ada alasan untuk berkecil hati melihat amal orang lain yang berbeda syākilah. Pun tak pantas untuk menyia-nyiakan syākilah yang menjadi amanahnya.

Tabik.

2022/03/10

Dirindukan: sEKOLAH pENDIDIKAN gURU

 

Ketaksengajaan di mata manusia, sudah pasti bukan kebetulan di mata Sang Maha Perencana. 

Sabtu (5/3/2022) malam saya berjumpa dengan seorang guru. Sebetulnya beliau sudah amat lama meninggalkan (tapi tidak menanggalkan, menurut hemat saya) sebutan guru. Sejak jenis sekolah tempat beliau mengajar dibubarkan pada awal 1990-an, beliau beralih tugas menjadi dosen. Namun—lagi-lagi, hanya menurut saya—derajat dosen tak lebih tinggi daripada derajat guru. Buktinya, puncak karier kebanggaan dosen di negeri kita adalah guru besar.

Senin (7/3/2022) malam saya bertemu dengan dua orang guru. Yang seorang memang benar-benar guru, profesi formalnya. Seorang lainnya suka menjadi guru di kelas menulis. Kedua-duanya juga penulis. Yang satu guru tulen yang piawai, gemar, dan rajin menulis. Yang satunya lagi penulis tulen yang piawai, gemar, dan rajin mengasah keterampilan menulis para penulis pemula.

Pertemuan Sabtu malam berlangsung secara virtual melalui salah satu platform konferensi video. Adalah Pak SurachmanDimyati, Ph.D. yang mengundang saya. Beliau tinggal di Iowa, Amerika Serikat dan menjadi dosen dan peneliti di almamaternya, University of Iowa. Beliau meraih Ph.D. dalam pendidikan fisika dari sana (2001) setelah sebelumnya lulus M.Ed. dalam pendidikan guru sains dari University of Houston (1988). Sebelumnya, beliau juga dosen di Universitas Terbuka (UT) selama lebih dari 24 tahun (1991—2015). Sebelumnya lagi, beliau guru di Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Negeri Bangkalan selama 16 tahun (1975—1991). Di antara masa pengabdiannya sebagai guru di SPG, beliau juga sempat merangkap mengajar di SMA Negeri 2 Bangkalan.

Latar belakang beliau sebagai guru SPG dan dosen UT itulah yang memberanikan saya mengusung tema profesionalisme guru dalam bincang-bincang malam itu. Dugaan kuat saya, beliau punya wacana komparatif antara kurikulum keguruan yang berlaku di SPG dan yang ada di perguruan tinggi penghasil guru. Dengan begitu, beliau bisa berperan sebagai pembanding opini yang saya paparkan, entah mengonfirmasi atau mengonfrontasi.

Kebetulan—sekali lagi, dalam kacamata saya sebagai makhluk—saya sempat mencicipi kurikulum keguruan di kedua jenis lembaga penyelenggara pendidikan guru itu: SPG dan IKIP. Kedua-duanya membuat saya stres di awal dan di akhir. 

Perbedaan suasana psikologis yang mencolok justru terjadi pada masa melamar. Seleksi masuk SPG saya lalui secara reguler. Salah satunya, mengikuti tes wawancara. Ketika menunggu giliran wawancara itulah saya mengalami kecemasan luar biasa. Pelamar yang sedang mendapat giliran wawancara diminta berpidato. Lancar dan lantang ia berorasi di dalam ruang wawancara, yang saya tidak tahu ada berapa orang di sana. Saya pucat pasi. Kata apa yang akan keluar dari mulut saya kalau disuruh berpidato? Sama sekali saya tidak punya pengalaman berpidato.

Perasaan kontras saya alami ketika melamar untuk belajar di IKIP. Saya tidak perlu melalui rangkaian bermacam-macam seleksi. Prosesnya cukup enteng: tinggal mengisi formulir, memilih tiga program studi yang diperbolehkan (lulusan SPG punya pilihan yang amat terbatas), lalu mengirimkan formulir yang sudah diisi. Melamarnya pun dengan perasaan berbunga-bunga. Betapa tidak! Sebenarnya lebih tepat dilamar, bukan melamar. Rektor bersama Kepala Kanwil Depdikbud yang mengundang saya untuk belajar di IKIP.

Begitu diterima sebagai murid SPG, stres saya tidak berkurang, justru bertambah. Stres itu berlangsung setidaknya selama satu semester pertama. Setiap hari bertemu dua makhluk asing: Psikologi dan Ilmu Pendidikan (Pedagogi). Dua mata pelajaran itu ngelmu tuwa bagi otak saya--yang baru sunat ketika lulus SMP. Rupanya Ibu/Bapak Guru melihat gelagat saya. Sebagai penghibur, kolom peringkat di rapor saya diisi angka 1. Itu—saya yakin—semata-mata demi membesarkan hati dan memompa semangat saya agar betah melanjutkan belajar di sekolah berat itu.

Psikologi dan Pedagogi bertahan menjadi menu utama pada semester-semester berikutnya. Keduanya itu induk atau rumpun mata pelajaran. Masing-masing dipecah-pecah menjadi banyak submata pelajaran. Terpaksa saya kunyah semua. Enak tidak enak asal kunyah dan telan. 

Menginjak kelas II (sekarang: XI) mulai ditambah menu baru: MMP—singkatan dari materi, metode, dan penilaian. Semua mata pelajaran SD ada MMP-nya, kecuali Agama dan Olahraga. Untuk calon guru kedua mata pelajaran ini ada sekolahnya tersendiri: PGA dan SGO. Setiap mata pelajaran dibedah materinya: struktur pengetahuan dianalisis dalam rangka merumuskan rangkaian tujuan instruksional yang tersusun secara hierarkis. Tiap-tiap butir tujuan instruksional dirunut alur pencapaiannya untuk mengidentifikasi metode pengajaran yang selaras. Kemudian dirancang sistem penilaiannya; teknik dan instrumennya mesti relevan dengan hasil belajar yang diamanatkan pada rumusan tujuan dan diupayakan dalam desain kegiatan.

Keterampilan membedah MMP itu lalu dipraktikkan dalam kegiatan belajar mengajar. Praktik mengajar itu berlangsung dalam tiga fase: micro teaching dengan teman-teman sejawat memerankan murid, praktik mengajar terbimbing di sekolah latihan, dan terakhir praktik mengajar mandiri di sekolah latihan.

Lambat laun saya menikmati menu belajar di “dapur penggodokan” calon guru itu. Bahkan, kian lama kian kerasan saya di sana. Entah, faktor apa yang menjadi determinan. Mungkin faktor kesiapan mental, seiring pertambahan usia. Atau, barangkali berkat kehangatan ekosistem pembelajaran yang dibangun oleh Ibu/Bapak Guru. Pun tidak mustahil lantaran kehadiran makhluk Tuhan yang sengaja diutus sebagai sumbu obor motivasi.

Kegelisahan kembali mendera begitu saya menerima tanda kelulusan. Ikatan dinas untuk lulusan SPG sudah tidak ada lagi. Bahkan santer tersiar kabar, ijazah SPG bakal tidak laku sebagai tiket untuk menjadi guru SD. Demi perbaikan kualitas, formasi guru SD akan segera diisi lulusan diploma dua (D2). Terlintas kuat keinginan saya untuk menyeberang laut. Konon Kalimantan masih membutuhkan banyak guru. Namun, tekad itu kandas oleh kuatnya gelombang kasih sayang orang tua.

Kemurahan hati Rektor dan Kakanwil itu bagai buah simalakama. Yang bebas hanya tiket masuknya. Kalau sudah masuk, tidak ada perlakuan berbeda dari mahasiswa yang lain: semua biaya mesti ditebus dengan uang. Demi mensyukuri kemudahan yang Tuhan berikan—atau, barangkali juga demi memadamkan niat saya untuk merantau ke luar pulau—keluarga, terutama Kakak kedua sebagai penyandang dana, memenuhi undangan itu. Kalau akhirnya harus kuliah juga, kenapa dulu tidak masuk SMA saja? Begitu gerutu batin saya.

Awal-awal masa kuliah kembali diliputi stres tingkat dewa. Sudah dua tahun saya tidak pernah bersentuhan dengan ilmu yang menjadi menu pokok program studi saya. Di SPG, mata pelajaran itu hanya diberikan satu tahun di kelas I. Praktis, pengetahuan dan keterampilan saya di bidang itu hanya setara lulusan SMP plus satu tahun. Itu pun seandainya masih tersimpan utuh. Padahal sudah dua tahun saya tidak pernah memakainya. Tak pelak, saya lebih banyak bengong di kelas. Apalagi, keterampilan ber-cas cis cus beberapa teman sudah jauh meninggalkan saya. 

Lagi-lagi, Tuhan menggelontorkan kasih sayang-Nya. Yudisium semester perdana mencatat nama saya sebagai satu-satunya pemilik angka tiga koma di antara nama-nama satu kelas. Kemurahan hati Ibu/Bapak Dosen itu pun tak ayal menyulut motivasi saya. Sepanjang delapan semester berturut-turut peringkat hasil yudisium saya tidak pernah bergeser meskipun angkanya pernah satu kali tidak mencapai tiga.

Ketika tinggal menyiapkan skripsi, saya mencoba melamar untuk menjadi guru dan diterima. Selain motif ekonomi, ada keinginan untuk menambah jam terbang mengajar sebelum lulus. Karena beban mengajar saya hanya sedikit, tahun berikutnya saya mengajukan lamaran lagi ke sekolah lain. Dua sekolah saya incar. Salah satu sekolah itu langsung menerima saya ketika menyerahkan surat lamaran. 

Beberapa hari kemudian, kepala sekolah yang satunya datang ke markas saya. Kala itu memang saya tinggal di kantor sekretariat sebuah organisasi kemasyarakatan. Beliau bermaksud memanggil saya untuk mengajar. Sungguh tidak enak perasaan saya. Pak Kepala Sekolah, yang sudah sangat senior, bersusah payah mendatangi saya hanya untuk menerima jawaban yang tidak sesuai ekspektasi. Kentara sekali kekecewaan beliau. Tapi bagaimana lagi? Saya sudah terikat kontrak di sekolah lain—kedua sekolah itu bernaung di satu yayasan yang sama. Kesalahan yang baru saya sadari waktu itu: saya tidak mencabut lamaran setelah diterima di sekolah satunya.

Sambil menimba pengalaman di dua sekolah, pelan-pelan saya menyiapkan skripsi. Kian hari kian kencang berontak kesadaran saya: skripsi saya kelak tidak punya kontribusi terhadap tugas dan fungsi saya sebagai guru. Saya makin penasaran: seperti apa skripsi teman-teman saya? Tidak cukup menengok skripsi teman-teman seangkatan, saya bergerilya di “gudang” skripsi di salah satu sudut perpustakaan kampus. Saya buka skripsi-skripsi karya senior-senior saya. Nihil. Tak satu pun karya tulis ilmiah itu menawarkan resep pembelajaran.

Saya lalu ingat yudisium mata kuliah Praktik Pengalaman Lapangan (PPL)—program magang mahasiswa calon guru di sekolah. Salah seorang teman sekelas saya dinyatakan tidak lulus. Usut punya usut, ini sebabnya: dia tidak hadir pada salah satu hari dalam masa pembekalan sebelum diterjunkan ke sekolah latihan. Sementara, teman lain yang selama enam minggu menjalani PPL hanya satu kali beberapa menit masuk kelas, justru dinyatakan lulus. Belum sempat mengajar karena ketika itu ia masuk kelas sebagai peer observer, mengamati temannya yang praktik mengajar. Sebagai pengamat, dia hendak mengambil posisi di barisan siswa paling belakang. Untuk keperluan itulah, dia bermaksud meminjam kursi salah satu siswa dan meminta siswa tersebut pindah ke kursi lebih depan yang kosong. Di luar dugaan, si siswa merasa terusir dari tempat duduknya. Mengamuk!

Perundungan yang dialami ketika pertama masuk kelas itu menimbulkan trauma. Selama masa PPL, tidak pernah lagi dia masuk kelas—untuk praktik mengajar ataupun mengamati praktik pengajaran oleh teman sejawat. Ajaibnya, dia lulus PPL! Dapat ditebak, akhirnya dia juga lulus dan diwisuda sebagai sarjana pendidikan, lalu diangkat menjadi guru dan diakui sebagai pendidik profesional.

Ketidakseriusan kurikulum keguruan di perguruan tinggi penyelenggara pendidikan calon guru itulah yang saya curigai sebagai penyebab utama kekarut-marutan pembinaan profesionalisme guru di negeri kita. Dari waktu ke waktu, modusnya tidak pernah berubah: atas nama peningkatan mutu pendidikan, pembinaan profesionalisme guru selalu menjadi proyek masif. Kesan saya, seolah-olah guru-guru itu tidak pernah mengenyam pendidikan calon guru.

Dalam perbincangan Sabtu malam yang diikuti sekitar empat puluh audiens itu, Pak Surachman berteriak lantang, “Guru selalu dijadikan objek yang dimanfaatkan untuk menggelontorkan uang!” Memang demikian kesannya, dan kesan itu sulit dimungkiri. Siklusnya pun relatif ajeg: ganti menteri, evaluasi kebijakan kurikulum beserta segala implementasinya, lalu pelatihan guru. Pada aras verbal, pejabat baru selalu mengatasnamakan pembelaan terhadap guru. Namun, bila diresapi dengan nurani jernih, pernyataan mereka sebenarnya berbunyi, “Wahai, para guru, kalian gagal menjadi guru profesional!”

Kerisauan atas wajah pendidikan itu pula yang, di luar ekspektasi saya, menjadi topik obrolan kami bertiga 2 x 24 jam berikutnya. Bayangan saya, malam itu saya bisa nempil ilmu tulis-menulis dari kedua guru saya itu. Kerendahhatian Mas Budi Maryono barangkali yang menyetir temanya. Sebagai minoritas sekaligus tuan rumah, beliau menghormati tamunya yang mayoritas. Beliau penulis tulen—walaupun tidak mau menyebut penulis sebagai profesinya—yang gemar menjadi guru menulis. Sementara, Pak Imanuel Tri Suyoto guru tulen yang gemar menulis. Sedangkan saya, hanya pernah belajar menjadi guru dan baru mulai belajar menulis.

Perbincangan sahut-menyahut mengalir alami tanpa dirigen. Akhirnya Pak Im, entah sengaja atau keceplosan, membandingkan pendidikan calon guru ala SPG dan ala perguruan tinggi lembaga pendidikan tenaga kependidikan (PT LPTK). Beliau punya kapasitas yang tidak layak diragukan untuk nyandra kedua model itu. Beliau lulusan SPG—senior saya jauh—sekaligus lulusan PT LPTK. Tidak hanya lulusan PT LPTK, beliau juga pernah disambat untuk mengajar di sebuah PT LPTK.

Mas Budi sempat berkomentar, “Kalau begitu, mengapa SPG tidak dihidupkan lagi saja?” Saya sepakat, dengan catatan: kurikulum keguruannya yang diadopsi di PT LPTK. Pak Im mengamini. Keesokannya saya menjelajah internet. Saya temukan tiga artikel yang menyuarakan kerinduan akan SPG.

Pada judul cerita ini sengaja saya tulis sEKOLAH pENDIDIKAN gURU agar tidak melahirkan singkatan SPG. Tidak harus, bahkan tidak perlu, dibuka kembali sekolah calon guru pada jenjang pendidikan menengah (dulu: SLTA). Cukuplah spirit SPG ditumbuhsuburkan di PT LPTK: serius membangun kompetensi keguruan—kepribadian, pedagogis, dan profesional—para mahasiswa calon guru.

Tabik.

2022/01/29

Membangun Growth Mindset (Bagian ke-2 dari 2 Tulisan)

 

Implementasi di Kelas (lanjutan dari bagian ke-1)

Sekolah, sebagai salah satu lingkungan intim anak-anak, memiliki peran strategis dalam membangun growth mindset. Sepanjang hidupnya, orang bisa menghabiskan sembilan hingga belasan tahun di sekolah. Rentang waktu itu dimulai sejak masa kanak-kanak hingga dewasa awal. Artinya, mindset seseorang yang terbentuk di sekolah berpeluang mendarah daging hingga ia dewasa.

Sekolah identik dengan tugas. Melalui tugas-tugas sekolah itulah murid belajar, apa pun identitas yang disematkan untuk menandai kategorisasi muatan belajarnya: jurusan, kelas, mata pelajaran, tema, materi pokok, kompetensi dasar, capaian pembelajaran, atau yang lain. Dengan mengerjakan tugas itulah murid mengaktualisasikan diri: mengubah potensi kecerdasan (modal) menjadi unjuk kerja. 

Murid mengerjakan tugas untuk dinilai. Di sinilah titik kritisnya. Paradigma penilaian yang dianut guru punya andil besar dalam pembentukan mindset murid. Jika kedudukannya formatif, penilaian akan menyuburkan benih-benih pola pikir bertumbuh (growth mindset). Sebaliknya, bila kedudukannya sumatif, penilaian cenderung menjebloskan murid ke dalam perangkap pola pikir jumud (fixed mindset).

Penilaian formatif digunakan untuk membentuk (to form) kecakapan murid. Informasi yang terkumpul menjadi rambu-rambu untuk memandu arah pembelajaran yang memungkinkan murid memperoleh pengalaman-pengalaman baru sehingga dapat mengembangkan kecakapannya. Dengan demikian, penilaian formatif berfungsi sebagai penilaian untuk pembelajaran (assessment for learning) atau penilaian sebagai pembelajaran (assessment as learning).

Sementara, penilaian sumatif dipakai untuk mengumpulkan (to sum) bukti-bukti kecakapan murid. Informasi yang terkumpul mengikhtisarkan profil kecakapan murid untuk dasar pengambilan putusan menyangkut status murid selanjutnya. Jadi, penilaian sumatif berfungsi sebagai penilaian atas hasil pembelajaran (assessment of learning). Kedudukan penilaian sumatif laksana garis finis dalam lintasan balapan: menentukan catatan waktu (skor) dan peringkat tiap-tiap peserta.

Untuk membangun growth mindset pada murid, tugas-tugas kelas harus diperlakukan sebagai penilaian formatif. Dalam penilaian formatif, umpan balik (feedback) menjadi elemen kunci. Pada dasarnya, umpan balik merupakan wujud penilaian atau apresiasi, bisa bermuatan kritik atau pujian. Namun, berbeda dari nilai (grade, score), umpan balik tidak berbau vonis.

Umpan balik tetaplah umpan, berfungsi memancing tindak lanjut. Ia dihidangkan untuk dicerna sehingga murid bisa merefleksi proses kerjanya: adakah yang perlu ditambahkan, dikurangi, diganti, atau sudah pas. Memancing juga berbeda dari menyuapi atau meloloh. Umpan balik hanya dihidangkan, tidak dijejalkan. Keputusan untuk mencaplok, membiarkan, atau mencampakkan umpan balik menjadi kewenangan murid yang bersangkutan. Di sinilah terbuka peluang berkembangnya kecakapan lain: negosiasi.

Dapat disimpulkan, ada dua syarat yang mesti dipenuhi agar apresiasi--kritik maupun pujian--berfungsi sebagai umpan balik: (1) berorientasi pada proses dan (2) tidak mendikte.

Salah satu prinsip belajar tuntas adalah umpan balik yang sering dan segera--lebih tegasnya: sesering dan sesegera mungkin. Dengan terbiasa menerima umpan balik atas pengerjaan tugasnya, murid akan membangun sejumlah persepsi positif.
  1. Selalu ada kesempatan untuk meningkatkan hasil kerja dengan memperbaiki proses pengerjaannya.
  2. Perbaikan proses dan peningkatan hasil kerja menjadi tanggung jawab dirinya sendiri.
  3. Orang-orang di lingkungannya adalah mitra pendukung--bukan lawan penghalang--perjalanannya meraih tujuan.
  4. Harga diri terletak pada kegigihan dalam menjalani proses, bukan pada kegagahan hasil yang didapat.
Serangkaian strategi berikut dapat diterapkan dalam rangka mengakrabkan murid dengan umpan balik.

  1. Mula-mula guru memberikan model umpan balik yang konstruktif. Guru tidak tergesa-gesa memberikan nilai (grade, score) terhadap pekerjaan murid. Untuk tugas yang menuntut jawaban eksak, umpan balik atas kesalahan bisa cukup dengan markah; umpan balik terhadap pekerjaan yang benar bisa dengan verifikasi/validasi.
  2. Setelah terbiasa dan mulai nyaman terpapar umpan balik dari guru, murid-murid dilatih saling memberikan umpan balik secara berpasangan. Guru memantau dan berperan sebagai mediator jika muncul gejala destruktif.
  3. Jika umpan balik berpasangan sudah menampakkan hasil menggembirakan, murid-murid diberi kesempatan untuk saling memberikan umpan balik dalam skala yang makin besar: berkelompok 3-5, 6-10, dan seterusnya hingga klasikal. Perlu diperhatikan bahwa pemberi umpan balik (subjek) adalah individu, sekalipun objeknya hasil pekerjaan kelompok. Tujuannya adalah menghindari rivalitas antarkelompok, di samping agar semua murid terlatih dan terampil memberikan umpan balik yang konstruktif.
  4. Kalimat-kalimat afirmatif bisa dipajang di seantero kelas untuk menguatkan iklim saling memberi dan menerima umpan balik secara konstruktif dan lapang dada.

Racun Pujian

Sering terdengar nasihat bahwa guru tidak boleh pelit pujian. Petuah ini sungguh betul, tetapi bukan tanpa catatan. Alih-alih menjadi nutrisi yang menyehatkan, pujian yang salah alamat bisa menjadi racun yang melumpuhkan penerimanya. Kita cermati ilustrasi imajiner berikut.

Guru X: "Kamu memang pintar, layak menjadi bintang kelas!"
Setan: "Tuh, benar, kan? Bu Guru juga mengakui, kamu murid paling pintar di kelasmu. Bagaimana kamu tidak bangga?"
Murid eX: "Horeee ...!"
Malaikat: "Bersyukurlah! Kepintaranmu itu semata-mata anugerah Tuhan yang ditakdirkan untukmu, sama sekali bukan hasil usahamu!"
Murid eX: "Husss! Cerewet! Iri, ya?"

Guru Y: "Pekerjaanmu bagus, sempurna! Kamu berhak menjadi juara!"
Setan: "Dengar baik-baik, tuh! Siapa yang bisa mengalahkan kamu?"
Murid Ye: "Yesss! Siapa dulu? Aku, gitu, loh!"
Malaikat: "Seluruh organ tubuhmu yang kaupakai untuk bekerja itu 100% milik Tuhan. Dia yang menciptakan, Dia yang menetapkan kadar kemampuannya, Dia yang memprogram sistem operasinya. Kuasamu hanya meminjam untuk berusaha. Kembalikan pujian itu kepada Sang Pemilik jiwa ragamu."
Murid Ye: "Huuuh, ... dasar bawel!"

Guru Z: "Wow, ... ini pasti kamu kerjakan dengan cermat dan tekun. Bisa kaujelaskan bagaimana kamu mengerjakannya?"
Setan: "Nah, gurumu mulai curiga, kan? Nggak percaya dengan kehebatanmu!"
Murid Zet: "Oh, masa begitu?"
Malaikat: "Kesempatan untuk membuktikan kesungguhan perjuanganmu."
Murid Zet: "Baiklah, saya harus buktikan."

Setelah Murid Zet menjelaskan cara kerjanya, Guru Z memberikan umpan balik lebih lanjut.
Guru Z: "Kamu bekerja luar biasa tekun dan cermat. Puas sampai di sini atau mau mencoba tantangan baru?"
Murid Zet: "Apa tantangannya?"
Guru Z: "Kamu boleh pilih: mengerjakan tugas lain atau membimbing temanmu yang belum berhasil menyelesaikan tugas."
Setan: "Tolak! Tugasmu sudah beres. Sekarang waktunya santai. Nikmati saja kekaguman teman-temanmu atas kesempurnaan pekerjaanmu!"
Malaikat: "Dua-duanya baik. Dengan mengerjakan tugas baru, kamu punya kesempatan untuk mengasah kemampuan, keterampilanmu semakin meningkat menjadi kemahiran. Dengan membimbing teman, kamu berpeluang memperoleh pahala sambil memperkokoh kemampuanmu."

Begitulah, pujian bisa menyuburkan motivasi yang membangun growth mindset bila tepat sasaran; sebaliknya, bisa pula meracuni mental dan menjerumuskan ke fixed mindset bila salah alamat. Umpan balik yang sesering dan sesegera mungkin menjadi elemen kunci yang menopang pembentukan growth mindset dan kelak menjelma grit yang mengabadi. Sekolah merupakan lingkungan intim pertumbuhan konsep diri manusia yang memiliki peluang strategis untuk membangun growth mindset secara masif, baik kualitatif maupun kuantitatif.

Tabik.

2022/01/26

Membangun Growth Mindset (Bagian ke-1 dari 2 Tulisan)

 

Mana pernyataan yang menggambarkan keyakinan, pandangan, sikap, atau kebiasaan Anda?

  1. Kita bisa belajar banyak hal baru, tetapi tidak bisa benar-benar mengubah kecerdasan bawaan kita.
  2. Tidak peduli tingkat kecerdasan yang kita miliki, kita bisa melipatgandakan kapasitasnya.
  3. Jujur, ketika mendapati kesulitan dalam menyelesaikan suatu pekerjaan, saya merasa tidak berbakat di bidang itu.  
  4. Ketika mendapati kesulitan dalam bekerja, saya justru makin berhasrat untuk mengerjakannya, bukan sebaliknya.
  5. Saya paling suka bila bisa menyelesaikan pekerjaan tanpa membuat kesalahan sedikit pun.
  6. Saya menyukai pekerjaan yang membuat saya belajar sekalipun saya membuat banyak kesalahan. 
  7. Saya puas ketika bisa menyelesaikan pekerjaan tanpa mendapati kesulitan berarti.
  8. Saya paling suka ketika menyelesaikan pekerjaan yang menuntut berpikir dan berusaha keras.

Pernyataan 1, 3, 5, dan 7 menunjukkan fixed mindset (pola pikir jumud). Bakat atau kecerdasan diyakini sebagai sumber daya (resource) tak terbarukan, yang terbatas kapasitas dan masa produksinya. Kesulitan dalam mengerjakan sesuatu yang baru dianggap sebagai tanda batas kemampuannya. Keberhasilan diukur dari minimnya kesalahan selama menjalani proses; hasil satu kali kerja dianggap sebagai hasil final. Kemudahan menjadi idaman abadi yang selalu dicari dalam setiap menyelesaikan pekerjaan demi mendapat nilai bagus. Pemilik pola pikir jumud hanya cocok bekerja dengan tugas-tugas rutin yang tidak mengalami banyak perubahan dari waktu ke waktu.

Sebaliknya, pernyataan 2, 4, 6, dan 8 mencerminkan growth mindset (pola pikir bertumbuh). Bakat atau kecerdasan dipandang sebagai modal (capital) yang kapasitasnya bisa dikembangkan terus-menerus. Kesulitan dalam bekerja dianggap sebagai teka-teki yang mesti dipecahkan dalam rangka mencapai kemajuan. Keberhasilan diukur dari banyaknya kesalahan yang dapat diperbaiki; memperbaiki hasil kerja adalah pengalaman berharga dan dijadikan menu wajib dalam proses belajar. Baginya, bekerja adalah proses aktualisasi diri yang melibatkan kreativitas, bukan pengulangan tugas-tugas lama yang bisa diselesaikan sambil rebahan. Orang dengan pola pikir bertumbuh dibutuhkan dalam pekerjaan-pekerjaan dinamis yang selalu berubah menurut konteks ruang dan waktu.

Growth Mindset dan Grit

Mindset seseorang bukanlah sesuatu yang permanen--yang tidak bisa diubah sepanjang hidupnya. Sebagaimana ketika terbentuk, mindset dapat mengalami perubahan--bahkan hingga tingkat ekstrem sekalipun--berkat pengalaman-pengalaman yang diperoleh melalui interaksi intens dengan lingkungan intimnya. Maka, pola asuh lingkungan memiliki pengaruh signifikan terhadap pembentukan mindset  seseorang.

Pola asuh lingkungan yang memiliki kontribusi besar dalam membentuk mindset seseorang adalah apresiasi atas kegagalan (kritik) dan keberhasilan (pujian). Baik kritik maupun pujian, kedua-duanya memiliki dua kemungkinan dampak: melemahkan atau menguatkan. 

Kritik berdampak melemahkan jika membuat penerimanya frustrasi akibat kegagalannya. Sebaliknya, kritik berdampak menguatkan bila mampu membangkitkan nyali penerimanya untuk melakukan perbaikan atas kegagalannya. Pujian berdampak menguatkan jika membuat penerimanya merasa tertantang untuk meraih lebih banyak kemajuan pada masa yang akan datang. Pujian yang memanjakan penerimanya dengan membuatnya berpuas diri atas capaiannya saat itu, sebaliknya, akan berdampak melemahkan.

Dampak dari kritik dan pujian--melemahkan atau menguatkan--ditentukan oleh dua faktor utama: cara (manner) dan sasaran (target, aim). Cara seseorang mengkritik dan memuji biasanya tampak pada ekspresi verbal dan nonverbal. Sedangkan berdasarkan sasarannya, kritik dan pujian bisa dialamatkan ke tiga objek: pribadi (orangnya), hasil pekerjannya, atau proses pengerjaannya.

Dalam diskursus pendidikan, rambu-rambu kritik dan pujian sering hanya terfokus pada cara. Padahal, sesantun apa pun kritik atau pujian disampaikan, tetap akan berdampak melemahkan jika salah alamat. Kritik atau pujian yang dialamatkan kepada pribadi orangnya akan membuat orang tersebut merasa divonis (atau memvonis diri) sebagai bodoh atau pintar. Label bodoh cenderung memicu frustrasi, sedangkan label pintar berpotensi memicu kejemawaan. Dua-duanya sama-sama destruktif: memadamkan nyali untuk berusaha lebih baik.

Kritik atau pujian yang dialamatkan kepada hasil kerja akan memancing persepsi bahwa itulah puncak karya (final work) yang bisa diraih. Yang hasil kerjanya dikritik akan menganggap karyanya jelek atau salah total, tanpa ada peluang untuk memperbaikinya. Sementara, yang hasil kerjanya dipuji akan menganggap karyanya baik dan benar sempurna, tanpa ada celah kekurangan yang perlu diperbaiki.

Kritik dan pujian--tentu, dengan cara santun--akan membuat penerimanya terpacu untuk terus-menerus melakukan perbaikan-perbaikan jika dialamatkan kepada proses kerjanya. Kritik terhadap proses berarti menunjukkan usaha yang semestinya dilakukan tetapi pelaku pekerjaan (pembuat karya) yang bersangkutan melewatkannya. Pujian terhadap proses berarti mengakui dan menghargai usaha standar yang telah dilakukan dan memberinya tantangan untuk mencoba alternatif-alternatif lain dalam rangka mencapai hasil lebih baik atau sekadar memperkaya kecakapan.

Pada gilirannya, pola pikir bertumbuh akan melahirkan grit. Secara ringkas, grit dapat diartikan sebagai semangat pantang menyerah (indomitable spirit). Angela Duckworth (2016) mendefinisikan grit  sebagai the power of passion and perseverance (perpaduan kekuatan hasrat dan kegigihan). 

Implementasi di Kelas

Sekolah sebagai salah satu lingkungan intim anak-anak memiliki peran strategis dalam membangun growth mindset. Bagaimana implementasinya di kelas (kegiatan pembelajaran)? Tunggu tulisan bagian ke-2.

(bersambung, insyaallah)

2022/01/12

Jelajah Antah-Berantah

 

Ki-ka: Wawang, Cahya, Kang Gw, Firdaus, Syarif, Bari. Fotografer: Warto. Lokasi: halaman istana Simbok.


Wonogiri, 26 Desember 2021

Semestinya hanya saya yang sampai ke rumah itu, dusun itu, pagi itu. Malam sebelumnya, kemenakan saya punya hajat: memanjatkan doa bersama beberapa orang tetangga dekatnya. Saya diminta hadir untuk mengaminkan doa-doa tulus mereka. Hari-hari itu janin di rahim istrinya menginjak usia empat bulan.

Mendapat undangan dari kemenakan itu, saya ingat Ndan Wawang. Personel satuan pengamanan di salah satu unit sekolah kami itu pernah menyampaikan keinginannya untuk melihat rumah batu. Ya, rumah unik di Tirtomoyo, Wonogiri yang sempat viral itu mengundang penasarannya. Maka, saya tawarkan kepadanya untuk menemani saya memenuhi undangan kemenakan. Janji saya, esoknya ganti saya temani dia mengunjungi rumah batu.

Rupanya Ndan Wawang kurang percaya diri untuk hadir sebagai satu-satunya orang asing di keluarga saya. Dia menyodorkan satu nama untuk diajak serta: Pak Bari. Pensiunan petugas kebersihan yang sudah kembali bermukim di kampung halamannya itu saya tawari. "Siap," jawabnya. Lalu kami buat jadwal perjalanan. Berangkat dari Semarang Sabtu (25/12) pagi, langsung ke Tirtomoyo. Dari rumah batu, bisa mampir ke sejumlah objek di Tirtomoyo dan sekitarnya. Sore bertolak ke Praci, tanah kelahiran saya. Ahad (26/12) pagi agak siang kembali ke Semarang. Rute bisa dibelokkan ke Gunungkidul untuk mampir ke pantai.

Iseng-iseng saya tawarkan rencana itu kepada taman-teman bala SKSD. Empat orang menyatakan kesediaannya: Mbah Purnadwija Warto, Pak Guru Firdaus, Mas Guru Cahya, dan Mas Guru Syarif. Mbah Warto adalah pensiunan guru di sekolah kami. Pak Firdaus guru senior. Mas Cahya guru muda dan masih bujang. Mas Syarif pensiun prematur dari sekolah kami dan sekarang menjadi guru di kampung asalnya, Rembang.

Tambah peserta tambah agenda. Ada yang ingin bermalam di Nglanggeran, desa wisata yang punya gunung purba dengan tebing-tebing batu menjulang berpahat eksotis karya Sang Maha Pencipta. Jadwal pun berubah. Berangkat dari Semarang Jumat (24/12) sore, sekitar pukul 5. Sambil beristirahat bisa menikmati wisata kuliner di Klaten: wedang jahe gepuk gula batu. Setelah agak kenyang (tak boleh sampai kekenyangan) lanjut ke Gunung Purba. Pagi (Sabtu, 25/12) dihabiskan untuk menikmati pesona Nglanggeran. Setelah khatam, bertolak menuju Pantai Siung, dari ujung barat laut ke ujung tenggara Kabupaten Gunungkidul. Menjelang sore bertolak ke Praci. Ahad (26/12) pagi lanjut ke Tirtomoyo, siang agak sore kembali ke Semarang.

Hingga H-1 (23/12) siang, jadwalnya masih seperti itu. Baru sorenya mendadak berubah. Bro Wahyu-lah biangnya. Mantan guru olahraga itu kebelet ikut, tapi pukul 5 sore baru keluar dari ruang kerjanya di Kudus. Pria asli Kudus itu tidak bertahan lama di sekolah kami lantaran hatinya terpikat gadis sejawat. Aturan di tempat kami, suami istri tidak bisa sama-sama mengabdi di satuan kerja senaungan Yayasan. Kami, tujuh personel yang sudah terdaftar terdahulu, berunding lalu sepakat: berangkat selepas isya.

Di pengumuman tertulis: berangkat pukul 19.18. Pak Bari diminta pukul 8 malam sudah siap di Salatiga. Praktiknya, pukul 8 kami baru menstarter motor, bersiap meninggalkan markas di Srondol Wetan, Banyumanik, Semarang. Entah berapa lama kami menelantarkan Pak Bari dalam ketidakpastian. Beliau tidak ber-HP. Koordinasi selama masa persiapan dilakukan lewat HP anaknya. Selepas isya anaknya sempat mengabarkan, Pak Bari sudah berangkat dari rumah di Susukan--seberang Salatiga dari arah Semarang.

Praktis, jadwal penerbangan, eh, perjalanan Jumat malam itu berubah total. Sekali lagi, itu gara-gara Bro Wahyu. Dan gara-gara Bro Wahyu pula, kami tidak kebagian guyuran hujan sepanjang perjalanan Semarang--Nglanggeran. Padahal, aspal dan beton dari Klaten hingga Nglanggeran masih basah ketika kami lalui. Dapat dipastikan, hujan belum lama reda. Sisa-sisa aliran air di tepi jalan menjadi tengara bahwa hujan yang baru saja reda itu cukup lebat. Keterangan petugas di loket masuk kawasan puncak gunung api purba Nglanggeran membenarkan dugaan itu. Bro Wahyu mesti bertanggung jawab atas ketakterpakaian jas hujan kami.

Setiba di loket itu kami dihadapkan pada dua pilihan: berjalan kaki ke puncak gunung api purba itu atau bersepeda motor ke puncak bukit sebelahnya. Kami pun berunding untuk menentukan pilihan. Golongan senior--dua di antaranya bahkan veteran--setelah mengalkulasi saldo stamina plus sisa kekuatan otot dan tulang memutuskan: mendaki yang bisa ditempuh dengan kendaraan saja. Kelompok junior abstain, manut apa pun keputusannya. Saya tidak berani menduga-duga apakah sebenarnya mereka punya pilihan berbeda tapi rela berkorban demi menghormati kaum tua. 

Jadilah kami berdelapan menghabiskan sisa malam yang tinggal kurang dari separuh itu di pendapa gerbang pendakian gunung api purba. Pengelola desa wisata Nglanggeran berhati mulia. Kami diizinkan memanfaatkan segala fasilitas yang ada di sana: tikar berlembar-lembar, lampu penerangan, arus listrik untuk mengecas baterai HP, kamar mandi, air keran yang jernih dan dingin. Satu yang saya sesalkan: mereka tidak nyambi berjualan kopi.

Selepas subuh kami pamit kepada petugas untuk menjajal jalur pendakian ke puncak bukit Kampung Pitu. Lumayan moderat. Tingkat kecuramannya tidak ekstrem. Jalannya dikeraskan dengan blok beton. Setelah melewati kampung teratas, tantangan mengadang: jalan berupa tanah basah nan licin. Beberapa kali roda-roda motor kami terpeleset. Ada yang sampai roboh. Ban-ban berlepotan lumpur. Namun, tantangan hadir bukan untuk dihindari, melainkan untuk ditaklukkan.

Akhirnya kami sampai di puncak. Batu purba menghampar. Watu Bantal, julukan yang diberikan oleh warga setempat kepadanya. Ini rekaman bukti kehadiran kami di sana:

Ki-ka: Kang Gw, Cahya, Wahyu, Bari, Syarif, Wawang, Warto, Firdaus


Beruntung, sudah ada dua remaja putri bertengger di puncak Watu Bantal ketika kami tiba. Tanpa malu-malu kami minta bantuan mereka untuk mengabadikan kegembiraan kami. Lalu salah seorang dari keduanya merekam tingkah kegirangan kami. Tak ayal, kami bisa tampil dalam formasi lengkap di video singkat itu.

Kekurangberuntungannya juga ada: kabut pekat menghalangi pandangan kami untuk menyaksikan pesona alam yang terbentang amat luas di sekeliling Watu Bantal. Aneka ekspresi kekecewaan sempat terungkap lewat lisan dan solah kami. Sekitar setengah jam kemudian, kabut mulai berarak pergi meninggalkan kawasan bukit. Perlahan-lahan kami dapat melihat puncak dwiarga Merapi-Merbabu di sisi utara; sketsa Gunung Lawu di timur laut; pantulan cahaya di atas Laut Jawa yang merupa permadani keperakan membentang dari sisi tenggara hingga selatan; dan tentu, hamparan sawah, ladang, kebun, dan permukiman di segenap penjuru, yang dekat maupun yang jauh. Serasa terbayar lunas kepayahan kami dalam mengendalikan kemudi agar motor tetap bisa melintasi kubangan lumpur pekat nan licin.

Turun dari Watu Bantal, kami memacu kuda besi menuju embung. Sepanjang perjalanan, mata kami tergoda oleh dinding batu menjulang yang membentang panjang di sisi kiri. Sebentar-sebentar kami menoleh, menatap takjub pahatan adikarya nircela di tebing kokoh nan perkasa yang memadukan kesan angkuh tapi sekaligus anggun.

Untuk mencapai embung, kami harus menapaki sekitar 130 anak tangga. Sampai di puncak, kami "hanya" disuguhi kolam semiraksasa yang berfungsi menampung air hujan. Hanya mata yang bisa menikmatinya. Pengunjung tidak dibolehkan berbasah ria menceburkan badan ke airnya. Tak mengapa. Gagal bercengkerama dengan air embung, kami mencari target lain: penjaja kopi di tepi kolam. Sayang, sepasang suami istri pemilik warung kopi itu kurang bermurah mulut. Kami tidak mendapatkan cerita yang tersembunyi di balik eksotisme gunung api purba Nglanggeran.

Dari Nglanggeran, enam sepeda motor berpenumpang delapan orang dipacu menuju Pantai Siung di sisi tenggara Kecamatan Tepus, Gunungkidul. Di sinilah kami meluapkan emosi kekanak-kanakan: jeguran. Durasi dua jam terasa kurang, tapi kami harus memangkas nafsu yang tak pernah berujung. Kami harus sudah sampai di rumah Kakak sebelum hari beranjak gelap. Kepentingan Bro Wahyu juga mesti dipertimbangkan. Dari Siung ia harus berpisah dari rombongan, tidak ikut melanjutkan tur berikutnya. Ia harus kembali ke Semarang karena esoknya akan berangkat pagi-pagi ke Kudus bersama keluarganya.

Selepas Desa Girisubo, Kecamatan Rongkop, tibalah kami di jalan baru: jalur pantai selatan (pansela) Jawa. Jalan yang lebar dan mulus membuat kami lupa aturan. Batas kecepatan maksimal 80 km/h--yang kami sepakati--dilanggar. Hanya satu pesawat yang masih patuh: WinAir. Sekencang apa pun roda berputar, jarum spidometer tetap menunjuk angka 50! Mas Guru Syarif boleh saja melapor: pernah mengejar WinAir dengan kecepatan hampir 90 km/h. Tapi itu tetap tidak sahih karena alat ukurnya spidometer di motornya sendiri, bukan yang di WinAir.

Kecelakaan sering berawal dari pelanggaran terhadap aturan. Gegara mencicipi ngebut sepanjang jalur Rongkop--Pracimantoro itu, sebuah insiden menimpa salah satu kendaraan: motor metik Mas Guru Syarif beserta pengemudi dan penumpangnya terhalang lampu merah, 3 km sebelum sampai tujuan. Empat motor yang lain sudah menyeberang ketika lampu hijau masih menyala. Akibatnya, dua anggota itu tertinggal rombongan.

Kami berlima langsung masuk ke halaman rumah Kakak, tanpa mengetahui ada anggota yang tertinggal. Setelah memarkir kendaraan, baru kami menyadari: kurang satu unit. Ketika ditelepon, mereka tidak bisa menyebut nama daerah mereka berada. Demi kemudahan, kepada mereka dikirimlah peta petunjuk posisi kami (share location) via WhatsApp. Kami menanti di pinggir jalan di depan rumah. Beberapa menit kemudian mereka tiba dari arah timur (berlawanan arah). Artinya, mereka kebablasan. 

Mas Guru Syarif sedang menjalani peran yang seolah-olah sudah menjadi tradisi kami. Dalam setiap perjalanan tur, hampir selalu ada yang "hilang" dari rombongan. Bahkan, dalam tur terakhir sebelumnya (01/01/2020) kami tercerai menjadi tiga tim. Bila dibuat statistik, Mbah Warto menempati urutan tertinggi dalam frekuensi lepas dari rombongan. Kebetulan (menurut kacamata makhluk) pada tur kali ini Mas Guru Syarif memboncengkan Mbah Warto.

Sabtu (25/12) malam, selepas isya kami berbaur dengan keluarga dan tetangga-tetangga keponakan saya. Bahkan Pak Firdaus--yang semula kami tinggal di istana Simbok karena sudah lelap tidur--pun akhirnya terjaga dan menyusul kami. Barangkali ada malaikat yang diutus untuk membangunkan beliau demi turut melangitkan doa-doa terbaik untuk calon cucu ke-9 saya, calon ibu yang mengandungnya, dan seluruh keluarga besar kami.

Usai hajatan, kami kembali ke homestay: rumah Simbok. Walau di rumah orang, modus tidur kami seperti ketika bermalam di pendapa gunung api purba Nglanggeran: beralaskan tikar plastik, tanpa bantal. Begitulah cara tidur orang kecapaian agar tidak terlalu pulas sehingga tidak bangun kesiangan. (Pokoknya, demi menutupi kekurangan harus dicari-cari alasan yang berkesan masuk akal.)

Ahad (26/12) pagi setelah membersihkan badan, kami kedatangan tamu tak diundang: penjaja sarapan keliling. Nasi bungkus berlauk gudangan dan mi plus kering tempe menjadi santapan pagi kami. Setelah berpamitan kepada Simbok dan keluarga kakak-kakak saya, kami meluncur ke Tirtomoyo. Objek wisata alam plus spiritual Kahyangan di Desa Dlepih menjadi destinasi yang kami singgahi sebelum menuju rumah batu di Desa Genengharjo.

Lunas sudah empat kepentingan: memanjakan mata di kawasan desa wisata Nglanggeran, menumpahkan kejenuhan akibat terpenjara Covid-19 di Pantai Siung, urun doa untuk keluarga keponakan saya, dan membuktikan keunikan rumah batu.

Mewakili keponakan, Kakak, dan keluarga besar kami, saya sampaikan terima kasih kepada semua anggota pasukan. Kehadiran kalian membuka pintu berkah bagi kami. Doa kalian sungguh semakin membesarkan harapan kami. Mengiringi permohonan maaf atas kekuranglayakan penyambutan kami, tebersit harapan: semoga kalian tidak kapok mampir ke istana-istana kami.

Ndan Wawang, disampaikan apresiasi khusus atas kebesaran hatimu untuk rela bertukar jadwal piket demi membersamai kami, utamanya saya.

Bro Wahyu, Mas Guru Syarif, dan Mas Guru Cahya, apresiasi pantas untuk disampaikan kepada kalian, yang tidak sungkan dolan bersama kaum "senior" yang mulai banyak rewel. Bro Wahyu dan Mas Guru Syarif luar biasa. Kalian berdua melanggengkan jalinan silaturahmi meski kebersamaan dengan kami dalam hubungan kerja terbilang sangat singkat. Apresiasi spesial untuk Bro Wahyu: dirimu menjadi lantaran bagi terhindarnya kita dari terpaan hujan sepanjang perjalanan Klaten--Nglanggeran.

Pak Firdaus, sepasang jempol untuk Anda. Elemen baru yang punya semangat prima dalam meramaikan agenda SKSD.

Pak Bari luar biasa. Di tengah keterbatasan sarana komunikasi, sampean selalu sigap dan siaga menyambut undangan untuk sejenak keluar dari rutinintas pekerjaan sehari-hari.

Last but not least, Mbah Warto sangat tidak layak untuk tidak disebut. Hingga setelah pensiun, peran panjenengan masih seperti sebelumnya: setia menyulut obor spirit kebersamaan kita.

Dengan makin kaya ragam unsur yang terlibat dalam aktivitasnya, SKSD berhak menambah koleksi kepanjangannya: Sepisan Kekancan, Selawase Dulur.

Tabik.

2021/10/19

Lembar Nilai vs. Lembar Penilaian

 

Beberapa hari yang lalu saya didaulat menjadi juri. Silakan tebak sendiri, lomba apa itu. Panitia menyodorkan blangko yang disebut olehnya lembar penilaian. Saya buka. Saya masygul.

Ada tiga perkara yang membuat saya masygul. Pertama, ada aspek penilaian yang tidak mungkin saya bisa menilainya: ketepatan waktu pengumpulan (karya). Saya menawar untuk tidak menilai aspek itu. Panitia memberi tahu: semua karya dikumpulkan sebelum batas akhir pengumpulan. Saya bersikeras. Saya hanya bisa menilai apa yang saya tahu, bukan sesuatu yang saya diberi tahu.

Kedua, perincian unsur-unsur yang dinilai tidak standar. Ada unsur penting yang luput dari sasaran penilaian. Sebaliknya, ada unsur cabang yang terpisah dari induknya. Saya bertanya: apakah kriteria penilaiannya boleh dimodifikasi? Jawabannya: tidak. Sudah final. Mutlak. Saya mencoba menggurui. Saya tunjukkan kriteria penilaian yang lazim dipakai dalam lomba serupa. Juga saya tawarkan alternatif penyederhanaannya. Tidak laku. Ya sudah. Saya pura-pura berdamai.

Ketiga, tidak dibedakan bobot antarunsur yang dinilai. Padahal, dari sekian aspek itu ada yang kedudukannya sebagai pokok, cabang, dan tambahan. Saya pun bertanya: bobot per aspek berbeda-beda atau dipukul rata? Jawabannya: ada. Tetapi, ternyata begini penjelasannya: rentang skornya 1-25. Duh. Saya kehilangan selera untuk melanjutkan negosiasi (atau lebih tepat: konsultasi?). 

Sejatinya niat saya tidak sekadar menawarkan modifikasi blangko nilai. Lebih jauh, saya hendak mengajak anak muda mengenal prosedur kerja yang akuntabel. Namun, demi alasan kepatutan, negosiasi itu saya pungkasi. Penanda waktu sudah menunjukkan pukul 21.22. Lawan percakapan saya di media sosial itu anak remaja, berbeda jenis kelamin dari saya.

Daripada membuat mitra cakap mengerutkan muka, saya pilih berbohong. Saya membuat blangko penilaian sendiri (tabel bawah). Setelah muncul nilai hasil penghitungannya, baru saya pindahkan ke blangko asli kreasi panitia (blangko atas). Saya reka-reka korespondensi antara aspek-aspek yang ada di blangko bayangan tapi autentik dan yang ada di blangko asli tapi semu itu. 

Plong. Saya bisa menilai sesuai dengan "selera" saya, sekaligus berhasil menyembunyikan "kecurangan" saya. Saya puas, pemberi mandat pun lega.

Tuntas menunaikan tugas "berat" tersebut tidak lantas membuat saya bisa segera tidur pulas. Ada pengalaman serupa yang menunda kedatangan kantuk.

Belum lama berselang, saya juga terlibat dalam "proyek" penjurian bersama empat juri lain. Seorang juri hanya menilai satu unsur. Bagian saya unsur yang masih asing bagi saya. Setelah berburu literatur, ketahuan bahwa ternyata unsur tersebut bercabang tujuh. Tiap-tiap cabang punya 3-6 ranting. Saya modifikasi. Lebih jujurnya, saya sederhanakan menjadi 1-3 ranting. Totalnya 15 ranting. Masing-masing saya beri rentang skor 1-3. Jadi, total skor maksimal 45. Otomatis, nilai = (jumlah skor perolehan dibagi 45) dikali 100. Atau, boleh juga (jumlah skor perolehan x 100) : 45. Bayangkan sendiri, tidak banyak nilai berbentuk bilangan bulat.

Baru menyadari kebodohan diri ketika saya mengikuti sidang dewan juri untuk menentukan juara-juara. Itu pun agak terlambat. Penjurian saya satu-satunya yang menghasilkan nilai bukan bilangan bulat. Keempat juri lain kompak: semua nilai yang muncul bilangan bulat kelipatan 5. Saya masih menahan syahwat untuk berprasangka. Bisa saja kebetulan: hasil akhir penghitungannya memang begitu. Atau, jalan husnuzan yang lain, mungkin juga jumlah aspeknya kelipatan 10 dan skor per aspek masing-masing hanya 0 (salah) atau 5 (benar).

Ilustrasi berikut semoga memadai untuk menjelaskan husnuzan itu.
Jumlah aspek = 20; berarti, total skor maksimalnya 20 x 5 = 100.
Karya peserta X benar 19 aspek; maka nilainya = {(19 x 5) x 100} : 100 = 9.500 : 100 = 95.
Karya peserta Z benar 12 aspek; maka nilainya =  {(12 x 5) x 100} : 100 = 6.000 : 100 = 60.
Logis, bukan?

Husnuzan saya tidak bertahan lama. Praduga tak bersalah itu seketika tumbang ketika saya menyaksikan proses penilaian (baca: penetapan nilai) melampaui kecepatan cahaya. Kebetulan--boleh juga dianggap sebagai kuasa Tuhan untuk menguak rahasia--keempat juri kolega saya itu punya tunggakan. Beberapa karya peserta belum dianugerahi nilai. Tunggakan harus dilunasi di meja sidang. Simsalabim! 90. 85. 80. 75. Atau sebangsa itu. 

Bak sulapan, angka-angka mistis itu lahir dalam hitungan detik. Padahal, objek yang dinilai berupa media audiovisual. Durasinya sekitar 15 menit. Menakjubkan. Secanggih itukah jurus mutakhir penilaian ala era 4.0?

Kaum remaja panitia yang mendaulat saya sebagai juri tempo hari itu masih terbilang konservatif. Ilmu mereka jauh tertinggal laju teknik penilaian yang dipraktikkan para patron mereka. Kali lain mereka mesti diberi tahu: tak perlu kalian susah payah membuat lembar penilaian; cukup sediakan saja lembar nilai. Jangan-jangan kesadaran ini pula yang mengerem nafsu saya untuk melanjutkan negosiasi tempo hari itu?

Lembar penilaian berisi blangko untuk merekam proses pemerolehan nilai.
Lembar nilai berisi blangko untuk sekadar mencatatkan nilai.

Yang mana pilihan Anda: yang simpel atau yang akuntabel? 

Tabik.