Namanya Akbar. Murid kelas 7. Ia tinggal di Pudakpayung. Bersama ibu dan seorang adiknya.
Ibunya bekerja di sebuah perusahaan farmasi. Tidak begitu jauh dari rumuah tinggalnya. Masih di bilangan Banyumanik.
“Uang sakumu berapa?” tanya saya.
“Dua puluh lima ribu. Sampai sore,” jawabnya.


