“Surah An-Naba’, silakan.”
“Belum hafal,” sahut DK.
Saya kaget. Asumsi saya, ia sudah hafal seluruh surah Al-Qur’an pada juz ke-30 itu. Hafal juz terakhir Al-Qur’an menjadi salah satu jaminan mutu lulusan sekolahnya yang terdahulu.
catatan ringan hasil pengindraan jagat pendidikan
“Surah An-Naba’, silakan.”
“Belum hafal,” sahut DK.
Saya kaget. Asumsi saya, ia sudah hafal seluruh surah Al-Qur’an pada juz ke-30 itu. Hafal juz terakhir Al-Qur’an menjadi salah satu jaminan mutu lulusan sekolahnya yang terdahulu.
![]() |
| Opening speech dalam empat bahasa. Urut dari kanan: Elora (Indonesia), Fatih (Inggris), Qaleed (Jawa), dan Nadia (Arab). |
Empat anak—dua putri dan dua putra—naik ke panggung. Yang
putri mengenakan blus panjang putih, berdiri di pinggir kiri dan kanan. Yang
putra, diapit kedua teman mereka yang putri, berbusana serbahitam: celana, kemeja,
dan peci. Tidak seragam, hanya sewarna.
Empat anak itu muncul pertama di panggung untuk menyampaikan sambutan pembuka, semacam atur pambagya. Masing-masing memegang mikrofon nirkabel.
![]() |
| Patung sepasang dewa-dewi di tengah-tengah kolam ikan (Sumber foto: Anggara Wikan Prasetya/travel.kompas.com) |
“Pyenengan daleme Sumur, Bu (rumah Anda di Dusun
Sumur, Bu)?” tanya saya kepada wanita yang sedang memetik daun kemangi di
sebelah gazebo tempat kami rehat.
Yang saya tanya mengiakan. Kemudian saya menanyakan tahun kelahirannya. Enam tahun lebih muda daripada saya. Saya kecewa. Dengan selisih 6 tahun, dijamin kami tidak pernah bertemu sebelumnya. Lebih mengecewakan lagi, ternyata dia bukan pribumi. Daerah asalnya Sragen. Suaminya, yang asli Sumur.