Saturday, April 7, 2012

Ayahku Seorang Pendidik

Tetangga depan rumah kami dulu punya empat anak, tiga perempuan dan satu laki-laki. Tidak seperti anak-anak lain di desa kami, anak laki-laki tetanggaku itu tak kenal pekerjaan "anak desa". Dia tidak pernah terlihat memikul air dari sumber air di pinggir sawah. Memikul hasil bumi dari sawah atau ladang juga tak pernah dilakukan. "Nikmatnya" memikul kotoran sapi dan kambing dari kandang untuk memupuk tanah garapan orang tuanya pun tak pernah dirasakan. Paling-paling, sesekali dia ikut teman-teman sebayanya ramai-ramai menggembala sapi di padang rumput. Enak nian hidup anak tetanggaku itu. Barangkali nasib baik itu menimpa dirinya lantaran dia anak lelaki satu-satunya di keluarganya.

Suatu pagi ayahku mengajak anak-anaknya, aku dan dua kakakku, mengusung pupuk kandang ke ladang. Itu kami lakukan berulang-ulang dalam sehari. Capek, memang. Ada bengkak merah di pundak kami. Dalam hati, aku pun memrotes perlakuan ayahku kepada kami itu. Kala itu usiaku belum genap sepuluh tahun. Sedangkan anak lelaki tetanggaku itu sekitar enam atau tujuh tahun lebih tua daripada aku.

"Apa kalau anak-anak tidak dilibatkan memupuk, sampeyan khawatir tanamannya tidak bisa subur, to, Kang?" tegur tetanggaku bernada mencibir ayahku.

"Wong aku ini tidak memupuk tanaman, kok, Dhi," sahut ayahku, "Aku ini kan sedang memupuk anak-anakku."


"Memupuk anak-anakku?!" gumamku waktu itu. Bagaimana bisa? Kalau sejak kecil pundak kami dibebani pekerjaan seberat ini, yang pasti terjadi justru tubuh kami sulit tumbuh. Ayahku terlalu mengada-ada. Atau, beliau tidak mau dipersalahkan oleh anak-anaknya? Atau juga, jangan-jangan ayahku memang --maaf-- kurang waras?

***

Kini ayahku sudah tiada. Semoga beliau diampuni dari segala dosanya dan menerima ganjaran atas seluruh kebaikannya. Sekarang aku telah menempati posisi beliau: menjadi seorang ayah. Kadang terngiang di benakku jawaban ayahku kepada tetangga kami dulu. "Aku sedang memupuk anak-anakku." Dengan cara begitu ayahku memupuk kami?

Akhirnya kutemukan juga maksud ayahku. Beliau dulu hanya seorang petani tradisional. Pendidikan yang sempat dienyamnya hanya sampai kelas 2 atau 3 sekolah rakyat. Baca-tulis tak begitu lancar. Berbicara juga tak begitu mahir. Apalagi berkhutbah! Beliau tak mampu "memupuk" kami dengan untaian kata-kata bijak. Satu-satunya metode pendidikan yang beliau kenal adalah membawa kami menyelam di dalam kenyataan hidup. Dan itu sering terasa keras bagi usia kami waktu itu.

Kini aku menjadi manusia dewasa, seperti ayahku waktu itu. Kehidupan tidak makin lunak, justru terasa makin keras. Aku tak boleh banyak mengeluh. Mengumpat, memaki, dan menyalahkan sana-sini bukanlah siasat bijak untuk menghadapi derasnya arus kehidupan.

Kini aku sudah tak punya ayah, tapi punya banyak bos, teman, tetangga, dan keluarga. Di antara mereka, tak ada yang sanggup menyelesaikan sendiri seluruh keperluannya. Ada kalanya mereka membutuhkan uluran tanganku. Tak perlu aku menunggu dimohon, diminta, disuruh, apalagi sampai diteriaki.

Persis seperti yang dikehendaki ayahku ketika aku masih kecil. Tanpa disuruh, aku mesti mengikuti langkah beliau: memikul sepasang keranjang pupuk kandang ke ladang. Tanpa diminta, aku mesti kembali ke kandang, memenuhi kedua keranjang dengan kotoran sapi, dan mengangkutnya lagi ke ladang. Sebelum matahari tenggelam di ufuk barat, aku mesti memikul lagi. Kali ini muatannya berganti: air untuk keperluan dapur. Jika gentong belum terisi penuh, tanpa dimohon aku mesti bolak-balik ke sendang, mengambil air sepikul demi sepikul hingga tempayan penuh. Pundakku terasa perih. Bila kaos oblong yang membalut tubuhku dilepas, tampak memar merah di kedua sisi pundakku. Tapi ... aku tak perlu mengeluh.

Ternyata, ... ayahku seorang PENDIDIK SEJATI!

No comments:

Post a Comment

Look Up

Part 2 So look up from your phone, shut down the display Take in your surroundings, make the most of today Just one real connectio...