Langsung ke konten utama

Postingan

Pendendam, Pengiri, Clemer

“Hari  gini nggak  bisa Excel?” Kalimat sarkastis itu terucap oleh anak buah saya, 14 atau 15 tahun silam. Saya memerlukan pengolahan data. Dengan Excel dari Microsoft itu—saya yakin—prosesnya menjadi mudah dan cepat. Sayangnya, saya belum pernah bekerja dengan perangkat pengolah angka itu. Mengeklik ikon pintasannya pun belum pernah saya lakukan. Ketika  kepepet  kebutuhan itu, saya pun pilih mengambil jalan pintas: memerintah anak buah. Kalimat sarkastis itu memantik dendam saya. Kiranya wajar kalau saya marah. Semestinya bawahan saya itu menjawab,  “Sendika dhawuh, Ndara.”  Saya pun betul-betul marah. Bergegas saya tinggalkan ruang kerja para bawahan saya. Kembali saya ke kantor. Saya marahi habis-habisan mesin pengendali minat saya. Kenapa sejak zaman DOS hingga era Windows saya tak pernah berminat untuk menjajal program pengolah angka! Pertengahan dekade 1990-an saya diutangi komputer oleh seorang teman. Sampai detik itu saya belum pernah dolanan komputer. Demi mensyukuri kemuraha

Membaca Imajinasi Nono

Nono. Bocah kelahiran 2 April 2015 itu bernama lengkap Archangels Hendrik Meo Tnunay. Ayahnya, Raflim Meo Tnunai, bekerja sebagai tukang bangunan. Sementara, ibunya, Nuryati Ussanak Seran, dipekerjakan (saya sengaja memilih kata ini, bukan  bekerja ) sebagai guru kontrak di SD Inpres Buraen II, Kecamatan Amasari Selatan, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Di sekolah ini pula Nono saat ini duduk sebagai pelajar kelas II. Baru-baru ini Nono menghebohkan jagat pendidikan Nusantara. (Nama ini juga sengaja saya pilih demi mengembalikan ingatan bahwa   Nusantara   sudah ada sejak lama, lebih tua dan lebih luas daripada Indonesia—apalagi dibandingkan dengan calon penjiplak namanya, yang baru berkecambah dan hanya sepetak tanah di salah satu dari 38 provinsi di Indonesia.) Adalah sempoa, “kendaraan” yang mengantarkan Nono meroket dan meraih bintang. Selama setahun penuh, Januari—Desember 2022, Nono mengikuti kompetisi matematika berbasis sempoa: Abacus Brain Gym (ABG) International M

Menuju Sekolah Karakter: Implementasi #2 (5/5)

  Kepemimpinan, Pelibatan, dan Keberlanjutan Sebagaimana layaknya sebuah gerakan, pendidikan karakter membutuhkan kepemimpinan dengan multiperan. Gerakan pendidikan karakter membutuhkan sosok panutan, maka pimpinan sekolah harus hadir sebagai kampiun karakter. Gerakan pendidikan karakter membutuhkan petarung tangguh, maka pimpinan sekolah harus tampil sebagai pendekar karakter. Gerakan pendidikan membutuhkan arsitek strategi, maka pimpinan sekolah harus berperan sebagai senapati pasukan karakter. Sebagai gerakan pembudayaan, pendidikan karakter memerlukan keterlibatan segenap pemangku kepentingan. Rancang bangun pendidikan karakter yang mati-matian ditata oleh guru kelas akan berantakan bila tidak dibarengi pranata serupa di lapangan olahraga, perpustakaan, kantin, dan tempat-tempat lainnya di sekolah. Sebab itu, pimpinan mesti melibatkan seluruh komunitas sekolah dalam gerakan karakter. Keterlibatan unsur-unsur komunitas sekolah akan mencapai totalitas hanya jika masing-m

Menuju Sekolah Karakter: Implementasi #1 (4/5)

  Mimpi Bersama, Kontribusi Semua Segenap pemangku kepentingan sekolah diajak merajut mimpi yang sama:  sekolahku surgaku.  Masing-masing diberi kesempatan untuk mengidentifikasi karakter yang selayaknya dimiliki oleh setiap penghuni sekolah yang diimpikan sebagai replika surga. Lalu semua diberdayakan dan didayagunakan untuk membangun replika surga itu. Kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, murid, orang tua murid, dan pengurus yayasan (untuk sekolah swasta) membuat daftar atribut surga yang mereka dambakan. Boleh jadi, daftar tersebut akan sarat dengan atribut ideal seperti bersih, sehat, rapi, indah, aman, tertib, lancar, asri, segar, dan mantra-mantra magis sejenis yang pernah populer dalam perlombaan memperebutkan anugerah Adipura. Tiap-tiap fitur surga menuntut kontribusi amal saleh dari para penghuninya. Sekolah bersih akan terwujud hanya jika seluruh warganya cinta kebersihan. Sekolah aman akan tercipta hanya jika setiap penghuninya berperan aktif menjaga keama

Menuju Sekolah Karakter: Modus Pendidikan Karakter (3/5)

Penularan Sebut saja namanya Tom. Ia dilahirkan, dibesarkan, dan hingga dewasa tinggal di salah satu negara Eropa. Bisnis butiknya berkembang pesat ketika usianya masih 20-an. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi, pemasarannya menjangkau hampir seluruh benua Eropa. Terilhami oleh pameran batik di sebuah kota mode terbesar di Eropa, Tom berminat untuk melengkapi koleksi butiknya dengan busana batik. Pada suatu musim panas, ia memutuskan untuk berlibur ke salah satu pusat kerajinan batik tulis: Yogyakarta. Di Kota Gudeg ia mengunjungi sejumlah rumah produksi batik. Di salah satu sanggar batik, Tom bertemu dengan Tin, salah seorang pembatik. Perempuan muda itu tampak menonjol dibandingkan dengan teman-teman seprofesinya. Remaja sederhana yang sekilas tampak lugu itu fasih berbahasa Inggris. Tom merasa menemukan calon mitra bisnis baru. Kecakapan komunikasi—bahasa dan etika—Tin menumbuhkan harapan lebih. Tidak sekadar menjadikannya mitra bisnis, Tom bahkan ingin