![]() |
| Bu Fitri, Bu Combo, Bu Maryati, Pak Tri (ke-10, 9, 8, dan 7 dari kanan) dan Pak Heru (Kepala SMP, ke-6 dari kanan) |
Jumat (25/09/2026) siang itu kami menunggu tetamu dari tiga instansi: Vision College, TVRI Jawa Tengah, dan Tribun Jateng. Ruang pertemuan SMK Hidayah disiapkan sebagai ruang transit para tamu.
Siang hingga sore itu Yayasan akan menggelar lokakarya “Leadership and Teamwork”. Instrukturnya Pak Agusmanto, CEO Vision College. Untuk keperluan pemberitaan kegiatan, Yayasan mengundang reporter dari TVRI Jawa Tengah dan Tribun Jateng.
Ketika saya masuk ke ruang transit, tetamu yang ditunggu
belum hadir. Yang ada justru Bu Sri Maryati, pengawas pembina SMK dari Cabang
Dinas Pendidikan Wilayah II, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa
Tengah. Beliau sudah datang sejak pagi dan sebenarnya keperluan dinasnya di SMK
Hidayah sudah rampung.
“Saya ingin ketemu Pak Tri, sebenarnya,” kata beliau.
Pak Tri yang beliau maksud adalah Pak Tri Waluyo, Ketua
Yayasan Eka Sakti Banyumanik. Yayasan inilah yang saat ini menjadi
penyelenggara dua satuan pendidikan di Semarang: SMP Eka Sakti dan SMK Hidayah.
Bu Maryati dan Pak Tri merupakan dua kolega lama. Dua-duanya
pernah sekantor di Dinas Pendidikan Kota Semarang. Pak Tri lama berkarier di
sana sebelum dimutasi ke Dinas Sosial. Di sana pula induk organisasi Bu Maryati
sebelum kewenangan penyelenggaraan dan pembinaan pendidikan menengah dialihkan ke pemerintah
provinsi.
Pak Tri sudah 4 tahun purnabakti dari PNS Pemerintah Kota
Semarang. Sementara, Bu Maryati baru akan mengakhiri pengabdiannya sebagai PNS
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah 6 bulan ke depan.
“Besok Ibu ikut ke Magelang, nggih?” pinta Bu Fitri,
Kepala SMK Hidayah.
“Lha, apa boleh ada peserta dadakan?” sahut Bu
Maryati.
“Enggak apa-apa. Busnya masih longgar, kok.”
Dengan enteng Bu Maryati menyanggupi permintaan kepala
sekolah binaannya.
Saya kaget sekaligus ragu. “Duh, siapa nanti yang kalah dan
menjadi canggung?” bisik batin saya.
Yang akan melancong ke Magelang bukan rombongan khusus kepala
sekolah. Di sana nanti berkumpul seluruh pegawai Yayasan. Beragam jabatan,
bidang pekerjaan, dan taraf intelektualnya. Bermacam-macam corak tampilannya,
tutur bahasanya, gaya komunikasi dan interaksinya. Strata pengawas sekolah
tentu berjarak cukup jauh di atas mereka, eh, kami.
“Bu Maryati sekalian ikut saja,” ajak Pak Tri sebelum
beranjak ke aula.
Jauh melampaui dugaan saya, ajakan dadakan itu pun spontan diiyakan
oleh Bu Maryati.
Saya makin penasaran. Seberapa nyaman dan betah Bu Maryati
mengikuti lokakarya? Akankah beliau membaur sebagai partisipan bersama kami?
Ataukah beliau akan cukup menjadi penonton, eh, pengawas? Akankah beliau
kerasan di aula sampai kegiatan berakhir? Ataukah beliau akan pamit di tengah
kegiatan berlangsung?
Prasangka saya runtuh. Tanpa canggung Bu Maryati bergabung
dengan salah satu kelompok. Aktif dalam diskusi menyelesaikan tugas kelompok.
Larut dalam melantangkan yel kelompok. Pun beliau bergeming, pantang meninggalkan
aula sampai pewara menutup acara.
Keesokannya, Sabtu (26/09/2026), dua bus siap
mengangkut rombongan ke Magelang. Bus 1 masih menunggu beberapa personel yang
belum datang.
Bus 2 berangkat lebih dulu. Di kursi belakang pengemudi
duduk dua ibu-ibu senior. Dua-duanya pengawas. Yang satu pengawas sekolah dari
Dinas Pendidikan Provinsi, Bu Maryati. Satunya lagi pengawas Yayasan, Bu Sri
Sulasmi.
Dua-duanya hadir menepati janji. Bu Sri Sulasmi alias Bu
Combo sudah jauh-jauh hari menyatakan kesediaannya untuk ikut rombongan ke
Magelang. Sedangkan Bu Maryati baru sehari sebelumnya diberi tahu dan diminta
ikut. Sedianya Bu Combo juga akan hadir dalam lokakarya Jumat itu. Namun,
akhirnya batal karena di rumah ada tamu dari jauh.
Dugaan saya semula, Bu Combo akan mengawal rombongan dengan
mobil sendiri. Bersama Pak Combo dan putra-putri beliau. Lagi-lagi, dugaan saya
luput.
Kehadiran Bu Combo membuat saya ayem. Kalau Bu
Maryati—dengan alasan apa pun—tidak berkenan mengikuti kegiatan mancakrida, Bu
Combo bisa menjadi mitra jagongan.
Ups! Untuk kali kesekian saya kecele. Keduanya tidak rela
melewatkan keseruan bersama para anak buah. Senam sambil bernyanyi, mereka
ikut. Tepuk tangan, mereka turut. Adu ketangkasan menyuwir-nyuwir kertas untuk
membuat kalung, tidak dilewatkan. Bahkan kalung buatan Bu Combo mencatatkan
rekor kalung terpanjang. Muat orang se-RT.
“Aku dhuwur dhewe. Susah menyesuaikan. Yang lain
pendek-pendek,” keluh Bu Combo setelah gagal menjinakkan kebinalan “tongkat keramat”.
Sayangnya, Bu Combo angkat tangan pada sesi arung jeram.
Faktor fisik menjadi alasan yang layak untuk diterima tanpa syarat. Sementara, Bu
Maryati termakan provokasi. Sedianya beliau tidak akan ikut mengarungi Sungai
Elo. Eee, ... akhirnya ikut mengayuh dayung juga.
“Mohon maaf, pakaian saya tidak match. Saya telanjur tidak
membawa pakaian ganti. Enggak tahunya, harus ikut ciprat-cipratan juga,” akunya
ketika menyampaikan sambutan dalam gala dinner. “Ini saya beli di depan sana
tadi,” lanjutnya, sambil menunjuk setelan barunya.
Duh, tega dan berani nian teman-teman itu! Ibu Pengawas pun
tak luput jadi sasaran ulah nakal.
Hmmm, ... ternyata ada juga orang yang ketika di atas bisa melupakan
jarak dengan yang di bawah. Kesediaan Bu Maryati dan Bu Combo turut mengawal
kami ke Magelang saja sebenarnya sudah cukup membuat saya berbesar hati.
Seandainya beliau berdua hanya duduk manis di pinggir lapangan dan sesekali
bertepuk tangan menyemangati kami, itu pun tidak mengurangi salut saya. Bahkan seandainya Bu Combo, yang notabene owner Yayasan, tidak sempat membersamai kami pun, saya 100% memaklumi.
Saya jadi menyesal. Dulu, ketika jadi sesuatu dan sempat
mengajak pasukan jalan-jalan, kok saya tidak bernyali untuk iseng-iseng
mengajak pengawas pembina sekolah kami?
Tabik.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar