1 Okt 2026

Lupa Jarak

Bu Fitri, Bu Combo, Bu Maryati, Pak Tri (ke-10, 9, 8, dan 7 dari kanan) dan Pak Heru (Kepala SMP, ke-6 dari kanan)

Jumat (25/09/2026) siang itu kami menunggu tetamu dari tiga instansi: Vision College, TVRI Jawa Tengah, dan Tribun Jateng. Ruang pertemuan SMK Hidayah disiapkan sebagai ruang transit para tamu.

Siang hingga sore itu Yayasan akan menggelar lokakarya “Leadership and Teamwork”. Instrukturnya Pak Agusmanto, CEO Vision College. Untuk keperluan pemberitaan kegiatan, Yayasan mengundang reporter dari TVRI Jawa Tengah dan Tribun Jateng.

Ketika saya masuk ke ruang transit, tetamu yang ditunggu belum hadir. Yang ada justru Bu Sri Maryati, pengawas pembina SMK dari Cabang Dinas Pendidikan Wilayah II, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah. Beliau sudah datang sejak pagi dan sebenarnya keperluan dinasnya di SMK Hidayah sudah rampung.

“Saya ingin ketemu Pak Tri, sebenarnya,” kata beliau.

Pak Tri yang beliau maksud adalah Pak Tri Waluyo, Ketua Yayasan Eka Sakti Banyumanik. Yayasan inilah yang saat ini menjadi penyelenggara dua satuan pendidikan di Semarang: SMP Eka Sakti dan SMK Hidayah.

Bu Maryati dan Pak Tri merupakan dua kolega lama. Dua-duanya pernah sekantor di Dinas Pendidikan Kota Semarang. Pak Tri lama berkarier di sana sebelum dimutasi ke Dinas Sosial. Di sana pula induk organisasi Bu Maryati sebelum kewenangan penyelenggaraan dan pembinaan pendidikan menengah dialihkan ke pemerintah provinsi.

Pak Tri sudah 4 tahun purnabakti dari PNS Pemerintah Kota Semarang. Sementara, Bu Maryati baru akan mengakhiri pengabdiannya sebagai PNS Pemerintah Provinsi Jawa Tengah 6 bulan ke depan.

“Besok Ibu ikut ke Magelang, nggih?” pinta Bu Fitri, Kepala SMK Hidayah.

“Lha, apa boleh ada peserta dadakan?” sahut Bu Maryati.

“Enggak apa-apa. Busnya masih longgar, kok.”

Dengan enteng Bu Maryati menyanggupi permintaan kepala sekolah binaannya.

Saya kaget sekaligus ragu. “Duh, siapa nanti yang kalah dan menjadi canggung?” bisik batin saya.

Yang akan melancong ke Magelang bukan rombongan khusus kepala sekolah. Di sana nanti berkumpul seluruh pegawai Yayasan. Beragam jabatan, bidang pekerjaan, dan taraf intelektualnya. Bermacam-macam corak tampilannya, tutur bahasanya, gaya komunikasi dan interaksinya. Strata pengawas sekolah tentu berjarak cukup jauh di atas mereka, eh, kami.

“Bu Maryati sekalian ikut saja,” ajak Pak Tri sebelum beranjak ke aula.

Jauh melampaui dugaan saya, ajakan dadakan itu pun spontan diiyakan oleh Bu Maryati.

Saya makin penasaran. Seberapa nyaman dan betah Bu Maryati mengikuti lokakarya? Akankah beliau membaur sebagai partisipan bersama kami? Ataukah beliau akan cukup menjadi penonton, eh, pengawas? Akankah beliau kerasan di aula sampai kegiatan berakhir? Ataukah beliau akan pamit di tengah kegiatan berlangsung?

Prasangka saya runtuh. Tanpa canggung Bu Maryati bergabung dengan salah satu kelompok. Aktif dalam diskusi menyelesaikan tugas kelompok. Larut dalam melantangkan yel kelompok. Pun beliau bergeming, pantang meninggalkan aula sampai pewara menutup acara.

Keesokannya, Sabtu (26/09/2026), dua bus siap mengangkut rombongan ke Magelang. Bus 1 masih menunggu beberapa personel yang belum datang.

Bus 2 berangkat lebih dulu. Di kursi belakang pengemudi duduk dua ibu-ibu senior. Dua-duanya pengawas. Yang satu pengawas sekolah dari Dinas Pendidikan Provinsi, Bu Maryati. Satunya lagi pengawas Yayasan, Bu Sri Sulasmi.

Dua-duanya hadir menepati janji. Bu Sri Sulasmi alias Bu Combo sudah jauh-jauh hari menyatakan kesediaannya untuk ikut rombongan ke Magelang. Sedangkan Bu Maryati baru sehari sebelumnya diberi tahu dan diminta ikut. Sedianya Bu Combo juga akan hadir dalam lokakarya Jumat itu. Namun, akhirnya batal karena di rumah ada tamu dari jauh.

Dugaan saya semula, Bu Combo akan mengawal rombongan dengan mobil sendiri. Bersama Pak Combo dan putra-putri beliau. Lagi-lagi, dugaan saya luput.

Kehadiran Bu Combo membuat saya ayem. Kalau Bu Maryati—dengan alasan apa pun—tidak berkenan mengikuti kegiatan mancakrida, Bu Combo bisa menjadi mitra jagongan.

Ups! Untuk kali kesekian saya kecele. Keduanya tidak rela melewatkan keseruan bersama para anak buah. Senam sambil bernyanyi, mereka ikut. Tepuk tangan, mereka turut. Adu ketangkasan menyuwir-nyuwir kertas untuk membuat kalung, tidak dilewatkan. Bahkan kalung buatan Bu Combo mencatatkan rekor kalung terpanjang. Muat orang se-RT.

“Aku dhuwur dhewe. Susah menyesuaikan. Yang lain pendek-pendek,” keluh Bu Combo setelah gagal menjinakkan kebinalan “tongkat keramat”.

Sayangnya, Bu Combo angkat tangan pada sesi arung jeram. Faktor fisik menjadi alasan yang layak untuk diterima tanpa syarat. Sementara, Bu Maryati termakan provokasi. Sedianya beliau tidak akan ikut mengarungi Sungai Elo. Eee, ... akhirnya ikut mengayuh dayung juga.

“Mohon maaf, pakaian saya tidak match. Saya telanjur tidak membawa pakaian ganti. Enggak tahunya, harus ikut ciprat-cipratan juga,” akunya ketika menyampaikan sambutan dalam gala dinner. “Ini saya beli di depan sana tadi,” lanjutnya, sambil menunjuk setelan barunya.

Duh, tega dan berani nian teman-teman itu! Ibu Pengawas pun tak luput jadi sasaran ulah nakal.

Hmmm, ... ternyata ada juga orang yang ketika di atas bisa melupakan jarak dengan yang di bawah. Kesediaan Bu Maryati dan Bu Combo turut mengawal kami ke Magelang saja sebenarnya sudah cukup membuat saya berbesar hati. Seandainya beliau berdua hanya duduk manis di pinggir lapangan dan sesekali bertepuk tangan menyemangati kami, itu pun tidak mengurangi salut saya. Bahkan seandainya Bu Combo, yang notabene owner Yayasan, tidak sempat membersamai kami pun, saya 100% memaklumi.

Saya jadi menyesal. Dulu, ketika jadi sesuatu dan sempat mengajak pasukan jalan-jalan, kok saya tidak bernyali untuk iseng-iseng mengajak pengawas pembina sekolah kami?

 

Tabik.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Populer