5 Okt 2026

Lidi pun Jadi

“Menu outbound-nya apa saja, Bu?”

“Ini, Pak. Saya kirim saja, ya?” sahut Bu Mus, staf Yayasan yang sudah menerima brosur.

Sekejap kemudian, flyer mendarat di jendela WhatsApp saya. Saya buka. Ups, nihil! Tidak ada perincian gimnya. Hanya tertulis “aneka game”.

Tidak ada jaminan bahwa gim-gim yang disajikan nanti menjawab kebutuhan Yayasan. Belum ada komunikasi antara kami dan biro mancakrida. Kami memercayakan urusan mancakrida kepada biro perjalanan. Mereka tidak punya tim operator mancakrida. Maka, digandenglah pihak ketiga.

“Kalau tidak memakai biro, bagaimana?” usul saya. “Nanti biar saya saja yang memandu. Eman-eman kalau menu gimnya tidak relevan dengan kebutuhan kita.”

Jemawa! Ya, sesekali boleh dan perlu. Demi mengejar maslahat. Atau menghindari mudarat.

Semua setuju. Lebih tepatnya, merestui.

“Di sini ada helium stick?” selidik saya.

Betul-betul saya bermaksud menyelidik. Kalau Yayasan atau Sekolah punya alat yang saya sebut, berarti gim yang serta-merta terlintas di kepala saya itu sudah kehilangan unsur kebaruan. Tidak ada “wow”-nya.

“Yesss!” sorak saya dalam batin.

Kesan yang saya tangkap, semua masih asing. Tampaknya, wujud helium stick itu saja belum terbayang.

Saya mantap untuk menyuguhkan gim “pipa gila” kepada teman-teman. Konsekuensinya, saya mesti mendapatkan alatnya. Saya menyambangi sejumlah toko bahan bangunan. Nihil. Ada saran untuk membeli di toko online. Saya mempertimbangkannya sebagai alternatif pamungkas kalau tidak mendapatkannya di Banyumanik dan sekitarnya.

Akhirnya saya mencoba masuk ke toko kaca dan aluminium. Alhamdulillah, ada. Selama ini saya sangka toko tersebut hanya menyediakan barang jadi: perabot berbahan kaca dan aluminium. Ternyata tersedia pula bahan-bahannya. Stok melimpah. Model dan ukurannya variatif.

Saya menunjuk salah satu varian pipa aluminium. Diameternya kira-kira 1 cm. Penjaga toko mengambilkan satu lonjor. Saya timang-timang. Pas. Beratnya sesuai dengan yang saya inginkan. Saya minta diambilkan satu lagi, yang diameternya sama. Sekalian saya minta dipotongkan, masing-masing menjadi tiga potong. Alhasil, saya mendapat enam lonjor. Panjangnya masing-masing 2 meter.

“Peralatan yang dibutuhkan untuk outbound nanti apa saja, Pak?” tanya Bu Fitri, Kepala SMK cum Ketua Panitia, dalam rapat koordinasi awal.

“Itu, sudah siap, Bu,” jawab saya sambil menunjuk pipa paralon yang tersandar di sudut antara pilar dan dinding di samping saya.

“Cuma itu saja?” kejar Bu Fitri.

“Emmm, ... sama ini, tolong disiapkan kertas limbah sebanyak dua kali jumlah peserta,” sahut saya.

Ide tentang kertas itu pun muncul secara spontan. Kertas limbah yang saya maksud itu kertas yang sudah ada tulisannya tetapi tidak terpakai. Bisa naskah yang batal dipakai karena terdapat kesalahan, bisa pula dokumen bekas yang sudah tidak diperlukan lagi.

“Rundown kegiatan outbound-nya besok bagaimana, Pak?” tanya Bu Dyah, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMK, sekitar sepekan menjelang pelaksanaan mancakrida.

Bersama Pak Nanang, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMP, Bu Dyah didaulat untuk membantu saya memandu mancakrida.

“Nah, itu yang sulit bagi saya, Bu,” sahut saya. “Saya ini terbiasa spontan, sih.”

Demi mengurangi volume kebimbangan Bu Dyah dan Pak Nanang, saya spill sedikit kegunaan dan penggunaan peralatan gimnya: kertas dan pipa.

“Kertas itu nanti dipakai untuk uji kreativitas. Teman-teman diminta untuk membuat sesuatu dari kertas itu. Kalau pekerjaan pertama gagal dan kertasnya rusak, teman-teman diberi kesempatan untuk remedi. Itulah kenapa jumlah kertasnya dua kali jumlah peserta,” terang saya.

“Jadi, kita enggak perlu bawa bolpoin, Pak?” sela Pak Nanang.

“Enggak. Enggak ada tulis-menulis.”

“Kalau pipanya itu untuk apa, Pak?” timpal Bu Dyah.

“Nah, kalau pipa itu nanti untuk permainan beregu.”

Saya ambil pipa paralon yang tergeletak di bawah meja. Saya buka tutup salah satu ujungnya. Saya keluarkan satu lonjor pipa aluminium dari dalam pipa paralon.

“Ini pipa ajaib. Nanti teman-teman kita minta untuk bersama-sama menurunkan pipa ini sampai menyentuh tanah. Biasanya, yang terjadi justru pipa ini terangkat naik. Sampai 2 jam pun, belum tentu ada regu yang berhasil. Tapi, dihentikan setelah 5 menit juga enggak apa-apa. Maka, nanti waktunya fleksibel saja.”

Maklum, saya penggemar Srimulat, yang akting para pemainnya sarat improvisasi. Spontanitas dalam menghadirkan polah dan celoteh kocak itulah yang menjadikan panggung Srimulat terasa hidup, luwes, dan natural.

Sebagai penggemar, saya suka meniru gaya penyutradaraan ala Srimulat itu. Ketika menyusun rencana pembelajaran, misalnya, saya menghindari pemerincian langkah-langkah kegiatan secara mendetail. Apalagi, sampai membatasi waktu: langkah ini sekian menit, langkah itu sekian menit.

Pun demikian ketika meracik menu mancakrida ini. Waktu yang tersedia sekitar 2 jam. Saya menyiapkan dua gim. Masing-masing berapa jam atau berapa menit? Bisa 5 menit, bisa 5 jam.

“Yang penting, nanti kita eksplorasi nilai-nilai yang dapat dipetik dari tiap-tiap gim,” tegas saya.

“Jadi, nanti kami siapkan teman-teman. Selanjutnya kami siap mengikuti arahan Bapak. Begitu, ya, Pak Nanang?” simpul Bu Dyah.

Bu Dyah benar. Saya tidak bisa menyampaikan detail kegiatan langkah demi langkah. Saya juga tidak ingin mendikte kedua “asisten” saya, bagaimana formasi barisan harus dibentuk. Keduanya andalan pramuka. Layak untuk diberi otonomi dan kepercayaan.

“Lo, Pak Teguh enggak jadi membawa timnya?” sela Pak Heru, Kepala SMP cum Wakil Ketua Panitia, yang diam-diam mencuri dengar percakapan kami.

Ah, Pak Heru berlebihan. Dari mana beliau mendengar hoaks bahwa saya punya pasukan khusus? Saya tidak pernah punya tim permanen untuk “proyek” apa pun. Di mana saya berpijak, di situlah saya menemukan tim kerja. Dengan siapa saya bekerja, dengan merekalah saya membangun tim.

Sarat Pamrih

Kelancangan saya untuk mengambil alih pelaksanaan mancakrida itu tidak ikhlas. Sarat pamrih.

Pertama, seperti disinggung di awal tulisan ini: mengurangi risiko bias orientasi. Mancakrida tidak melulu ­fun game. Ada nilai-nilai yang mesti dapat dihayati. Nilai-nilai itu diidentifikasi berdasarkan kebutuhan klien. Jadi, untuk menentukan gim, fasilitator mancakrida mesti mengidentifikasi nilai-nilai yang relevan untuk menjawab kebutuhan klien. Tanpa itu, mancakrida rentan tergelincir ke permainan yang fun dan seru belaka.

Kedua, mengurangi risiko pengabaian asas Yayasan. Kendati tidak eksplisit tercantum dalam namanya, Yayasan berafiliasi dengan sistem syariat tertentu. Ini berimplikasi pada kaidah interaksi jasmaniah antarlawan jenis. Setidaknya, kaidah tersebut mesti diperhatikan dalam formasi barisan dan komposisi regu peserta.

Ketiga, mengurangi risiko kelelahan. Mancakrida hanya salah satu menu dalam rangkaian kegiatan sehari. Setelah mancakrida, masih ada arung jeram (rafting) dan malam keakraban (gala dinner). Arung jeram membutuhkan kondisi fisik prima. Kalau energinya sudah terkuras dalam mancakrida, teman-teman terancam gagal menikmati keseruan mengarungi gugusan jeram di sepanjang Kali Elo. Demi mengejar keseruan dan kehebohan, jangan-jangan operator mancakrida memforsir peserta untuk menyelesaikan banyak gim fisik.

Keempat, ini yang paling seksi untuk dikupas: biaya. Biro memasang tarif seratus ribu per peserta. Kalau jumlah pesertanya 70 orang, berarti Yayasan harus mengeluarkan 7 juta.

Naluri numerik saya tergelitik. Bukan soal efisiensi semata. Ada ketimpangan ekstrem yang mengusik ketenteraman saya.

Taruh kata, 25% dari biaya itu dipakai untuk pengadaan properti dan sisanya untuk honor fasilitator (instruktur). Saya berasumsi, 1 instruktur menghandel 10 peserta. Berarti, setiap instruktur mengantongi 750 ribu. Durasi kerjanya 2 jam.

Di sini, 120 menit itu setara 3 jam pelajaran (jp). Kalau punya kelebihan mengajar 3 jp per pekan, teman-teman menerima honor 75 ribu per bulan. Dalam 10 bulan baru terkumpul 750 ribu. Durasi kerjanya = 10 (jumlah bulan) x 4 (jumlah pekan per bulan) x 120 menit (kelebihan mengajar per pekan).

Jadi, harga di sana setara dengan 40 kali di sini. Alias, nilai di sini hanya 2,5% dari yang di sana. Kok seperti kadar zakat emas, ya?

Tidak Harus Rotan

Saya bukan profesional dalam dunia mancakrida. Jangankan memegang sertifikat dan lisensi, mengikuti pelatihan instruktur pun saya tidak pernah. Saya tidak punya tim, apalagi biro jasa mancakrida. Keberanian menawarkan diri untuk memandu mancakrida itu muncul dari the power of kepepet belaka. Kepepet oleh sederet “pamrih” tadi.

Karena kepepet, saya lantas mulat sarira hangrasa wani. Ini power. Saya beberapa kali mengikuti kegiatan mancakrida. Beberapa kali pula saya membaca petunjuk pelaksanaan mancakrida. Tidak jarang saya menonton video demonstrasinya untuk memperjelas petunjuk itu.

Bekal pengetahuan sudah saya kantongi. Sudah saatnya mencari bekal yang belum tergenggam: keterampilan. Dari mana dapat diperoleh keterampilan itu? Tentu, dari praktik. Hanya dari praktik!

Syahdan, saya memberanikan diri mengambil peluang untuk mempraktikkan pengetahuan. Tidak takut bercacat sehingga tercacat? Kecacatan dan pencacatan itulah gerbang menuju perbaikan.

Bagian penutup ini boleh juga dibaca sebagai provokasi. Mayoritas teman-teman saya masih muda. Kalau pensiunan saja berani mencoba hal baru, adakah alasan bagi yang muda untuk takut? Toh, mancakrida itu salah satu model experiential learning. Bukan dunia yang sama sekali asing dari diskursus pendidikan.

Penebah kasur memang umumnya terbuat dari rotan. Jika rotan tiada, sapu lidi pun jadi.

 

Tabik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Populer