“Menu outbound-nya
apa saja, Bu?”
“Ini, Pak. Saya
kirim saja, ya?” sahut Bu Mus, staf Yayasan yang sudah menerima brosur.
Sekejap kemudian, flyer mendarat di jendela WhatsApp saya. Saya buka. Ups, nihil! Tidak ada perincian gimnya. Hanya tertulis “aneka game”.
Tidak ada jaminan
bahwa gim-gim yang disajikan nanti menjawab kebutuhan Yayasan. Belum ada
komunikasi antara kami dan biro mancakrida. Kami memercayakan urusan mancakrida
kepada biro perjalanan. Mereka tidak punya tim operator mancakrida. Maka,
digandenglah pihak ketiga.
“Kalau tidak
memakai biro, bagaimana?” usul saya. “Nanti biar saya saja yang memandu. Eman-eman
kalau menu gimnya tidak relevan dengan kebutuhan kita.”
Jemawa! Ya, sesekali
boleh dan perlu. Demi mengejar maslahat. Atau menghindari mudarat.
Semua setuju.
Lebih tepatnya, merestui.
“Di sini ada helium
stick?” selidik saya.
Betul-betul saya bermaksud
menyelidik. Kalau Yayasan atau Sekolah punya alat yang saya sebut, berarti gim
yang serta-merta terlintas di kepala saya itu sudah kehilangan unsur kebaruan.
Tidak ada “wow”-nya.
“Yesss!” sorak saya dalam batin.
Kesan yang saya
tangkap, semua masih asing. Tampaknya, wujud helium stick itu saja belum
terbayang.
Saya mantap untuk
menyuguhkan gim “pipa gila” kepada teman-teman. Konsekuensinya, saya mesti
mendapatkan alatnya. Saya menyambangi sejumlah toko bahan bangunan. Nihil. Ada
saran untuk membeli di toko online. Saya mempertimbangkannya sebagai
alternatif pamungkas kalau tidak mendapatkannya di Banyumanik dan sekitarnya.
Akhirnya saya
mencoba masuk ke toko kaca dan aluminium. Alhamdulillah, ada. Selama ini saya
sangka toko tersebut hanya menyediakan barang jadi: perabot berbahan kaca dan
aluminium. Ternyata tersedia pula bahan-bahannya. Stok melimpah. Model dan
ukurannya variatif.
Saya menunjuk
salah satu varian pipa aluminium. Diameternya kira-kira 1 cm. Penjaga toko mengambilkan
satu lonjor. Saya timang-timang. Pas. Beratnya sesuai dengan yang saya
inginkan. Saya minta diambilkan satu lagi, yang diameternya sama. Sekalian saya
minta dipotongkan, masing-masing menjadi tiga potong. Alhasil, saya mendapat
enam lonjor. Panjangnya masing-masing 2 meter.
“Peralatan yang
dibutuhkan untuk outbound nanti apa saja, Pak?” tanya Bu Fitri, Kepala
SMK cum Ketua Panitia, dalam rapat koordinasi awal.
“Itu, sudah siap,
Bu,” jawab saya sambil menunjuk pipa paralon yang tersandar di sudut antara pilar
dan dinding di samping saya.
“Cuma itu saja?”
kejar Bu Fitri.
“Emmm, ... sama
ini, tolong disiapkan kertas limbah sebanyak dua kali jumlah peserta,” sahut
saya.
Ide tentang kertas
itu pun muncul secara spontan. Kertas limbah yang saya maksud itu kertas yang
sudah ada tulisannya tetapi tidak terpakai. Bisa naskah yang batal dipakai
karena terdapat kesalahan, bisa pula dokumen bekas yang sudah tidak diperlukan
lagi.
“Rundown
kegiatan outbound-nya besok bagaimana, Pak?” tanya Bu Dyah, Wakil Kepala
Sekolah Bidang Kesiswaan SMK, sekitar sepekan menjelang pelaksanaan mancakrida.
Bersama Pak
Nanang, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMP, Bu Dyah didaulat untuk
membantu saya memandu mancakrida.
“Nah, itu yang
sulit bagi saya, Bu,” sahut saya. “Saya ini terbiasa spontan, sih.”
Demi mengurangi volume
kebimbangan Bu Dyah dan Pak Nanang, saya spill sedikit kegunaan dan
penggunaan peralatan gimnya: kertas dan pipa.
“Kertas itu nanti dipakai
untuk uji kreativitas. Teman-teman diminta untuk membuat sesuatu dari kertas
itu. Kalau pekerjaan pertama gagal dan kertasnya rusak, teman-teman diberi
kesempatan untuk remedi. Itulah kenapa jumlah kertasnya dua kali jumlah peserta,”
terang saya.
“Jadi, kita enggak
perlu bawa bolpoin, Pak?” sela Pak Nanang.
“Enggak. Enggak
ada tulis-menulis.”
“Kalau pipanya itu
untuk apa, Pak?” timpal Bu Dyah.
“Nah, kalau pipa
itu nanti untuk permainan beregu.”
Saya ambil pipa
paralon yang tergeletak di bawah meja. Saya buka tutup salah satu ujungnya.
Saya keluarkan satu lonjor pipa aluminium dari dalam pipa paralon.
“Ini pipa ajaib. Nanti
teman-teman kita minta untuk bersama-sama menurunkan pipa ini sampai menyentuh
tanah. Biasanya, yang terjadi justru pipa ini terangkat naik. Sampai 2 jam pun,
belum tentu ada regu yang berhasil. Tapi, dihentikan setelah 5 menit juga
enggak apa-apa. Maka, nanti waktunya fleksibel saja.”
Maklum, saya
penggemar Srimulat, yang akting para pemainnya sarat improvisasi. Spontanitas
dalam menghadirkan polah dan celoteh kocak itulah yang menjadikan panggung
Srimulat terasa hidup, luwes, dan natural.
Sebagai penggemar,
saya suka meniru gaya penyutradaraan ala Srimulat itu. Ketika menyusun rencana
pembelajaran, misalnya, saya menghindari pemerincian langkah-langkah kegiatan secara
mendetail. Apalagi, sampai membatasi waktu: langkah ini sekian menit, langkah
itu sekian menit.
Pun demikian
ketika meracik menu mancakrida ini. Waktu yang tersedia sekitar 2 jam. Saya
menyiapkan dua gim. Masing-masing berapa jam atau berapa menit? Bisa 5 menit,
bisa 5 jam.
“Yang penting,
nanti kita eksplorasi nilai-nilai yang dapat dipetik dari tiap-tiap gim,” tegas
saya.
“Jadi, nanti kami
siapkan teman-teman. Selanjutnya kami siap mengikuti arahan Bapak. Begitu, ya,
Pak Nanang?” simpul Bu Dyah.
Bu Dyah benar.
Saya tidak bisa menyampaikan detail kegiatan langkah demi langkah. Saya juga
tidak ingin mendikte kedua “asisten” saya, bagaimana formasi barisan harus
dibentuk. Keduanya andalan pramuka. Layak untuk diberi otonomi dan kepercayaan.
“Lo, Pak Teguh
enggak jadi membawa timnya?” sela Pak Heru, Kepala SMP cum Wakil Ketua Panitia,
yang diam-diam mencuri dengar percakapan kami.
Ah, Pak Heru
berlebihan. Dari mana beliau mendengar hoaks bahwa saya punya pasukan khusus? Saya
tidak pernah punya tim permanen untuk “proyek” apa pun. Di mana saya berpijak,
di situlah saya menemukan tim kerja. Dengan siapa saya bekerja, dengan merekalah
saya membangun tim.
Sarat Pamrih
Kelancangan saya untuk
mengambil alih pelaksanaan mancakrida itu tidak ikhlas. Sarat pamrih.
Pertama, seperti
disinggung di awal tulisan ini: mengurangi risiko bias orientasi. Mancakrida tidak
melulu fun game. Ada nilai-nilai yang mesti dapat dihayati. Nilai-nilai
itu diidentifikasi berdasarkan kebutuhan klien. Jadi, untuk menentukan gim,
fasilitator mancakrida mesti mengidentifikasi nilai-nilai yang relevan untuk
menjawab kebutuhan klien. Tanpa itu, mancakrida rentan tergelincir ke permainan
yang fun dan seru belaka.
Kedua, mengurangi
risiko pengabaian asas Yayasan. Kendati tidak eksplisit tercantum dalam namanya,
Yayasan berafiliasi dengan sistem syariat tertentu. Ini berimplikasi pada kaidah
interaksi jasmaniah antarlawan jenis. Setidaknya, kaidah tersebut mesti
diperhatikan dalam formasi barisan dan komposisi regu peserta.
Ketiga, mengurangi
risiko kelelahan. Mancakrida hanya salah satu menu dalam rangkaian kegiatan
sehari. Setelah mancakrida, masih ada arung jeram (rafting) dan malam
keakraban (gala dinner). Arung jeram membutuhkan kondisi fisik prima.
Kalau energinya sudah terkuras dalam mancakrida, teman-teman terancam gagal
menikmati keseruan mengarungi gugusan jeram di sepanjang Kali Elo. Demi
mengejar keseruan dan kehebohan, jangan-jangan operator mancakrida memforsir peserta
untuk menyelesaikan banyak gim fisik.
Keempat, ini yang
paling seksi untuk dikupas: biaya. Biro memasang tarif seratus ribu per
peserta. Kalau jumlah pesertanya 70 orang, berarti Yayasan harus mengeluarkan 7
juta.
Naluri numerik
saya tergelitik. Bukan soal efisiensi semata. Ada ketimpangan ekstrem yang
mengusik ketenteraman saya.
Taruh kata, 25% dari biaya itu dipakai untuk pengadaan properti dan sisanya untuk honor fasilitator (instruktur). Saya
berasumsi, 1 instruktur menghandel 10 peserta. Berarti, setiap instruktur
mengantongi 750 ribu. Durasi kerjanya 2 jam.
Di sini, 120 menit
itu setara 3 jam pelajaran (jp). Kalau punya kelebihan mengajar 3 jp per pekan,
teman-teman menerima honor 75 ribu per bulan. Dalam 10 bulan baru terkumpul 750
ribu. Durasi kerjanya = 10 (jumlah bulan) x 4 (jumlah pekan per bulan) x 120 menit
(kelebihan mengajar per pekan).
Jadi, harga di
sana setara dengan 40 kali di sini. Alias, nilai di sini hanya 2,5% dari yang
di sana. Kok seperti kadar zakat emas, ya?
Tidak Harus Rotan
Saya bukan
profesional dalam dunia mancakrida. Jangankan memegang sertifikat dan lisensi, mengikuti
pelatihan instruktur pun saya tidak pernah. Saya tidak punya tim, apalagi biro jasa mancakrida. Keberanian menawarkan diri untuk memandu mancakrida itu muncul dari
the power of kepepet belaka. Kepepet oleh sederet “pamrih” tadi.
Karena kepepet,
saya lantas mulat sarira hangrasa wani. Ini power. Saya beberapa
kali mengikuti kegiatan mancakrida. Beberapa kali pula saya membaca petunjuk
pelaksanaan mancakrida. Tidak jarang saya menonton video demonstrasinya untuk
memperjelas petunjuk itu.
Bekal pengetahuan
sudah saya kantongi. Sudah saatnya mencari bekal yang belum tergenggam: keterampilan.
Dari mana dapat diperoleh keterampilan itu? Tentu, dari praktik. Hanya dari
praktik!
Syahdan, saya
memberanikan diri mengambil peluang untuk mempraktikkan pengetahuan. Tidak
takut bercacat sehingga tercacat? Kecacatan dan pencacatan itulah gerbang
menuju perbaikan.
Bagian penutup ini
boleh juga dibaca sebagai provokasi. Mayoritas teman-teman saya masih muda. Kalau
pensiunan saja berani mencoba hal baru, adakah alasan bagi yang muda untuk
takut? Toh, mancakrida itu salah satu model experiential learning. Bukan
dunia yang sama sekali asing dari diskursus pendidikan.
Penebah kasur
memang umumnya terbuat dari rotan. Jika rotan tiada, sapu lidi pun jadi.
Tabik.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar