30 Sep 2026

Membongkar Sekat, Membedah Sumbat

Bangga dengan kalung terpanjang buatan sendiri

Jam baru menunjukkan pukul 05.30. Dua unit bus besar sudah terparkir di depan gerbang SMP Eka Sakti dan SMK Hidayah Semarang. Orang-orang berlalu-lalang di sekitar bus. Ada yang menenteng tas jinjing berbagai ukuran. Ada yang menggendong ransel di punggungnya. Ada pula yang melenggang santai dengan tas selempang menempel di dadanya.

Beberapa orang lainnya hilir mudik di antara bus dan gedung sekolah. Mereka mengangkut perbekalan dari ruang sekretariat ke bagasi bus. Dalam sekejap bagasi kedua bus yang cukup luas itu mendadak penuh sesak. Barang-barang bawaan pribadi berbaur dengan perlengkapan kegiatan yang disediakan Panitia.

Sabtu (26/9) pagi itu Yayasan Eka Sakti Banyumanik—lembaga penyelenggara SMP Eka sakti dan SMK Hidayah—memberangkatkan seluruh pegawainya ke Magelang. Agendanya dikemas dalam kegiatan mancakrida (outbound training), arung jeram (rafting), dan malam keakraban (gala dinner).

Kegiatan di luar kota itu melengkapi kegiatan Capacity Building yang berlangsung selama dua hari. Sehari sebelumnya, rangkaian kegiatan diawali dengan lokakarya “Leaderhip and Teamwork” di aula sekolah. Dalam lokakarya setengah hari itu, Yayasan menggandeng Vision College sebagai fasilitator. 

Ketua Yayasan, Tri Waluyo, dalam sambutannya memantik kesadaran para guru dan tenaga kependidikan betapa pentingnya kerja sama (teamwork) dalam mewujudkan cita-cita organisasi.

“Seorang guru yang hebat tidak akan mampu menghasilkan sekolah yang hebat tanpa keterlibatan seluruh tim,” papar Pak Tri, sapaan akrabnya. “Untuk mewujudkan sekolah yang hebat diperlukan kolaborasi antarwarga sekolah, sesuai dengan peran dan fungsinya masing-masing” lanjutnya. “Semua komponen harus mau berbagi praktik baik.”

Selaras dengan pesan Ketua Yayasan, instruktur yang juga CEO Vision College, Pak Agusmanto, memformulasikan faktor-faktor kunci kepemimpinan dan kerja sama yang efektif dalam 7K: komunikasi, koordinasi, kolaborasi, kepercayaan, komitmen, kepedulian/kepekaan, dan konsistensi.

Asisten instruktur, Mas Alwi, membagi peserta ke dalam tujuh kelompok, sesuai dengan jumlah faktor kunci. Masing-masing diberi nama dengan satu faktor kunci. Tiap-tiap kelompok, melalui diskusi, diberi kesempatan untuk merumuskan pengertian faktor kunci yang menjadi nama kelompoknya. Kemudian mereka memprediksi manfaat yang didapat jika faktor tersebut hadir dan kerugian yang timbul akibat ketidakhadiran faktor tersebut.

Tidak berhenti di situ, peserta juga diminta menyajikan contoh riil penerapan faktor-faktor kunci itu dalam keseharian aktivitas sekolah. Setelah selesai diskusi, tiap-tiap kelompok mempresentasikan hasil kerjanya. Selama sesi presentasi, luapan ekspresi antusiasme peserta tak terbendung. Wajah berbinar berpadu dengan gerak tubuh penuh energi.

Suasana gayeng begitu terasa sepanjang kegiatan berlangsung. “Sayang, waktunya terlalu singkat,” komentar Pak Tri usai penutupan lokakarya.

Kalung Terpanjang

Menjelang pukul 09.00 rombongan sampai di rumah makan Progosari, Mungkid, Magelang. Kedua bus diparkir di pelataran rumah makan. Rombongan satu per satu turun dari bus. Bukan untuk sarapan. Mereka segera pindah ke mobil antar jemput yang sudah menunggu. Mobil-mobil angkot itu siap mengantar rombongan ke Sungai Elo.

Sebelum mengarungi jeram di sepanjang aliran Sungai Elo, rombongan singgah di lokasi keberangkatan. Di sana terdapat lapangan yang biasa menjadi tempat permainan outdoor. Tidak luas, tetapi cukup untuk menampung seluruh peserta, 70-an orang.

Di atas hamparan rumput yang masih bertahan hijau di puncak kemarau, rombongan mengikuti kegiatan mancakrida. Dibantu dua relawan, Pak Nanang dan Bu Dyah—masing-masing Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMP dan SMK—saya didaulat untuk memandu mancakrida.

Untuk pemanasan, saya mengajak para peserta melakukan senam “kepala pundak lutut kaki”. Tentu, mereka melakukan gerakan senam sambil bernyanyi riang. Serunya lagi, lagu anak-anak itu dimodifikasi.

Setelah kehangatan mulai terasa, peserta menerima kertas HVS ukuran folio, masing-masing satu lembar. Bukan kertas baru yang masih kosong tanpa tulisan. Kertas-kertas itu hanya limbah, bekas dokumen yang sudah tidak terpakai. 

Peserta saya tantang untuk menjadikan kertas itu sebagai kalung. Bebas, cara dan teknik apa yang dipakai. Syaratnya, kalung harus utuh. Tidak boleh ada sambungan.

Mayoritas peserta berhasil. Mereka melubangi kertas itu sedemikian rupa. Alhasil, kepala bisa masuk. Namun, beberapa peserta gagal.

“Kepalaku besar. Jadi, enggak muat,” keluh salah seorang peserta.

Di antara sekian yang berhasil, dua orang menghasilkan kalung yang cukup mencolok: amat panjang. Bu Anggrahini (guru IPS SMP) dan Bu Risti (guru RPL SMK) cukup kreatif dalam membuat kalung dari kertas. Saking panjangnya, kalungnya muat dua atau tiga orang sekaligus. 

Entah dari mana keduanya memperoleh keterampilan teknis itu. Mungkin mereka pernah membuat kalung serupa sebelumnya. Atau, mungkin juga mereka menemukan ide kreatif seketika itu.

Saya angkat topi atas kreativitas mereka. Tak pelak, keduanya saya daulat menjadi tutor bagi para sejawatnya. 

Rupanya, dua teman baru saya itu berbeda karakter. Bu Risti penuh percaya diri berdiri di tengah lingkaran yang terbentuk oleh barisan teman-teman. Sepasang tangannya sibuk mendemonstrasikan cara menyuwir-nyuwir kertas. Sepasang bibirnya sesekali melengkapi demonstrasinya dengan penjelasan verbal. Sementara, Bu Anggrahini memilih menjadi tutor privat. Beliau berkeliling menghampiri teman-teman dan menuntun mereka satu per satu.

Di sudut lapangan, duduk seorang perempuan di atas kursi. Beliau peserta paling senior dalam kegiatan ini. Tampak khusyuk beliau menyuwir-nyuwir kertas bahan kalungnya. Hiruk pikuk teman-teman tak dihiraukan.

Lebar bilah-bilah yang dihasilkan cukup kecil. Sekitar setengah senti.

“Keterampilan merajang jipang akhirnya berguna di sini,” ucapnya ketika saya mendekat.

Ah, iya. Saya pernah mendengar, Bu Hajah Sri Sulasmi masih suka memasak sendiri untuk keperluan makan keluarganya. Bahkan, meskipun di sekitar tempat tinggalnya sudah menjamur supermarket, beliau tetap lebih suka berbelanja di pasar tradisional. Kebiasaan langka untuk ukuran ibu-ibu sekelas beliau.

Begitulah pilihan gaya hidup Ketua Pengawas Yayasan kami. Kepiawaian meracik sayur-mayur di dapur dibawa pula ke arena mancakrida. Hasilnya, kalung kertas terpanjang sedunia yang pernah saya jumpai.

Usai semua berhasil membuat kalung kertas, para peserta berfoto bersama. Tentu, posenya memamerkan kalung hasil karya masing-masing.

Dipermainkan Pipa Gila

“Di pojok sana ada benda anyaman berwarna hijau yang sudah menunggu. Silakan Ibu/Bapak datangi benda itu sambil membawa oleh-oleh untuknya,” instruksi saya sambil menunjuk keranjang sampah di sudut bangunan sebelah lapangan.

Para peserta bergegas memunguti sisa bahan prakaryanya lalu menyimpannya di keranjang sampah.

“Priiit, ... priiit, ... priiit!” Saya tiup peluit kencang-kencang. “Kembali berbaris membentuk lingkaran!” teriak saya.

Sebagian peserta tak kunjung kembali ke lapangan. Ups, rupanya mereka “kesasar”. Usai menyimpan sampah, mereka “terdampar” di meja makan.

Setelah saya panggil berulang-ulang, akhirnya mereka kembali ke lapangan. Dua barisan melingkar terbentuk. Lingkaran dalam, barisan putra. Lingkaran luar, barisan putri. Pasukan putra saya bagi menjadi empat regu: A, B, C, dan D. Pasukan putri juga membelah diri menjadi empat regu: E, F, G, dan H. Tiap-tiap regu kemudian berbaris berbanjar.

“Saya menyebutnya TEAM, bukan TIM,” tegas saya. “Sebab, TEAM itu ‘Together Everybody Achieves More’. Dengan bersama, setiap orang meraih hasil yang lebih besar. Sedangkan TIM, ‘This Is Me’. Kalau berhasil, itu karena AKU,” terang saya.

Bu Dyah dan Pak Nanang melakukan suit. Masing-masing mewakili pasukan putri dan pasukan putra. Bu Dyah menjulurkan jari kelingking. Pak Nanang, ibu jari. Bu Dyah menang. Empat regu putri main duluan.

Empat regu putri, masing-masing membentuk sepasang barisan yang saling berhadapan. Kedua tangan mereka dibentangkan ke depan. Jari telunjuk dijulurkan horizontal ke depan. Empat jari yang lain menggenggam.

Di atas jajaran telunjuk dibentangkan sebatang pipa aluminium berdiameter 1 cm. Tugas mereka, bersama-sama menurunkan pipa itu hingga menyentuh tanah. Jari-jari telunjuk harus tetap dalam posisi horizontal, tidak boleh ditegakkan atau didongakkan. Antartelunjuk harus saling terpisah, tidak boleh ada dua atau lebih telunjuk yang bersentuhan. Semua telunjuk harus selalu menempel pada pipa.

Riuh. Semua menghendaki pipa turun. Perlahan-lahan mereka menurunkan telunjuknya masing-masing. Harapannya, pipa ikut turun. Eits, yang terjadi sebaliknya. Pipa justru terangkat ke atas. Ada regu yang kompak menaikkan pipa bersama-sama. Ada pula yang tidak akur: pipa turun di satu ujung, tetapi naik di ujung yang lain.

Lima belas menit berlalu. Tidak satu regu pun berhasil membawa pipa turun ke tanah. Ganti regu putra bermain. Nasib yang sama menghampiri mereka. Alih-alih memainkan pipa, justru mereka dipermainkan oleh “tongkat keramat” itu.

Berjuang menaklukkan si pipa gila

Ya, pipa aluminium memang bisa menjelma menjadi “benda magis”. Seolah-olah dia bisa melayang di udara. Itulah sebabnya, di kalangan kru mancakrida, pipa superringan itu dijuluki helium stick.

“Saya jadi heran. Sebenarnya pipanya itu dikasih apa, sih, Pak?” protes Bu Fitri, Kepala SMK, ketika regunya menerima hadiah sebagai team terseru.

Sesungguhnya bukan pipanya yang mendadak keramat, melainkan para pemainnya yang kehilangan “karamah”. “Mantra” untuk mengundang karamah sudah diresepkan oleh Pak Agusmanto: 7K. Rupanya teman-teman melupakan mantra itu ketika berjuang untuk menaklukkan si pipa gila. Bahkan, mereka menafikan kehadiran pemimpin dalam tugas beregu itu.

Kalau 7K—komunikasi, koordinasi, kolaborasi, kepercayaan, komitmen, kepdulian/kepekaan, dan konsistensi—diibaratkan rukun teamwork, maka leadership menjadi syarat sahnya kerja kolektif dalam sebuah organisasi.

Galau Dinner 

Mancakrida disudahi lebih awal dari yang dijadwalkan. Terdamparnya sebagian peserta di ruang makan menjadi tengara: energi mereka sudah banyak terkuras. Bukan oleh kerasnya kegiatan, melainkan oleh sengatan sang surya yang tak punya iba.

Pukul 11.30 kami menyerbu dus-dus yang berjajar dan bertumpuk di meja panjang. Makan siang berlanjut istirahat dan salat Zuhur. Setelah itu, kami beralih ke kegiatan yang jauh lebih seru: arung jeram.

Lima belas unit perahu karet disiapkan di dermaga. Satu demi satu perahu meninggalkan dermaga. Selain membawa rombongan wisatawan dari Semarang, tiap-tiap perahu dinakhodai seorang pemandu. Semua mengenakan perlengkapan safety: rompi pelampung dan helm. Tidak ketinggalan, sebatang dayung tergenggam di tangan.

Siap mendayung

Dayung bukan sembarang dayung. Bagi kami, dayung bukan hanya alat untuk mengendalikan laju perahu. Dayung juga berfungsi sebagai sekop untuk melontarkan air ke teman-teman di perahu lain.

Begitulah, keseruan bermain dan kegembiraan bergojek tidak pernah mengenal batas usia.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan malam keakraban. Acaranya digelar di sebuah rumah makan, masih di bilangan Magelang. Maklum, tajuknya gala dinner. Gara-gara nama itu, sebelum berangkat ke Magelang beberapa teman sempat galau.

“Harus pakai jas?”

“Mesti pakai kebaya?”

Padahal, format acaranya hanya dirancang semacam malam keakraban ala penyambutan mahasiswa baru di kampus-kampus itu. Tujuannya, membongkar sekat dan membedah sumbat. Sekat interpesonal, sumbat intrapersonal.

Ya, siapa sangka gala dinner bisa terpeleset menjadi galau dinner?


Tabik.

*) Tulisan ini disadur dari artikel berjudul “Capacity Building ala Yayasan Eka Sakti Banyumanik” yang dimuat di kompasiana (29/09/2026).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Populer