“Surah An-Naba’, silakan.”
“Belum hafal,” sahut DK.
Saya kaget. Asumsi saya, ia sudah hafal seluruh surah Al-Qur’an pada juz ke-30 itu. Hafal juz terakhir Al-Qur’an menjadi salah satu jaminan mutu lulusan sekolahnya yang terdahulu.
DK seorang murid kelas 8 di sebuah SMP swasta. Selasa (28/07) pagi DK terjadwalkan tes hafalan Al-Qur’an. Tes diadakan untuk keperluan verifikasi kelayakan kandidat penerima beasiswa. Sekolah DK menyediakan beasiswa tertentu untuk murid-murid yang hafal Al-Qur’an dalam jumlah juz tertentu. DK terdaftar sebagai nomine hafal satu juz.
“Juz berapa, Mas?” tanya saya setelah DK duduk di depan meja kerja saya.
“Juz 30,” jawabnya.
Saya lalu mengajaknya mengobrol sejenak. “Bocahé dhéwé,” batin saya, begitu ia menyebut nama sekolahnya terdahulu. Data itu pula yang membuat optimistis: DK pasti lolos.
Namun, jawaban DK memupus optimisme saya. Tidak hanya surah An-Naba’ yang ia tidak hafal. Dari 37 surah di juz ke-30, tidak sampai 50% yang ia hafal dengan baik. Usut punya usut, sejak lulus SD, ia tidak pernah mengulang hafalannya. Bahkan, sekadar membaca Al-Qur’an pun tidak ia lakukan lagi.
Saya melepas kepergian DK dari ruang kerja saya dengan kecewa bercampur iba. Kepadanya saya sarankan untuk meremediasi hafalannya. Saya yakin, ia tidak butuh waktu lama untuk mengembalikan hafalan yang pernah ia peroleh itu. Saya tunggu kedatangannya kembali bersama ayat-ayat juz ‘amma yang dialunkan secara fasih dan tartil.
Terdengar ketukan di pintu ruang kerja saya. Pak Satpam mengantar seorang gadis mungil. Saya silakan dia duduk di kursi yang baru saja ditinggalkan DK. Sama seperti DK, NA datang untuk memeriksakan hafalannya.
“Dua puluh sembilan,” jawab NA ketika saya tanyakan juz yang akan ditashihkan hafalannya.
Tahun lalu dia lulus hafalan juz ke-30. Beasiswa pun dia dapatkan. Orang tuanya tidak perlu membayar uang sekolahnya tahun pertama. Tahun ini dia hendak mengejar beasiswa lagi.
Surah Al-Mulk segera dia lafazkan. Lancar sekali. Begitu pula sepuluh surah berikutnya. Sayang, NA membuat kesalahan lafaz pada sejumlah ayat. Ada yang salah harakat. Ada yang salah huruf. Ada juga huruf dan kata yang hilang.
Setiap mengalami salah lafaz, NA saya bukakan mushaf. Saya tunjukkan tulisan ayatnya. Dia mengidentifikasi sendiri kesalahannya. Tidak ada celah untuk tidak mengakuinya.
Seusai melafazkan surah Al-Mursalāt, NA saya tanya: dia lulus atau tidak. NA menggelengkan kepalanya. Saya sarankan agar dia memperbaiki lafaz-lafaz yang salah. Syaratnya, NA mesti disimak oleh orang yang têngèn sekaligus têgêl. Dua sifat ini memegang peran penting dalam memperbaiki hafalan NA. Dia lulusan sekolah yang menjenamakan diri sebagai sahabat Al-Qur’an. Jadi, asumsi saya, dia sudah biasa dituntut membaca Al-Qur’an dengan toleransi nol terhadap kesalahan lafaz.
Seperti DK, NA pun saya tunggu kedatangannya kembali. Tentu dengan hafalan yang sudah dikoreksi.
Tamu saya berikutnya, Kh. Ia juga murid kelas 8. Materi hafalan yang disetorkan sama dengan NA: juz ke-29. Dari surah Al-Mulk hingga surah Al-Insān berhasil ia lafazkan secara tartil dan lancar. Tiba giliran surah Al-Mursalāt, Kh mulai menjumpai masalah. Setiap selesai ayat wailuyyauma’iżillilmukażibīn, Kh selalu bimbang untuk melanjutkan ayat berikutnya. Maklum lafaz tersebut diulang pada sepuluh ayat.
Kh saya tantang untuk memperbaiki hafalan surah Al-Mursalāt dalam waktu 1 x 24 jam. Esok hari ia harus sudah unjuk hafalan surah ke-77 itu. Kh menyanggupi.
“Insyaallah, 15,” jawab MY tenang.
Tamu saya kali ini gadis kelas 10. Dia menyelesaikan SMP-nya sambil mondok di pesntren tahfiz. Beberapa hari sebelumnya sudah tersiar kabar, ada calon murid baru SMK yang hafal 15 juz. Spontan saya mengusulkan agar yang bersangkutan dibebaskan dari segala iuran hingga lulus.
Siang itu dia setoran hafalan dua juz: 30 dan 29. Lancar. Tartil. Fasih.
“Mumtaz!” tulis saya di lembar catatan.
MF datang hari berikutnya. Murid kelas 9 ini unjuk hafalan juz ke-28. Katanya, hafalannya juz ke-30 dan 29 sudah dinyatakan lulus tahun lalu.
“Mujādalah, ... siap?” tanya saya.
Ia hanya mengangguk. Lalu mulailah ia merapal ayat demi ayat. Temponya cepat. Lancar sekali. Sampai di ayat kesekian, berhenti cukup lama. Saya pancing dengan satu kata. Ia lanjutkan hingga tuntas. Kehilangan awal ayat seperti itu sering ia alami di sejumlah surah. Reaksi saya sama: memancing dengan satu kata. Kalau MF masih gagal melanjutkan, saya tambah satu kata lagi.
Akhirnya MF tuntas unjuk hafalan sembilan surah. Lulus.
“Kok pindah, kenapa?”
“Tidak betah,” jawab AH.
Gadis kelas 9 ini semula mondok di luar kota. Baru menjalaninya selama tiga semester, dia pulang dan melanjutkan sekolah di sini.
“Oh, jadi, kamu sejak dulu tinggal di sini?”
Saya sempat menyangka, keluarganya semula tinggal di kota tempat dia mondok. Ternyata saya salah tebak.
“Ayahmu bekerja di mana?”
AH menceritakan pekerjaan yang dulu ditekuni ayahnya. Namun, sekarang ayahnya sudah tidak bekerja.
“Usianya berapa?”
“Mungkin 50-an.”
“Ibu bekerja?”
“Ya.”
Lalu AH menyebut pekerjaan ibunya. Lengkap dengan tempat kerjanya. Ups! Makanya, saya merasa tidak asing dengan roman muka gadis ini.
Materi hafalan yang disetorkan AH lain dari teman-temannya: juz ke-1.
“Yūqinūn,” sergah saya seketika dia menyelesaikan ayat ke-4 surah Al-Baqarah.
Dia keliru pada kata terakhir ayat tersebut: “Yunfiqūn.”
Pada ayat-ayat selanjutnya, ada-ada saja kesalahan yang dialami AH. Unjuk hafalannya saya hentikan di halaman 4. AH saya rujuk ke seorang ustazah yang saya kenal. Beliau juga saling kenal baik dengan ayah-ibu AH. Saya yakin, di bawah bimbingan beliau, AH bisa memperbaiki hafalan dan bacaannya.
Tamu saya yang terakhir, gadis kelas 9 juga: Ma. Dia hadir dengan setengah hati saja. Dia menyadari kekurangannya: hafalannya belum kokoh. Saya coba membesarkan hatinya. Akhirnya dia mau mencoba. Bismillah.
Surah At-Taḥrīm dia lafazkan secara sempurna. Begitu pun empat surah sebelumnya. Namun, hafalannya tampak keteteran pada empat surah yang lain.
Saya tawarkan remedi empat surah pertama dalam juz ke-28 itu. Semula Ma ogah-ogahan, tapi kemudian berubah pikiran.
***
Dari tujuh tamu saya dalam dua hari itu, hanya dua yang tidak membuat saya bimbang ketika harus mengambil keputusan: MY dan MF. Lima yang lain sempat menyulut perang batin.
Tidak meluluskan DK sama saja mencoreng wajah sendiri. Betapa tidak! Ia menetas dari petarangan yang lama saya erami.
NA pandai mengiba. Saya bisa merasakan betapa besar harapannya untuk mendapat predikat lulus. Saya juga yakin, status lulus itu bakal punya efek yang cukup berarti bagi keluarganya.
Hafalan Kh hanya cacat pada satu surah. Itu pun lantaran kesulitan yang lazim dialami kebanyakan penghafal Al-Qur’an. Andai saya maklumi, maafkan, dan abaikan kekurangan Kh, tentu saya layak menerima sanjungan sebagai orang mulia nan pemurah.
Terhadap AH, saya tidak punya alasan untuk tidak membantu. Ibunya kolega saya. Kondisi kesehatan ayahnya sangat layak untuk diprioritaskan.
Ma sudah tuntas pada 5 dari 9 surah. Kekuranglancarannya pada empat surah sisanya layak untuk tidak dibesar-besarkan. Kalau dinyatakan lulus, tentu dia sangat gembira. Apa salahnya membuat orang lain gembira?
Ya, melalui peran saya selama dua hari itu saya memperoleh kesempatan untuk membantu orang lain. Tidak hanya tujuh anak, tetapi tujuh keluarga. Lucunya, kesempatan emas itu saya biarkan lepas tanpa tilas.
Kalau saat itu juga saya meluluskan kelima anak itu, mungkin saya dikenang telah membantu keluarga mereka. Namun, kalau saya tangguhkan kelulusan mereka hingga hafalannya benar, kiranya saya tercatat telah menolong mereka.
Alhasil, saya urungkan niat untuk membantu mereka. Lalu saya bulatkan tekad untuk menolong mereka.
Saya tidak tega membiarkan anak-anak itu mengorupsi kalam suci, walau hanya satu huruf. Menghilangkan huruf, korupsi. Mengganti huruf, korupsi. Mengubah bunyi huruf, korupsi.
Korupsi kok kagungane Gusti? Enggak malu?
Tabik
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar