Langsung ke konten utama

Jakarta: (Masih) 1 Enaknya!

Kalau Pembaca mengerti matematika, niscaya tidak salah membaca judul tulisan ini.

Untuk membunuh kesepian, menjelang magrib (16/11) aku mengirim SMS kepada keponakan. Lepas isya datang panggilan dari nomornya. Jebul, yang menelepon suaminya. Ia menawari aku untuk singgah ke rumahnya, di Bekasi. Mulanya aku sungkan. Maklum, aku mesti menanti kedatangan rombongan teman-teman dari Solo, yang baru sampai Indramayu. Namun, ia terus merayu. Kebetulan ada bumbu yang membuat rayuannya makin sedap: ayah mertuanya (kakak iparku) juga ada di Bekasi. Kena, deh! Aku pun jadi bernafsu untuk mengiyakan permintaannya.

Sekitar pukul 8 malam menantu keponakanku tiba di Ragunan. Kupelototi sepeda motornya. "Helme siji thok, Mas?" tanyaku.

"Boten napa-napa, Pak, mpun biasa," jawabnya.

Sudah biasa? Apa maksudnya? Bukankah baru satu kali kepalaku kopyor akibat terjangan sepeda motor orang mabuk? Itu pun terjadi ketika kepalaku berlapiskan helm full face, lho! Lha, kok, dibilang sudah biasa? Dasar, keponakan kurang 'raja' (maaf, ini bukan tulisan Arab; jangan dibaca dari kanan ke kiri! lho, malah seperti disuruh?!)!

Demi membuat keponakan lega, alias menghindari gela, aku nyengklak di belakang tukang ojek, eh, menantu keponakanku. Motor distarter. Knalpot menggeru. Masuk gigi satu. Gas dipicu. Roda berputar maju. Dari gigi satu pindah two lalu telu. Kendaraan terus melaju. Berpacu dengan waktu. Yang mengemudi menantu keponakanku. Yang membonceng aku. (Kalau membacanya sambil ngguyu, beteke ben dialem ayu. Pembaca yang berjalu dilarang ikut-ikutan kemayu! Nesu? Wagu! Idu? Saru! Eh, kuwalik; iki sasi sura, dudu saru.)

"Ibukota, lihatlah, orang sakti lewat menjelajah jalananmu!" batinku sesumbar. Aku jadi rajin menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memamerkan kesaktianku: membonceng motor tak berhelm. Tentu, di balik itu aku was-was. Jangan-jangan ada polisi patroli mengenali bahwa putih-putih di kepalaku ini bukan helm, melainkan tunggak uban yang tersisa hanya sekitar 0,2 inci. 

Lho?! Ada pesaing! Satu, dua, tiga, ... empat belas pengendara sepeda motor berboncengan. Penumpangnya mirip aku: tak berhelm. Eee, ... aku baru mengerti maksud "mpun biasa" yang dikatakan keponakanku. Di Ibukota, naik sepeda motor tanpa helm di kepala, melaju kencang di jalan raya, ... itu sudah menjadi hal biasa. Keponakanku masih layak untuk dimaklumi: menjemput aku langsung dari tempat kerja, tidak sedia helm. Lha, perempuan-perempuan muda dan cantik yang berseliweran di kanan-kiriku malah cuma menenteng helmnya dengan tangan-tangan halus mereka. Weladalah! Pantas saja, sering kujumpai poster di spanduk dan baliho bertuliskan "Pakai helm tidak mengurangi kecantikan Anda!"

Tiba di perempatan. Lampu merah menyala terang. Sangat jelas. Tidak samar. Segala jenis kendaraan masih terus merangsek maju. Berhenti hanya kalau kalah cepat dari kendaraan yang meluncur dari samping. Kemacetan semakin parah. Tak ada yang sudi mengalah. Semua takut terlambat sampai di rumah. Begitulah, seolah-olah. Padahal, yang sesungguhnya hanyalah beradu gagah. Owalah! Payah!

Lalu lintas makin padat saja. Antrean panjang menyesaki seluruh ruas jalan. Tak mau dianggap kalahan, roda depan dipaksa memanjat dinding pembatas lintasan. Jalur busway disalahmanfaatkan. Jadi ajang balapan amatiran. Padahal, di atas jalur itu terpampang rambu dengan huruf-huruf besar (atau, huruf besar-besar? yang banyak hurufnya atau besarnya?): "JALUR KHUSUS BUSWAY". Ya, barangkali karena penduduk Ibukota didominasi orang Jawa blasteran Londo Inggris, "busway" dibaca "whose wae". Artinya, jalur khusus itu milik siapa saja.

Ya, melancong dua hari di Ibukota, akhirnya aku sampai di satu kesimpulan: Jakarta (masih) 1 enaknya. Dalam matematika, 1/4 lazim dibaca seperempat, 1 liter boleh dibaca seliter. Orang Jawa biasa mengeja 1 wengi sebagai sawengi, 1 latar = salatar. Jadi, judul di atas boleh (baca: mesti) dibaca "Jakarta Masih Seenaknya" alias "Jakarta Isih Sakepenake Udele Dhewek."

Pantas saja, Solo dan Belitong merasa perlu untuk mengekspor pemimpin mereka ke sana!

Komentar

  1. wah pak teguh ne ke jakarta ga kabar2 dng saya...
    padahal deket kl pak teguh di daerah ragunan....

    ups....btw pak teguh masih ingat dng saya tidak ya?
    saya slamet temen maen karambol pak teguh sebelum pulang kerja...di LPI Hidayatullah semarang....

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

11 Prinsip Pendidikan Karakter yang Efektif (Bagian 1)

(disadur dari Character Education Partnership, 2010: 11 Principles of Effective Character Education)
·Apa pendidikan karakter itu? Pendidikan karakter adalah usaha sadar untuk mengembangkan nilai-nilai budi dan pekerti luhur pada kaum muda. Pendidikan karakter akan efektif jika melibatkan segenap pemangku kepentingan  sekolah serta merasuki iklim dan kurikulum sekolah. Cakupan pendidikan karakter meliputi konsep yang luas seperti pembentukan budaya sekolah, pendidikan moral, pembentukan komunitas sekolah yang adil dan peduli, pembelajaran kepekaan sosial-emosi, pemberdayaan kaum muda, pendidikan kewarganegaraan, dan pengabdian. Semua pendekatan ini memacu perkembangan intelektual, emosi, sosial, dan etik serta menggalang komitmen membantu kaum muda untuk menjadi warga negara yang bertanggung jawab, tanggap, dan bersumbangsih. Pendidikan karakter bertujuan untuk membantu kaum muda mengembangkan nilai-nilai budi luhur manusia seperti keadilan, ketekunan, kasih sayang, hormat-menghormati…

Berguru kepada Abang Becak

Teman yang satu ini sungguh beruntung. Ia punya seorang ayah. Satu-satunya ayah yang dimilikinya itu bekerja sebagai pengemudi becak. Beliau dan teman-teman seprofesi boleh iri. Pengemudi kapal terbang ada namanya: pilot. Pengemudi kapal laut punya sebutan khusus: nakhoda. Pengemudi kereta api punya julukan: masinis (sekalipun berkelamin perempuan, ia tidak dijuluki mbaksinis). Pengemudi mobil – segala jenis mobil – disebut sopir. Pengemudi dokar, andong, atau delman punya nama: kusir atau sais. Lha pengemudi becak? Belum dibuatkan julukan khusus untuk mereka. Di Betawi, pengemudi sepeda beroda tiga (bila mirip merk produk tertentu, anggap saja itu bukan ketaksengajaan [?]) itu dipanggil “abang becak” (bila ia seorang perempuan, pasti panggilannya berubah). Di daerah-daerah lain, mereka lazim menerima sebutan “tukang becak” atau “penarik becak”. Yang terakhir ini kacau lagi. Pengemudi becak kan duduk di belakang kabin penumpang? Masa, menarik dari belakang ke depan??? Namun, bukan kela…

Wong Legan Golek Momongan

Judul ini pernah saya pakai untuk “menjuduli” tulisan liar di “kantor” sebuah organisasi dakwah di kalangan anak-anak muda, sekitar 20 tahun silam. Tulisan tersebut saya maksudkan untuk menggugah teman-teman yang mulai menunjukkan gejala aras-arasen dalam menggerakkan roda dakwah.
Adam a.s. Ya, siapa tidak kenal nama utusan Allah yang pertama itu? Siapa yang tidak tahu bahwa beliau mulanya adalah makhluk penghuni surga? Dan siapa yang tidak yakin bahwa surga adalah tempat tinggal yang mahaenak? Tapi kenapa kemudian beliau nekat melanggar pepali hanya untuk mencicipi kerasnya perjuangan hidup di dunia?
Orang berkarakter selalu yakin bahwa sukses dan prestasi tidak diukur dengan apa yang didapat, melainkan dari apa yang telah dilakukan. Serta merta mendapat surga itu memang enak. Namun, mendapat surga tanpa jerih payah adalah raihan yang membuat peraihnya tidak layak berjalan dengan kepala tegak di depan para kompetitornya. Betapa gemuruh dan riuh tepuk tangan dan sorak kemenangan iblis …