Friday, March 30, 2012

Mata Ibuku yang Sebelah

Aku sungguh benci dia. Dia hanyalah biang kemaluan bagiku. Pertemuan dengannya adalah saat yang paling membuatku menderita. Apalagi bila itu terjadi di depan orang banyak. Kehadirannya menjadi perusak citra diriku. Jika dia datang ketika aku sedang tertawa renyah bersama teman-temanku, seketika tawa riangku musnah. Jika dia datang ketika aku sedang riuh rendah bergurau, seketika senda gurauku menjadi kacau. Jika dia datang ketika aku tengah bernyanyi riang, seketika laguku mendadak sumbang.
Pekerjaannya memasak. Setiap hari dia membuat beraneka makanan dan menjajakannya di sebuah sekolah. Entahlah, kenapa para guru dan siswa di sekolah itu setia menjadi pelanggannya? Apakah itu karena cita rasa masakannya berhasil memanjakan selera lidah mereka, ataukah mereka sekadar iba menyaksikan duka nestapanya. Yah, barangkali, sebenarnya mereka tidak berniat membeli makanan yang dijajakannya. Boleh jadi, mereka hanya ingin mengapresiasi ketabahannya sebagai seorang perempuan yang menderita cacat mata. Atau, mereka terdorong untuk membayar kegigihannya sebagai seorang janda yang harus menghidupi dirinya sendiri dan membesarkan anak semata wayangnya.
Suatu hari, ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar, dia datang ke sekolahku. Pada jam istirahat, dia menghampiriku sekadar untuk menyapaku. Mendadak derai tawaku terhenti. Suasana riang penuh canda siang itu segera berubah menjadi senyap dan kaku. Semua mata menatap tajam ke wajahnya.
Betapa malunya aku! Tega-teganya dia melakukan ini kepadaku! Tak kuacuhkan kehadirannya. Sejenak kupelototi dia dengan tatapan penuh kebencian, lalu kubuang muka dan cepat-cepat aku lari, pergi darinya.
Sepulang dari sekolah, sampai di rumah aku ungkapkan kemarahanku kepadanya.
“Kalau kau hanya ingin menjadikan aku bahan cemooh, kenapa kau tak mati sekalian saja?!” bentakku tanpa terusik secuil pun perasaan berdosa.


Saturday, March 24, 2012

Teken Pakta Integritas???

Di Karanganyar, Jawa Tengah, seluruh kepala sekolah SMP dan SMA ramai-ramai menandatangani pakta integritas. Tentu, isinya berkaitan dengan pelaksanaan ujian nasional. Hebat, ya?
Ya, setidaknya, orang berhak untuk menggubah beragam pertanyaan sebagai respon terhadap trend tanda tangan pakta integritas itu. (1) Pakta integritas itu penegasan integritas yang sudah menjadi tradisi atau pertobatan dari tradisi nir-integritas? (2) Pakta tersebut tameng penangkal atau topeng penyamaran? (3) Pakta itu niat atau janji? (4) Pakta tersebut penting atau demi kepentingan?
Dirangkum, empat pertanyaan tersebut terwakili oleh satu pertanyaan saja: ada apa di balik "ritual" penandatanganan pakta integritas itu?


Fenomena sang Surya

Muhammad Surya Alam Aprilima. Demikian nama tokoh fenomenal ini. Ditakdirkan terlahir pada 5 April membuat ia menyandang tanggal ulang tahun itu di ujung namanya. Nama yang sungguh indah! Mudah-mudahan sepenggal perjalanan sekolahnya bisa menjadi sang surya yang menyinari keindahan dunia. Setidaknya, dunia teman-teman seusianya.

Paruh pertama semester gasal kelas 6. Seorang ibu menampakkan kesabarannya yang luar biasa. Ia menyilakan orang-orang lain mendahului gilirannya untuk mengambil laporan hasil belajar tengah semester anaknya. Ia memilih giliran terakhir.

"Saya minta tolong, Pak," pintanya kepada guru wali kelas anaknya. "Nilai matematika Surya itu selalu di bawah rata-rata," lanjutnya.

Keterlaluan memang! Dalam tes diagnostik untuk mendeteksi peta materi sukar pada ujian nasional --waktu itu masih berstatus UASBN-- Surya "berhasil" memecahkan rekor. Nilainya 1,25! Artinya, hanya 5 dari 40 item soal yang dijawab dengan benar.

Uji Kompetensi Awal

Ada yang sejak awal sudah menolak. Ada yang panik untuk menjalani. Ada yang berdebar-debar menanti pengumuman hasilnya. Ada yang kemudian bersorak kegirangan (bangga?) Ada yang mendadak jantungan.

Ada yang kecewa ... Dan yang terkesan paling kecewa adalah Pak Menteri. "Nilai UKA (Uji Kompetensi Awal) sangat rendah," kata beliau. Nilai rata-rata nasional "hanya" berkepala 4. Ya, 4 koma sekian.

Duh, guru ... guru ....
Demi tunjangan sebesar gaji per bulan, semua jadi ruwet begini. Jangan-jangan sudah tidak ada lagi persoalan pendidikan yang menjadi perhatian bangsa ini selain kesejahteraan para guru? Ngeri!

Nyontek?!!!

Tiga tahun terakhir saya mendapat tugas mengampu kelas 6 - kelas terakhir di sekolah dasar. Pada awal tahun pelajaran, saya selalu bertanya kepada anak-anak, "Siapa yang selama bersekolah belum pernah mencontek?" Mencengangkan! Tahun pertama, tahun pelajaran 2009/2010, di antara 127 siswa tak seorang pun tunjuk tangan. Tahun kedua, 2010/2011, tak seorang anak pun - di antara 141 anak - tunjuk tangan. Tahun ini, 2011/2012, 1 di antara 152 anak tunjuk jari. So, selama tiga angkatan, dari sebanyak 420 anak, saya baru mendapati SEORANG siswa yang belum bergelar pencontek.

Berikutnya saya bertanya, "Siapa yang pernah diajari nyontek oleh orang tua kalian?" Di antara 420 anak tidak ada yang mengacung. Tanya saya lagi, "Siapa yang pernah diajari nyontek oleh ibu atau bapak guru kalian?" Kembali sepi: tak ada yang tunjuk tangan.

Majalah Hi-News edisi Oktober 2017  dapat diunduh di sini