Tuesday, April 1, 2014

Ketika Valedictorian Menggugat Sistem Pendidikan di Negerinya

Inilah Sikap Saya1)
Erica Goldson
(seorang valedictorian2) sebuah SMA di AS)

Alkisah, seorang murid Zen3)—yang masih muda namun ulet—menghampiri gurunya dan bertanya, “Jika saya bekerja sangat keras dan rajin, berapa lama waktu yang saya butuhkan untuk mencapai Zen?” Sang Guru berpikir sejenak, kemudian menjawab, “Sepuluh tahun.” Si murid bertanya lagi, “Bagaimana kalau saya bekerja sangat, sangat keras dan memaksa diri saya untuk belajar dengan cepat, berapa lama waktu yang saya butuhkan?” Jawab sang Guru, “Ya, dua puluh tahun.” “Lalu, jika saya benar-benar, sungguh-sungguh melakukannya, berapa lama?” tanya si murid lagi. “Tiga puluh tahun,” jawab sang Guru. “Duh, saya tidak mengerti,” keluh si murid, yang tampak mulai kesal. “Setiap kali saya menyatakan bahwa saya akan bekerja lebih keras, justru Anda katakan waktu yang saya butuhkan lebih lama. Kenapa Anda berkata begitu?” Jawab sang Guru, “Bila Anda arahkan tatapan salah satu mata ke tujuan, maka tinggal satu mata Anda yang tertuju ke jalan.”
Inilah dilema yang saya hadapi di dalam sistem pendidikan Amerika. Kita terlalu terpaku pada tujuan, entah agar lulus tes atau lulus tercepat di kelas kita. Namun, dengan cara begini, justru kita tidak benar-benar belajar. Kita lakukan apa saja demi mencapai tujuan belaka.

Look Up

Part 2 So look up from your phone, shut down the display Take in your surroundings, make the most of today Just one real connectio...