Langsung ke konten utama

Tabik

on Dieng Plateau
Sugeng rawuh,
welcome,
selamat datang,
ahlan wa sahlan ...












Selamat! 

Anda telah tersesat.
Yang sedang Anda kunjungi kali ini sebenarnya bukan sebuah blog.
Ini hanya sehelai cermin datar.
Isinya sekadar bayangan peristiwa yang sempat terliput ketika melintas di mukanya.
Tidak ada jaminan bahwa bayangan itu sama persis dengan aslinya.
Maklum, daya pantul cermin dipengaruhi oleh kekuatan cahaya yang diterima.
Kadar kebeningan cermin juga menjadi faktor yang tak kalah dominan.
Dan yang paling menentukan adalah kesehatan indra penglihatan Pembaca.

Bila pernah menemukan manfaat di sini, berarti Anda layak mengoleksinya.

Bila sering mendapati mudarat di sini, berarti Anda layak mengoreksinya.

Inspirasi tulisan yang terpajang di cermin ini digali (betul-betul DIGALI) dari segenap penjuru jagat semesta.

Dapat ditebak, harta galian pasti didapat tanpa izin dari pemiliknya.
Sebagai kompensasi, blog --eh, cermin-- ini 100% MERDEKA dari keangkuhan hak cipta.
Maka, silakan patuhi kaidah berikut:


PERINGATAN KERAS!
DILARANG MENYIMPAN, MENGGANDAKAN, DAN/ATAU MENGEDARKAN
SELURUH ATAU SEBAGIAN DOKUMEN
YANG TERBAYANG DI CERMIN INI
DALAM BENTUK DAN DENGAN CARA APA PUN
TANPA IZIN OTOMATIS DARI TUHAN YANG MAHAKAYA DAN MAHA PEMURAH


Diposkan di tempat tertentu, pada tanggal, bulan, dan tahun tertentu

Salam hormat,

Kang Gw  

Postingan populer dari blog ini

11 Prinsip Pendidikan Karakter yang Efektif (Bagian 1)

(disadur dari Character Education Partnership, 2010: 11 Principles of Effective Character Education)
·Apa pendidikan karakter itu? Pendidikan karakter adalah usaha sadar untuk mengembangkan nilai-nilai budi dan pekerti luhur pada kaum muda. Pendidikan karakter akan efektif jika melibatkan segenap pemangku kepentingan  sekolah serta merasuki iklim dan kurikulum sekolah. Cakupan pendidikan karakter meliputi konsep yang luas seperti pembentukan budaya sekolah, pendidikan moral, pembentukan komunitas sekolah yang adil dan peduli, pembelajaran kepekaan sosial-emosi, pemberdayaan kaum muda, pendidikan kewarganegaraan, dan pengabdian. Semua pendekatan ini memacu perkembangan intelektual, emosi, sosial, dan etik serta menggalang komitmen membantu kaum muda untuk menjadi warga negara yang bertanggung jawab, tanggap, dan bersumbangsih. Pendidikan karakter bertujuan untuk membantu kaum muda mengembangkan nilai-nilai budi luhur manusia seperti keadilan, ketekunan, kasih sayang, hormat-menghormati…

Berguru kepada Abang Becak

Teman yang satu ini sungguh beruntung. Ia punya seorang ayah. Satu-satunya ayah yang dimilikinya itu bekerja sebagai pengemudi becak. Beliau dan teman-teman seprofesi boleh iri. Pengemudi kapal terbang ada namanya: pilot. Pengemudi kapal laut punya sebutan khusus: nakhoda. Pengemudi kereta api punya julukan: masinis (sekalipun berkelamin perempuan, ia tidak dijuluki mbaksinis). Pengemudi mobil – segala jenis mobil – disebut sopir. Pengemudi dokar, andong, atau delman punya nama: kusir atau sais. Lha pengemudi becak? Belum dibuatkan julukan khusus untuk mereka. Di Betawi, pengemudi sepeda beroda tiga (bila mirip merk produk tertentu, anggap saja itu bukan ketaksengajaan [?]) itu dipanggil “abang becak” (bila ia seorang perempuan, pasti panggilannya berubah). Di daerah-daerah lain, mereka lazim menerima sebutan “tukang becak” atau “penarik becak”. Yang terakhir ini kacau lagi. Pengemudi becak kan duduk di belakang kabin penumpang? Masa, menarik dari belakang ke depan??? Namun, bukan kela…

Wong Legan Golek Momongan

Judul ini pernah saya pakai untuk “menjuduli” tulisan liar di “kantor” sebuah organisasi dakwah di kalangan anak-anak muda, sekitar 20 tahun silam. Tulisan tersebut saya maksudkan untuk menggugah teman-teman yang mulai menunjukkan gejala aras-arasen dalam menggerakkan roda dakwah.
Adam a.s. Ya, siapa tidak kenal nama utusan Allah yang pertama itu? Siapa yang tidak tahu bahwa beliau mulanya adalah makhluk penghuni surga? Dan siapa yang tidak yakin bahwa surga adalah tempat tinggal yang mahaenak? Tapi kenapa kemudian beliau nekat melanggar pepali hanya untuk mencicipi kerasnya perjuangan hidup di dunia?
Orang berkarakter selalu yakin bahwa sukses dan prestasi tidak diukur dengan apa yang didapat, melainkan dari apa yang telah dilakukan. Serta merta mendapat surga itu memang enak. Namun, mendapat surga tanpa jerih payah adalah raihan yang membuat peraihnya tidak layak berjalan dengan kepala tegak di depan para kompetitornya. Betapa gemuruh dan riuh tepuk tangan dan sorak kemenangan iblis …