Friday, October 17, 2014

Look Up

Part 2

So look up from your phone, shut down the display
Take in your surroundings, make the most of today
Just one real connection is all it can take
To show you the difference that being there can make.

Be there in the moment, that she gives you the look
That you remember forever as when love overtook
The time she first held your hand, or first kissed your lips
The time you first disagreed but you still love her to bits

The time you don't have to tell hundreds of what you've just done
Because you want to share this moment with just this one
The time you sell your computer, so you can buy a ring
For the girl of your dreams, who is now the real thing.

Look UP

I have 422 friends, yet I am lonely.
I speak to all of them every day, yet none of them really know me.
The problem I have sits in the spaces between
Looking into their eyes, or at a name on a screen.

I took a step back and opened my eyes,
I looked around and realised,
That this media we call social is anything but
When we open our computers and it's our doors we shut

Friday, October 3, 2014

4 + 4 + 4 + 4 + 4 + 4 = ... x ...



Inilah rupanya PR yang mengguncang jagad persekolahan itu!
Sudah lama saya mencela prosedur pembelajaran matematika yang lazim berlaku di kelas-kelas kita.

Tuesday, April 1, 2014

Ketika Valedictorian Menggugat Sistem Pendidikan di Negerinya

Inilah Sikap Saya1)
Erica Goldson
(seorang valedictorian2) sebuah SMA di AS)

Alkisah, seorang murid Zen3)—yang masih muda namun ulet—menghampiri gurunya dan bertanya, “Jika saya bekerja sangat keras dan rajin, berapa lama waktu yang saya butuhkan untuk mencapai Zen?” Sang Guru berpikir sejenak, kemudian menjawab, “Sepuluh tahun.” Si murid bertanya lagi, “Bagaimana kalau saya bekerja sangat, sangat keras dan memaksa diri saya untuk belajar dengan cepat, berapa lama waktu yang saya butuhkan?” Jawab sang Guru, “Ya, dua puluh tahun.” “Lalu, jika saya benar-benar, sungguh-sungguh melakukannya, berapa lama?” tanya si murid lagi. “Tiga puluh tahun,” jawab sang Guru. “Duh, saya tidak mengerti,” keluh si murid, yang tampak mulai kesal. “Setiap kali saya menyatakan bahwa saya akan bekerja lebih keras, justru Anda katakan waktu yang saya butuhkan lebih lama. Kenapa Anda berkata begitu?” Jawab sang Guru, “Bila Anda arahkan tatapan salah satu mata ke tujuan, maka tinggal satu mata Anda yang tertuju ke jalan.”
Inilah dilema yang saya hadapi di dalam sistem pendidikan Amerika. Kita terlalu terpaku pada tujuan, entah agar lulus tes atau lulus tercepat di kelas kita. Namun, dengan cara begini, justru kita tidak benar-benar belajar. Kita lakukan apa saja demi mencapai tujuan belaka.

Majalah Hi-News edisi Oktober 2017  dapat diunduh di sini