Monday, November 12, 2012

Perubahan dan Kita

Berdasarkan statusnya, perubahan --setidaknya-- dapat diklasifikasikan  ke dalam tiga kategori: (1) perubahan yang diabaikan; (2) perubahan karena terpaksa; dan (3) perubahan yang dikehendaki.

Perubahan yang Diabaikan
Bayangkan seseorang tengah duduk di kursi goyang di teras rumahnya pada suatu pagi nan lembut. Lurus di depannya teronggok jam bandul berbingkai almari ukir berdinding kaca bening. Ketiga batang jarumnya tak pernah berhenti bergerak. Gerak satu putaran jarum detik diikuti pergeseran jarum menit sejauh satu setrip kecil. Gerak satu putaran jarum menit diiringi pergeseran jarum jam sejauh satu setrip besar. Selama orang tersebut duduk menikmati ayunan kursi malas itu, sudah tak berbilang kali lonceng jam berlabel "made in Germany" itu berdentang. (Agak ganjil! Biasanya "made" in Bali, kok yang ini in Germany?)

Pergerakan dan perputaran tiga jarum jam menandakan perubahan waktu yang tak pernah berhenti. Ya, semua pasti sepakat, bila waktu berhenti berputar, pasti riwayat dunia berakhir seketika. Perubahan waktu --detik ke detik, menit ke menit, jam ke jam-- pagi itu tak membuat si "penduduk" (orang yang duduk disebut penduduk, bukan?) kursi malas itu beranjak dari kedudukannya. Tak ada perubahan aktivitas. Dapat dipastikan, tidak pula terjadi perubahan hasil. 
Ilustrasi di atas menggambarkan perubahan yang diabaikan. Sebagaimana waktu, rasanya tidak ada satu pun objek di dunia ini yang berhenti berubah. Kata bijak kaum cendekia, satu-satunya yang abadi (tidak pernah berubah) adalah perubahan itu sendiri. Sebatang orok merah berkembang menjadi anak remaja puber mengalami perubahannya per detik, bukan per menit, per jam, per hari, per minggu, per bulan, apalagi per tahun. Gagasan di dalam tulisan ini merasuki pikiran Pembaca huruf demi huruf, bukan kata demi kata, kalimat demi kalimat, paragraf demi paragraf, apalagi makbedunduk satu halaman.
Bagaimana nasib yang menimpa perubahan yang diabaikan? Pertanyaan ini tidak berpotensi memicu masalah, karena direspons bagaimana pun, perubahan tetap setia melakoni kodratnya. Pertanyaan yang perlu dicermati adalah "bagaimana nasib pihak yang mengabaikan perubahan?"
Dua puluh tahunan yang lalu, kita masih menyaksikan betapa sibuknya Kantor Pos setiap menjelang Idul Fitri. Pada hari-hari itu juga masih dapat kita kenang betapa maraknya konter-konter penjualan kartu lebaran. Namun, sekarang siapa yang sudi menjajakan kartu lebaran beraneka motif indah itu? Juga, siapa yang pada lebaran terakhir kemarin mengantre di Kantor Pos berebut prangko untuk bisa mengirimkan kartu lebaran? Atau, dewasa ini berapa bis surat yang masih nekat mejeng di tepi-tepi jalan di kota Pembaca? Atau, masih berapa kali dalam setahun Kantor Pos melayani jasa wesel?
Dapat ditebak, bagaimana nasib Kantor Pos seandainya di era digital ini masih khusyuk dengan bisnis pengiriman surat dan wesel! 

Perubahan karena Terpaksa
Di penghujung tahun 1980-an, seorang kerabat pulang dari rantau. Itu sih bukan kepulangan pertama. Dia biasa pulang kampung setiap satu hingga tiga bulan sekali. Namun, kepulangannya kali ini disertai perubahan penampilan. Tato bermotif kupu-kupu di punggung tangannya berubah menjadi timbunan kulit tebal bekas luka bakar. Betul! Rupanya ia terpaksa menyetrika punggung tangannya sendiri untuk menghapus tato kebanggaannya, simbol kejantanannya selama ini. Konon, ia melakukannya demi menghindari operasi yang dilancarkan pihak berwajib di tanah rantaunya kala itu.
Pembaca pernah tidak sengaja menyenggol setrika panas (bukan tersenggol, karena setrika tidak bisa melakukan senggolan)? Bagaimana rasanya? Sakit? Perih? Bayangkan penderitaan yang dialami orang yang menyetrika tato di punggung tangannya tersebut. Sakit? Perih? Mengapa tindakan menyakiti diri sendiri itu dia lakukan? Demi menyelamatkan diri dari ancaman. Demi mengelabui aparat keamanan.
Demikianlah perubahan yang dilakukan karena terpaksa. Menyakitkan! Menimbulkan penderitaan! Perubahan tipe kejam ini biasa menimpa kaum penganut aliran "taksi camat" (takut sanksi, cari selamat). Pada kaum ini, tuntutan perubahan baru direspons jika disertai ancaman sanksi. Jika tidak, perubahan sederas apa pun hanya akan diabaikan sebagaimana katergori sebelumnya.

Perubahan yang Dikehendaki
Tetangga sebelah selalu "berulah". Belum genap dua bulan ia mengganti cat tembok rumahnya, kini giliran pagar depan dibongkar. Pagar tembok itu dianggap menghalangi pandangan ke dan dari jalan. Kemudian ia menggantinya dengan pagar besi tempa berhias motif bunga matahari. Baru beberapa minggu menikmati pagar barunya, si tetangga ganti membongkar kanopi samping yang difungsikan sebagai tempat parkir mobil sebelum masuk garasi. Rangka atapnya yang semula lurus, kini hendak diganti dengan bentuk melengkung. Atapnya sendiri diganti dengan bahan yang sama seperti sebelumnya; hanya warnanya yang berubah dari biru menjadi hijau daun.
Selama masa renovasi rumah itu, dia tampak makin rajin pulang. Dua atau tiga jam lebih awal dari biasanya, ia sering sudah berada di rumah. Bahkan, kadang ia pulang tiga atau empat sekali sehari. Setiap berada di rumah, tak henti-hentinya dia mencermati proses dan hasil kerja para tukangnya. Dia tampak tidak merelakan ada proses --apalagi hasil-- pekerjaan renovasi yang luput dari pantauannya. Dia begitu asyik menikmati polesan demi polesan, goresan demi goresan, lipatan demi lipatan, lekukan demi lekukan, dan setiap detail perubahan yang terjadi dalam rangkaian renovasi rumah itu.
Begitulah "ulah" orang yang menjalani proses perubahan yang disengaja, bahkan, dikehendaki sendiri. Perubahan kategori ini mengalir lancar, tak peduli rintangan dan risiko, tanpa berhitung ancaman sanksi atau iming-iming ganjaran. Perubahan yang radiyatan mardiyyah, barangkali.

Dunia terus berubah. Dampak perubahan terhadap diri kita sepenuhnya ditentukan oleh respons kita terhadap perubahan itu. Apakah menjadi korban yang terlindas oleh perubahan yang tidak kita acuhkan, atau hanyut sambil menahan derita akibat berpura-pura mengikuti arus perubahan, atau menikmati perubahan sambil berdendang karena memang sengaja mengambil peran sebagai pelaku perubahan? 

Masih ada alternatif lain: menunggu takdir perubahan menghampiri kita. Maaf, bagi pemilih alternatif terakhir ini, ada firman yang tak terbantahkan; "Sungguh, Tuhan tidak akan sudi mengubah status suatu kaum hingga mereka mengubah status diri mereka sendiri." Bagaimana dengan yang sudah terlalu tua untuk turut berubah? Perhatikan perjuangan tim-tim sepak bola favorit kita. Ketika kedudukan tertinggal 0-2, sedangkan waktu permainan tinggal tersisa belasan menit, justru penampilan tim makin menunjukkan keinginan kuat untuk mengubah kedudukan. Dan, kesempatan sempit itu pun tidak jarang berhasil mengubah kedudukan menjadi imbang 2-2. Bahkan ada kalanya pertandingan berakhir dengan menempatkan tim yang semula tertinggal sebagai pemenang.

Sedangkan kepada yang gandrung perubahan, Serat Kalatidha menyampaikan warning: "Amenangi jaman edan, ewuh aya ing pambudi; melu edan nora tahan; yen tan melu anglakoni, boya kaduman melik, kaliren wekasanipun. Ndilalah karsa Allah, begja-begjane kang lali, luwih begja kang eling lawan waspada."

Selamat menentukan sikap cerdas dalam merespons setiap perubahan. Salam.

(Sumber inspirasi: enlightenment 100 menit oleh Dr. Nugroho, M.Psi., Manajemen Perubahan dalam Penjaminan Mutu Pendidikan, di Grand Setiakawan, Solo, 8 November 2012)

No comments:

Post a Comment

Majalah Hi-News edisi Oktober 2017  dapat diunduh di sini