Langsung ke konten utama

Guruku Luar Biasa!


Giritontro, 22 Agustus 2012

Dua puluh enam tahun sudah, kami berpisah. Hari itu kami kumpul-kumpul bareng teman-teman seangkatan SMP. Meriah ... itu pasti! Setiap ada teman baru datang, saling bertanya, "Sinten, nggih?" Rupanya, 26 tahun itu waktu yang cukup untuk membuat kami saling pangling
Di balik keriuhan suasana reuni, terselip sejumlah pelajaran kemanusiaan. Semuanya saya bawa pulang dan dengan bangga saya sajikan sebagai oleh-oleh untuk keluarga dan teman-teman. Kini, saatnya saya bagikan oleh-oleh itu lewat cermin datar ini. Siapa pun yang menaruh apresiasi pada nilai kemanusiaan boleh ambil.
1) Egaliter
Semua alumni yang hadir memakai kaus seragam. Kepada mereka yang terjangkau, kaus diantar sebelum hari H. Datang ke acara, kami sudah mengenakan kaus itu. Sebagian teman-teman putri yang berbusana muslimah tetap memakai kaus seragam sebagai penutup blus panjang mereka. Yang tidak terjangkau, begitu datang segera diberi kaus yang sama. Alhasil, tak ada kostum orang kaya atau orang kurang kaya. Yang tampak hanya satu kostum: alumni '86 SMP Negeri 1 Giritontro.
2) Tak Lupa Kulit
Lebih dari 50% alumni yang hadir tinggal di kota-kota metropolitan. Anehnya, tak sepenggal pun terdengar percakapan dengan bahasa selain bahasa Jawa. Yang lebih heboh, MC memandu acara dengan bahasa ala resepsi Jawa! Sampai-sampai Pak Wandi, guru bahasa Jawa kami, terharu ketika menyampaikan pidato sambutan ngiras pantes pamitan untuk tindak haji. Satu lagi yang membuat saya lingsem: seorang teman kami yang hidup di Jakarta menyumbangkan sajian grup "band"-nya, Kinjeng Mengeng. Itu grup campursari yang dibentuk, dikembangkan, dan dijadikan sebagai mata pencaharian di Ibukota! "Matur nuwun, ya, Pak. Nuwun sewu, gaweanku ya mung ngamen ngene iki," celetuknya kepada saya. Sejurus kemudian ia masuk ruang kemudi Vitara-nya, sementara saya pun ngeslag Win 100 saya sambil mengacungkan jempol kiri kepadanya.

3) Sambatan
Sekitar dua bulan sebelum acara diselenggarakan, saya mendapat kiriman proposal kegiatan lewat email. Terdorong rasa penasaran, pointer langsung saya ajak menjelajah ke bagian anggaran. Saya temukan hanya anggaran belanja. Anggaran pendapatan mana? Tak ada! Betul-betul tidak ada! Hanya dicantumkan prosedur partisipasi. Saya pun mencoba kalkulasi sekenanya: jumlah belanja dibagi estimasi jumlah peserta. Sampai di tempat acara, sepi! Tidak ada pembagian slip tagihan, tidak pula beredar list biaya gotong royong. Yang ada hanya pembagian kaus, mug, dan DVD campursari Kinjeng Mengeng. Di salah satu ruang kelas almamater kami sudah tersaji aneka jajanan desa plus menu makan siang ala desa, yang sudah lama tidak singgah ke lidah dan perut saya. Karuan saja, langsung sikat ludes! Di sela-sela pidato sambutan, kami masih dipanggil bergiliran untuk menerima bingkisan cabutan. Doorprize, kata orang kota.
4) Kerja Hati
Sebelumnya, tak terlintas di benak saya untuk tersambung dengan teman-teman yang terberai selama 26 tahun itu. Tiba-tiba sore itu ada panggilan dari nomor tak tercatat masuk ke hape jadul saya. "Iki aku Bejo, Mas. Kanca SMP," ujar si penelepon setelah menjawab salam saya. "Bejo???" gumam saya di dalam hati. Belum terbayang, teman yang mana dan seperti apa bentuk rupanya si Bejo itu. Bahkan, sampai ia mendeskripsikan postur tubuhnya, desa kampung halamannya, moda transportasinya ketika berangkat dan pulang sekolah dulu, pun saya belum berhasil menghadirkan sosok Bejo di kepala saya. (Saya memang tergolong bebal untuk mengingat-ingat orang.) Ternyata, ia telah melewati perjuangan panjang untuk menemukan juntrung saya. Seorang teman lain yang tinggal di Ibukota minta ia melacak persembunyian saya. Teman itu mengetahui tempat kerja saya dari seorang ayah mantan murid saya. Berbekal informasi tentang nama sekolah tempat saya mengajar itulah, Bejo menghubungi 108 untuk mendapatkan nomor telepon kantor saya. Berhasil menghubungi kantor, lalu ia minta nomor kontak saya. Jadilah kami nyambung sore itu.
5) Guru BerHATI
Delapan orang guru kami dan seorang pegawai tata usaha (4 di antara mereka sudah pensiun) turut hadir di reuni itu. Guru pangling kepada bekas muridnya ... itu biasa. Di antara mereka ada yang sekadar menerima jabat tangan kami tanpa peduli identitas kami satu per satu. Ada juga yang hangat dan akrab membaur dan ngobrol bersama kami. Ada juga yang setiap bersalaman tidak lupa menanyakan nama bekas murid yang menjabat tangannya. "O, ya, nek iki aku eling. Cah ndesa ning uteke kutha," komentar Pak Gi ketika saya sebut nama saya sambil menjabat dan mencium tangan beliau. Saya bangga, tentu! Keluar ruang, saya dapati seorang guru lain duduk tenang di samping pintu. Seorang teman ngobrol akrab dengan beliau. Saya coba mengingat-ingat. Tidak juga terlintas di ingatan saya, siapa beliau. "Nuwun sewu, Bapak sinten, nggih?" tanya saya kepada beliau. Teman yang sudah lebih dulu ngobrol bersama beliau hanya cengar-cengir menyaksikan tingkah saya. Bukannya menjawab, yang saya tanya malah berujar, "Mas Teguh, to? Daleme Nokerto, madhep ngalor? Saiki ngasta neng Semarang?" Mati aku!!!

Guru yang terakhir saya jumpai inilah yang membuat mata saya terbelalak. Beliau tidak ngalembana saya. Tak sepatah kata pun keluar sebagai ekspresi kenangan beliau tentang saya. Tapi ... sungguh ajaib! Beliau tahu nama dusun saya, posisi rumah (orang tua) saya, dan domisili saya sekarang. Padahal, ketika saya menjadi murid beliau, sekali pun belum pernah beliau menyambangi rumah kami. Setelah lulus SMP itu, saya juga tidak pernah bertemu beliau. Padahal lagi, beliau hanya setahun mengajar saya: bahasa Indonesia di kelas 1. 

Kok bisa begitu beliau? Kuncinya hanya satu: beliau guru berHATI. PerHATIan kepada muridnya itulah yang menggerakkan kemauan beliau untuk melacak dan meng-update informasi tentang muridnya. Dan saya pun makin sadar: PERHATIAN jauh lebih bermakna daripada pujian!

Salam hormat saya untuk Pak Puji. Pak Pujiyono, priyayi Kulonprogo, yang 26 tahun silam masih bujang. Keriput di wajah dan lenyapnya kekekaran tubuhmu datang mengiringi kawicaksanan-mu yang makin matang. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

11 Prinsip Pendidikan Karakter yang Efektif (Bagian 1)

(disadur dari Character Education Partnership, 2010: 11 Principles of Effective Character Education)
·Apa pendidikan karakter itu? Pendidikan karakter adalah usaha sadar untuk mengembangkan nilai-nilai budi dan pekerti luhur pada kaum muda. Pendidikan karakter akan efektif jika melibatkan segenap pemangku kepentingan  sekolah serta merasuki iklim dan kurikulum sekolah. Cakupan pendidikan karakter meliputi konsep yang luas seperti pembentukan budaya sekolah, pendidikan moral, pembentukan komunitas sekolah yang adil dan peduli, pembelajaran kepekaan sosial-emosi, pemberdayaan kaum muda, pendidikan kewarganegaraan, dan pengabdian. Semua pendekatan ini memacu perkembangan intelektual, emosi, sosial, dan etik serta menggalang komitmen membantu kaum muda untuk menjadi warga negara yang bertanggung jawab, tanggap, dan bersumbangsih. Pendidikan karakter bertujuan untuk membantu kaum muda mengembangkan nilai-nilai budi luhur manusia seperti keadilan, ketekunan, kasih sayang, hormat-menghormati…

Berguru kepada Abang Becak

Teman yang satu ini sungguh beruntung. Ia punya seorang ayah. Satu-satunya ayah yang dimilikinya itu bekerja sebagai pengemudi becak. Beliau dan teman-teman seprofesi boleh iri. Pengemudi kapal terbang ada namanya: pilot. Pengemudi kapal laut punya sebutan khusus: nakhoda. Pengemudi kereta api punya julukan: masinis (sekalipun berkelamin perempuan, ia tidak dijuluki mbaksinis). Pengemudi mobil – segala jenis mobil – disebut sopir. Pengemudi dokar, andong, atau delman punya nama: kusir atau sais. Lha pengemudi becak? Belum dibuatkan julukan khusus untuk mereka. Di Betawi, pengemudi sepeda beroda tiga (bila mirip merk produk tertentu, anggap saja itu bukan ketaksengajaan [?]) itu dipanggil “abang becak” (bila ia seorang perempuan, pasti panggilannya berubah). Di daerah-daerah lain, mereka lazim menerima sebutan “tukang becak” atau “penarik becak”. Yang terakhir ini kacau lagi. Pengemudi becak kan duduk di belakang kabin penumpang? Masa, menarik dari belakang ke depan??? Namun, bukan kela…

Wong Legan Golek Momongan

Judul ini pernah saya pakai untuk “menjuduli” tulisan liar di “kantor” sebuah organisasi dakwah di kalangan anak-anak muda, sekitar 20 tahun silam. Tulisan tersebut saya maksudkan untuk menggugah teman-teman yang mulai menunjukkan gejala aras-arasen dalam menggerakkan roda dakwah.
Adam a.s. Ya, siapa tidak kenal nama utusan Allah yang pertama itu? Siapa yang tidak tahu bahwa beliau mulanya adalah makhluk penghuni surga? Dan siapa yang tidak yakin bahwa surga adalah tempat tinggal yang mahaenak? Tapi kenapa kemudian beliau nekat melanggar pepali hanya untuk mencicipi kerasnya perjuangan hidup di dunia?
Orang berkarakter selalu yakin bahwa sukses dan prestasi tidak diukur dengan apa yang didapat, melainkan dari apa yang telah dilakukan. Serta merta mendapat surga itu memang enak. Namun, mendapat surga tanpa jerih payah adalah raihan yang membuat peraihnya tidak layak berjalan dengan kepala tegak di depan para kompetitornya. Betapa gemuruh dan riuh tepuk tangan dan sorak kemenangan iblis …