Sunday, November 18, 2012

Jakarta: (Masih) 1 Enaknya!

Kalau Pembaca mengerti matematika, niscaya tidak salah membaca judul tulisan ini.

Untuk membunuh kesepian, menjelang magrib (16/11) aku mengirim SMS kepada keponakan. Lepas isya datang panggilan dari nomornya. Jebul, yang menelepon suaminya. Ia menawari aku untuk singgah ke rumahnya, di Bekasi. Mulanya aku sungkan. Maklum, aku mesti menanti kedatangan rombongan teman-teman dari Solo, yang baru sampai Indramayu. Namun, ia terus merayu. Kebetulan ada bumbu yang membuat rayuannya makin sedap: ayah mertuanya (kakak iparku) juga ada di Bekasi. Kena, deh! Aku pun jadi bernafsu untuk mengiyakan permintaannya.

Sekitar pukul 8 malam menantu keponakanku tiba di Ragunan. Kupelototi sepeda motornya. "Helme siji thok, Mas?" tanyaku.

Saturday, November 17, 2012

Lugas Nian

"Yang deg-degan (bukan es degan. lho!) tegang bukan adik-adik peserta lomba. Yang tegang justru ibu-ibu di kanan dan kiri aula. Kalau adik-adik ini sudah mantap, siap berlomba. Bahkan adik-adik sudah tidak sabar untuk segera mengerjakan soal. Mereka pada ngrasani, 'Pembukaannya kok lama banget?' Oleh sebab itu, saya tidak akan berpidato. Saya tidak perlu menyampaikan pidato apa pun. Saya tidak perlu memberikan pesan apa-apa yang harus Adik-adik lakukan. Adik-adik semua sudah tahu apa yang mesti kalian lakukan, karena Adik-adik semua adalah para juara.

Tadi semua mengaku ingin seperti Pak Menteri. Bahkan, semua ingin melebihi Pak Menteri. Tidak perlu ingin, karena sekarang saja Adik-adik sudah melebihi saya. Saya dulu tergolong tidak pintar matematika, sedangkan Adik-adik semua juara matematika plus studi Islam, lagi. Luar biasa!

Friday, November 16, 2012

Koreksi

Ya, kata ini tak pernah asing di kalangan guru. Usai tes, ulangan, ujian, atau apa pun namanya, koreksi menjadi fardu. Pegang kunci jawaban --plus kertas atau mika mal, kalau perlu, pulpen atau spidol bertinta merah, lalu ... sret, sret, sret ... kluwer, kluwer ... dan jadilah angka penanda prestasi yang dicapai siswa.

Cukup begitukah untuk bisa dibilang koreksi? Kalau tidak salah lacak, kata koreksi berasal dari bahasanya David Beckam correction. Kata correction sendiri terbentuk dari adjectiva dan verba correct. Sebagai verba, to correct berarti make right or correct. Dengan begitu, koreksi mestinya dipahami sebagai the act of offering an improvement to replace a mistake; setting right. Ya, koreksi --sekali lagi, mestinya-- dipahami dan dipraktikkan sebagai tindakan menawarkan perbaikan untuk menggantikan kesalahan, alias menyetel agar benar.

Monday, November 12, 2012

Perubahan dan Kita

Berdasarkan statusnya, perubahan --setidaknya-- dapat diklasifikasikan  ke dalam tiga kategori: (1) perubahan yang diabaikan; (2) perubahan karena terpaksa; dan (3) perubahan yang dikehendaki.

Perubahan yang Diabaikan
Bayangkan seseorang tengah duduk di kursi goyang di teras rumahnya pada suatu pagi nan lembut. Lurus di depannya teronggok jam bandul berbingkai almari ukir berdinding kaca bening. Ketiga batang jarumnya tak pernah berhenti bergerak. Gerak satu putaran jarum detik diikuti pergeseran jarum menit sejauh satu setrip kecil. Gerak satu putaran jarum menit diiringi pergeseran jarum jam sejauh satu setrip besar. Selama orang tersebut duduk menikmati ayunan kursi malas itu, sudah tak berbilang kali lonceng jam berlabel "made in Germany" itu berdentang. (Agak ganjil! Biasanya "made" in Bali, kok yang ini in Germany?)

Thursday, November 8, 2012

Siapa Mau Jadi Guruku?

Tak ada seorang anak manusia pun yang bisa memilih dari rahim siapa, di mana, dan dalam keadaan bagaimana ia dilahirkan. Begitu pula aku. Bahwa orang tuaku berlimpah harta, itu anugerah-Nya yang tak mungkin kuingkari. Bahkan, aku hanya pantas bersyukur atas anugerah itu. Bahwa aku lahir dan tumbuh dengan jasmani yang normal dan bugar, itu semata bukti kemahamurahan-Nya. Bahkan, aku pantas berbangga dengan pertumbuhanku yang lebih cepat daripada anak-anak sebayaku.

Sayangnya, di balik aneka kelebihan itu, aku juga dianugerahi --yang menurut sebagian orang-- kekurangan. Aku tidak tahan berlama-lama memusatkan perhatianku pada satu aktivitas atau satu objek. Berfokus pada satu hal selama 10 menit itu sudah cukup menyiksa bagiku, walau orang-orang di sekitarku menganggapnya terlalu singkat. Sepuluh menit mematri konsentrasi itu sungguh membelenggu nafsuku untuk berulah ini-itu. Sungguh aku merasa tersiksa dengan belenggu yang dipasang oleh orang-orang "normal" yang tak merestui ulahku itu.

Thursday, October 25, 2012

Guru Kelas atau Guru Mata Pelajaran?

Ironis! Akhir-akhir ini semakin sering orang memandang sebelah mata terhadap status guru sekolah dasar (SD) sebagai guru kelas. Di jagad persekolahan, istilah guru kelas merujuk pada guru yang mengampu semua mata pelajaran generik di satu kelas. Mata pelajaran generik di dalam kurikulum yang tengah berlaku di SD saat ini meliputi Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), Bahasa Indonesia, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). 

Kegamangan atas pemberlakuan status guru kelas datang dari dalam dan luar sekolah. Dari dalam, mulai muncul perasaan kurang percaya diri (PD) pada sebagian guru SD untuk mengajarkan banyak mata pelajaran. Alasan yang melatarbelakangi adalah keberatan atas tuntutan untuk menguasai bahan pelajaran. Berkembang pandangan bahwa materi pelajaran SD dewasa ini jauh lebih sulit ketimbang belasan tahun yang lalu, ketika para guru itu duduk di bangku SD. Bahkan, ada yang memvonis tidak profesional bila seorang guru SD yang bukan sarjana matematika, misalnya, harus mengajarkan matematika di kelasnya. Guru golongan ini menuntut pemerintah untuk mengubah kebijakan: guru SD semestinya berperan sebagai guru mata pelajaran.


Wednesday, October 24, 2012

pepeel

Namanya saja sudah tidak begitu jelas: PRAKTIK PENGALAMAN LAPANGAN. Kalaupun tidak membingungkan, setidaknya nama ini berkesan terlalu umum. 

Beberapa hari yang lalu sekolah kami melepas delapan orang "guru purna tugas". Semuanya masih muda, sangat muda, bahkan. Masa tugas mereka pun baru sebentar, sekitar tiga bulan potong libur Lebaran. Ya, mereka adalah para calon guru yang baru saja usai menjalani masa PPL. Ekspresi kegembiraan sangat kentara menghiasi wajah mereka. Entah, perasaan apa yang menjadi pencetusnya: puas karena berhasil mengantongi segudang pengalaman yang cukup sebagai bekal untuk menjalani profesi masa depan, optimis akan menyandang profesi yang menjanjikan penghasilan rangkap (gaji + tunjangan profesi), atau sekadar lega karena segera bebas dari tekanan tugas-tugas perploncoan sebagai praktikan?

Sayang, kegembiraan itu tidak bertahan lama. Sebelum acara pamitan selesai, "musibah" segera menimpa mereka. Itu gara-gara kepala sekolah kami berhalangan hadir di "upacara wisuda" mereka. Ya, siang itu beliau sakit dan hanya bisa menghabiskan waktu dengan berbaring di dipan UKS. Bukan sakit beliau yang menjadi musibah bagi mereka. Namun, lantaran kepala sekolah sakit itu, sambutan diwakilkan kepada asisten yang -- maaf -- tidak pati waras. Pidato sambutan asisten inilah yang kelak meruntuhkan bangunan kebahagiaan mereka yang memang rapuh.

Saturday, September 22, 2012

Guruku Luar Biasa!


Giritontro, 22 Agustus 2012

Dua puluh enam tahun sudah, kami berpisah. Hari itu kami kumpul-kumpul bareng teman-teman seangkatan SMP. Meriah ... itu pasti! Setiap ada teman baru datang, saling bertanya, "Sinten, nggih?" Rupanya, 26 tahun itu waktu yang cukup untuk membuat kami saling pangling
Di balik keriuhan suasana reuni, terselip sejumlah pelajaran kemanusiaan. Semuanya saya bawa pulang dan dengan bangga saya sajikan sebagai oleh-oleh untuk keluarga dan teman-teman. Kini, saatnya saya bagikan oleh-oleh itu lewat cermin datar ini. Siapa pun yang menaruh apresiasi pada nilai kemanusiaan boleh ambil.
1) Egaliter
Semua alumni yang hadir memakai kaus seragam. Kepada mereka yang terjangkau, kaus diantar sebelum hari H. Datang ke acara, kami sudah mengenakan kaus itu. Sebagian teman-teman putri yang berbusana muslimah tetap memakai kaus seragam sebagai penutup blus panjang mereka. Yang tidak terjangkau, begitu datang segera diberi kaus yang sama. Alhasil, tak ada kostum orang kaya atau orang kurang kaya. Yang tampak hanya satu kostum: alumni '86 SMP Negeri 1 Giritontro.
2) Tak Lupa Kulit
Lebih dari 50% alumni yang hadir tinggal di kota-kota metropolitan. Anehnya, tak sepenggal pun terdengar percakapan dengan bahasa selain bahasa Jawa. Yang lebih heboh, MC memandu acara dengan bahasa ala resepsi Jawa! Sampai-sampai Pak Wandi, guru bahasa Jawa kami, terharu ketika menyampaikan pidato sambutan ngiras pantes pamitan untuk tindak haji. Satu lagi yang membuat saya lingsem: seorang teman kami yang hidup di Jakarta menyumbangkan sajian grup "band"-nya, Kinjeng Mengeng. Itu grup campursari yang dibentuk, dikembangkan, dan dijadikan sebagai mata pencaharian di Ibukota! "Matur nuwun, ya, Pak. Nuwun sewu, gaweanku ya mung ngamen ngene iki," celetuknya kepada saya. Sejurus kemudian ia masuk ruang kemudi Vitara-nya, sementara saya pun ngeslag Win 100 saya sambil mengacungkan jempol kiri kepadanya.

Saturday, July 21, 2012

Hewan Paling Liar


Ketika disebut sebagai hewan yang berpikir, tak ada manusia yang protes. Ketika dijuluki sebagai hewan yang berpolitik, tak ada manusia yang menggugat. Ketika dinobatkan sebagai hewan yang berestetika, tak ada manusia yang menolak. Ketika dianugerahi gelar sebagai hewan yang berbudaya, tak ada manusia yang berontak. Apalagi ketika digelari sebagai hewan yang beretika, tak ada manusia yang tidak menerimanya dengan bangga. Tetapi, bagaimana jika manusia dinominasikan sebagai penyandang predikat sebagai hewan yang paling liar?
            Kawanan singa hidup di hutan belantara. Mereka digolongkan sebagai hewan liar. Itu wajar. Tidak ada yang berkeberatan. Ulat hidup di batang, daun, buah, atau biji tanaman. Tempat hidupnya sekaligus menjadi makanannya. Ulat dikategorikan sebagai hewan liar. Itu sah. Tidak ada yang membantah. Kawanan burung blekok bersarang di pepohonan. Mereka mencari makan di sawah, danau, empang, tambak, atau sungai. Mereka dikelompokkan sebagai hewan liar. Itu benar. Tidak ada yang menyangkal. Tetapi, jika tiba-tiba manusia diusulkan sebagai nominee penyandang gelar sebagai hewan liar, bahkan hewan yang paling liar, apa kata dunia?

Monday, July 2, 2012

Spanyol Juara Luar-Dalam

Beragam spekulasi akhirnya terjawab sudah. Senin (2/7/12) dini hari--menurut jam kita--gelaran Piala Eropa 2012 berakhir. Spanyol dinobatkan sebagai juara setelah berhasil mencukur Italia 4-0. Teknik tiki-taka, yang akhir-akhir ini sering menuai kecaman, terbukti masih mujarab sebagai "jimat" Spanyol untuk melumpuhkan lawan. Selamat kepada Spanyol!

Di balik gelar Euro Champion yang disandangnya, sejujurnya timnas Spanyol menyisakan satu pertanyaan yang gagal terjawab: siapa bintang di timnas Spanyol?

Friday, June 22, 2012

Mengundang Takzim Malaikat

“Aku akan menitahkan seorang khalifah di muka bumi.” (Q.S. 2: 30)
Sontak, maklumat dari Sang Khalik itu membuat para malaikat terperanjat. Dengan nada khawatir, komunitas makhluk langit itu bertanya, “Mengapa Paduka hendak menyerahkan urusan bumi kepada bangsa yang suka berbuat korup di sana? Lagi pula mereka gemar membuat pertumpahan darah? Sedangkan kami senantiasa bertasbih dengan memuji dan menguduskan Paduka.” (Q.S. 2: 31)
Kekhawatiran malaikat cukup beralasan. Bumi merupakan planet merdeka. Segala fasilitas tersedia. Segenap karsa mendapat kesempatan untuk diwujudkan. Segala macam nafsu punya peluang untuk berkembang. Upaya pemuasan nafsu itulah yang berpotensi memicu pertumbuhan perilaku merusak atau korup. Aneka rupa sumberdaya alam yang terhampar di permukaan atau terpendam di dalam perut bumi dieksploitasi secara semena-mena. Aktivitas pendayagunaan sumberdaya alam tidak sekadar berorientasi kepada pemenuhan kebutuhan, melainkan terlampau jauh didedikasikan untuk memuaskan keinginan.

Wednesday, June 20, 2012

Minta Maaf: Komoditas Termahal Abad Ini

Seorang anak melukai perasaan temannya dengan kata-kata kotor, jorok, hina, dan ... entah ajektiva apa lagi yang pas untuk mengatributi kata-kata itu. Orang tua si korban naik darah. Itu sikap lumrah, saya pikir. Siapa pun orangnya akan tersinggung mendapati anak kesayangannya yang masih bau kencur "dianugerahi" gelar serendah dan segelap itu. Masih beruntung, orang tua tersebut tidak serta merta melabrak pelaku. Dengan bijak, beliau mengadu kepada pihak--yang menurut harapan beliau--bisa menjadi mediator.

Dengan segala keterbatasan, penerima aduan mencoba mencari solusi. Fakta-fakta dihimpun dari segenap penjuru yang teridentifikasi bisa dijadikan rujukan informasi. Intervensi dilakukan--sekali lagi, dengan segala keterbatasan.

Tuesday, May 15, 2012

Fatihah Perpisahan

  • Bi asma Allahi ar-Rahmani ar-Rahimi. Segenap makhluk, yang hidup dan yang tak hidup, yang terjangkau dan yang tak terjangkau oleh liputan panca indera, adalah titah mahakarya-Mu. Hanya Engkaulah Pemegang mutlak hak cipta dan hak milik atas mereka. Setiap amal, buah interaksi dengan makhluk-Mu, menjadi nirmakna tanpa izin dan rida-Mu. Seraya menyebut asma-Mu, Yang Maha Pemurah dan Penyayang, enam tahun silam hamba menyambut kehadiran benih-benih generasi terbaik yang Engkau utus untuk mengisi dan menghiasi hari-hari hamba.
  • Al-hamdu li Allahi Rabbi al-`alamina. Berkat izin dan rida-Mu, kini benih-benih itu telah tumbuh menjadi bibit-bibit khalifah yang, insya Allah, kelak akan menunaikan misi untuk memakmurkan bumi-Mu. Dengan segala puji kami bersyukur atas kesempatan yang Engkau berikan kepada hamba untuk turut mencelup jiwa, raga, akal, rasa, dan karsa mereka dalam kawah tarbiyah pusaka Rasul-Mu. Semua ini tidak luput dari iradat-Mu karena Engkaulah Pengendali Tunggal denyut nadi semesta alam, yang bergerak maupun yang diam.

Pamitan



Dulu, kami kadang menggerutu, rasanya sudah terlalu lama kami bersekolah di sini. Ingin rasanya kami segera lulus, lalu berganti sekolah, berganti gedung, berganti seragam, berganti teman, dan juga berganti guru. Tapi, hari ini serta-merta perasaan itu berbalik 180 derajat. Pagi ini ada perasaaan berat untuk meninggalkan sekolah tercinta ini. Saat ini ada perasaan enggan untuk menanggalkan seragam sekolah kebanggaan kami. Detik-detik terakhir ini ada perasaan tidak rela untuk membiarkan waktu terus melaju, karena pergeseran waktu itu hanya akan mengantarkan kami makin dekat ke garis perpisahan. Ya, perpisahan menjadi “hantu” kesedihan yang terus membayangi keceriaan dan kebahagiaan kami selama berkumpul sepanjang pagi ini. Sungguh sulit untuk dipercaya bahwa kami sudah menghabiskan waktu enam tahun di sekolah bintang lima ini.
Tidak berlebihan kiranya, jika kami menyebut sekolah kita ini berkelas bintang lima. Hampir semua sarana belajar yang kami perlukan untuk mengembangkan diri tersedia di sini. Teman-teman kami yang hanya bisa menjadi penonton sering mengaku cemburu terhadap segala fasilitas yang kami dapati di sekolah ini. Karena itu, salut dan terima kasih kepada Yayasan atas seluruh karya spektakuler ini.

Wednesday, May 9, 2012

Cuma Seperti Ketika Anakku (Masih) Kecil?

"Wahai, Tuhan, ampunilah aku;
ampuni juga kedua orang tuaku;
dan sayangilah keduanya, seperti mereka menyayangi aku ketika aku masih kecil."

Kali ini mulut anakku yang melantunkan doa itu. Tak jemu-jemu, jagoanku yang kala itu berumur empat tahunan itu mengulang-ulang permohonan itu setiap usai salat. Aku tidak tahu, dia benar-benar merasa membutuhkan atau sekadar menghafalkan pelajaran baru yang didapat dari ibu gurunya. Yang jelas, doa itu sempat menyejukkan jiwaku. Bahkan aku sedikit berbangga demi menyaksikan anakku, investasiku itu, sudah tumbuh menjadi benih laba yang dapat kupetik di hari kelak. Tenteram hatiku setiap kali mendengar lirih doa anakku itu.

Namun, kebanggaan itu tak bertahan lama. Tiba-tiba hobi protesku kambuh. Ya, aku memrotes rumusan doa itu. "... seperti mereka menyayangi aku ketika aku masih kecil." Kenapa hanya ketika anakku masih kecil? Bukankah aku (akan) menyayangi dia sepanjang hayatku? Kenapa kasih sayang Tuhan yang diminta untuk dicurahkan kepadaku hanya sepadan dengan kasih sayangku kepadanya selagi dia masih kecil? Lalu, ke mana imbalan kasih sayangku kepadanya setelah dia besar nanti?

Friday, May 4, 2012

Software Peribahasa Indonesia

Anda siswa sekolah yang dituntut mengenal banyak peribahasa yang ada di dalam bahasa Indonesia? Atau, Anda guru bahasa Indonesia yang kadang-kadang mesti mengajarkan peribahasa? Atau, Anda suka membaca aneka tulisan berbahasa Indonesia dan sesekali menjumpai peribahasa di dalamnya?

Jika ya, software ini kiranya cukup membantu Anda. Tak perlu membawa buku tebal ke mana-mana. Tak perlu pusing bertanya ke kanan dan ke kiri. Tinggal klik abjad pertama salah satu kata yang terkandung di dalam peribahasa yang Anda temukan. Selanjutnya, ikuti saja ...

Peribahasa Indonesia: Download Peribahasa Indonesia

Saturday, April 28, 2012

Anak-Ibu-Ayah Berbagi Impian

Apakah Anda punya impian tentang putra/putri Anda?
Apakah Anda berani mengukur tingkat kerealistisan impian Anda?
Jika Anda menjawab "ya", mintalah putra/putri Anda untuk mengisi rapor Anda seperti form A berikut.
Sementara, Anda sendiri mengisi daftar impian Anda seperti form B berikut.
(Pernyataan-pernyataan di dalam form A dan B sekadar contoh; bisa diubah sesuai dengan keperluan. Yang harus diperhatikan, pernyataan di dalam form A mesti linier dengan pernyataan di dalam form B yang bernomor sama.)
Lalu tukarkan daftar impian Anda dengan rapor Anda. Diskusikan berdua saja dengan ananda. 
Jika skor impian Anda sama dengan skor rapor Anda pada nomor yang sama, berarti impian Anda pada nomor tersebut cukup realistis. Sebaliknya, jika skor impian dan rapor pada nomor yang sama terpaut jauh, berarti impian Anda tidak realistis. Ringkasnya, makin kecil selisih kedua skor berarti impian Anda makin realistis; makin jauh selisihnya berarti makin ngelantur Anda mengigau.
***
Metode ini pernah disimulasikan secara kolosal di sekolah kami. Hasilnya, mendapat respons luar biasa dari orang tua murid.
***

Friday, April 20, 2012

Diputus, ... Syukurin!

Suatu sore lepas asar, di ruang tamu rumah seorang konselor. Sebenarnya, beliau "hanya" seorang guru di sebuah perguruan tinggi. Di sela-sela kesibukan memberikan kuliah, beliau juga punya hobi mengajarkan ilmu agama di salah satu petak rumahnya. Ruangan sederhana itu mirip sebuah pondok pesantren. Setiap hari, pada jam-jam tertentu, belasan --kadang puluhan-- remaja akhir, putra-putri, menimba ilmu di sana. Adalah keakrabannya dengan berbagai persoalan umat yang mengantarkan beliau kepada julukan "konselor".

Seorang mahasiswi semester akhir duduk tertunduk lesu di kursi kayu. Wajahnya tertunduk layu. Kedua matanya sembab. Sebentar-sebentar tangannya merogoh tisu dari dalam tas, lalu menyapu air matanya yang nyaris jatuh. Sepasang bibirnya bergantian digigit-gigit sendiri. Sepertinya ada ekspresi yang ditahan. Tak ada yang menemani. Tadi istri Pak Konselor hanya sempat menyambutnya di pintu, menyilakan duduk, mengambilkan segelas air putih, menanyakan kabar, lalu kembali bersembunyi di ruang tengah. Memang begitu biasanya. Jika tamu yang datang tampak membawa beban berat, beliau lebih suka menyingkir. Beliau bukan tipe istri keminter yang suka menyerobot kepiawaian sang suami.

Monday, April 16, 2012

Untung, Sempat Nyicil!

Ketika kecil dulu, aku sering dikudang oleh Simbok (panggilan untuk ibu dalam tradisi keluarga kami). Kudangan beliau tidak berbeda jauh dari impian kebanyakan masyarakat petani tradisional desa: BESOK GEDE JADI DOKTER.
Aku berani memastikan, kala itu Simbok tidak memikirkan konsekuensi yang harus ditanggung untuk mengantarkan anaknya mewujudkan kudangan tersebut. Seandainya sempat berpikir tentang hal itu, pasti beliau tidak bakal berani mengungkapkan kudangan sembrono begitu. Kelak aku pun sempat protes karena ternyata beliau tidak wani nggetih untuk mewujudkan kudangannya sendiri. Sebagai pelampiasan kekecewaan itu, kuabadikan cita-cita besar beliau dalam corak tulisan tanganku. Ya, tulisan tanganku mirip tulisan dokter di resep obat.
Baru setelah jadi orang (bukan anak-anak lagi, maksudku), aku memahami maksud kudangan Simbok, yang kini sudah berusia senja. Kudangan itu setidaknya berguna sebagai pelecut agar aku tumbuh bersama impian besar. Dan ... benar-benar gairahku terpantik oleh kekudangan itu. Anganku sering melambung tak terkendali.

Saturday, April 14, 2012

Juara Sejati

  • Dapatkah Anda menyebut nama-nama Miss Universe (ratu sejagad) lima tahun terakhir? Atau, para Putri Indonesia lima tahun terakhir?
  • Mampukah Anda menyebut nama-nama aktor dan aktris pemenang Piala Oscar lima tahun terakhir? Atau, para peraih Piala Citra dalam FFI tahun terakhir saja?
  • Sanggupkah Anda menyebut lima nama orang terkaya sejagad yang terakhir dirilis majalah Forbes? Atau, lima orang terkaya di Indonesia tahun terakhir?
Bagaimana? Anda menyerah? Tak mengapa. Tak perlu putus asa. Mungkin risiko yang akan Anda derita hanya gagal memenangi kuis televisi atau mengisi penuh seluruh kotak TTS. Agar tidak larut dalam perasaan kurang cerdas, segera beralihlah ke pertanyaan-pertanyaan berikut.

Thursday, April 12, 2012

Tuhan Pangling


Matahari terbit dari barat. Sinarnya terang berkilau membuat semua mata merasa silau. Perlahan sang bagaskara terus turun dari singgasananya. Jaraknya makin dekat ke bumi, anggota keluarganya yang selama ini ditimang-timang dalam kehangatan dan kecerahan cahayanya. Makin lama makin mendekat. Tinggal tersisa jeda sejengkal di atas kepala orang berdiri. Sengatan panasnya membakar hangus segala benda, menembus segala lapisan dinding pelindung makhluk semesta. Jalinan atmosfer robek compang-camping kehilangan rupa. Rajutan ozon koyak menganga di mana-mana. Seluruh mantel penghalang tak kuasa membendung radiasi sinar ultra dan infra dari sang bola raksasa. Tiada yang tersisa. Benua es yang berjuta tahun tidur nyenyak di dua kutub dunia mendadak cair. Lebur, leleh, luluh, lantak.
Bumi berguncang keras. Seluruh planet turut bergetar dahsyat. Resonansinya menimpa segenap benda luar angkasa. Serentak berguguran. Rontok. Jagad raya memuntahkan segala isi perutnya. Bongkah-bongkah bebatuan berhamburan keluar meninggalkan relung persemayaman mereka. Satu, dua, tiga, … berjuta bongkah menyembul bersamaan lalu meluncur kencang dan terbang di udara. Gravitasi bumi menariknya kembali turun. Tak mau menunggu giliran, rombongan batu-batu sebesar Gunung Semeru jatuh berbarengan. Pecah segala yang ditimpa. Hancur segala yang diterjang.

Tuesday, April 10, 2012

MP3 atau MP4?


Pagi itu rumah Pak Dar cukup ramai. Tidak seperti biasanya, memang. Bertahun-tahun tinggal di situ, baru kali ini suasana Lebaran di rumah Pak Dar tampak meriah. Sekitar pukul sepuluh pagi, serombongan tamu datang dengan beberapa mobil minibus. Rumah yang tak begitu luas itu penuh oleh tetamu Lebaran. Bahkan, beberapa tamu laki-laki terpaksa duduk lesehan di teras dan beberapa yang lain memilih duduk di bangku panjang di bawah rerimbun pohon mangga yang tumbuh di halaman depan yang juga terbilang sempit.
Tidak tampak ada acara formal. Yang terdengar hanya obrolan ringan tanpa batasan topik yang jelas. Usai topik yang satu, obrolan melompat ke topik yang lain. Alur pembicaraan pun mengalir lancar walau sebentar-sebentar beralih tema. Sesekali riuh derai tawa hadirin dan tuan serta nyonya rumah meningkahi percakapan bebas dan santai tanpa pemandu acara itu.
“Kalau Lebaran begini libur berapa hari, Mbak Rin?” pertanyaan Bu Dar tiba-tiba menghentikan perbincangan yang semula saling bersahutan.
“Dua minggu, Bu,” jawab Sarinah.
Sebelum kenal Bu Dar, dulu Sarinah di kampungnya dipanggil “Nah”. Ada juga beberapa tetangga yang memanggilnya “Sar”. Tapi, sejak bertemu Bu Dar belasan tahun silam, perempuan desa itu menyandang panggilan baru: Ririn. Bu Dar, pegawai biasa di sebuah instansi pemerintah itu, memang dikenal lihai mempercantik panggilan untuk nama-nama yang berkonotasi kampungan. Sarinah dipanggil Ririn. Painem dijuluki Iin. Samiatun dipanggil Mia. Juminten dijuluki Inten. Mesirah dipanggil Meme. Dan … entah, sudah berapa lagi gadis-gadis yang datang dengan nama kampungan, kelak kembali pulang ke desa membawa julukan baru namun tetap diambil dari bagian namanya.

Monday, April 9, 2012

Malu kepada Penjaja Mendoan


Mendoan adalah sejenis tempe yang amat tipis. Di “negara” asalnya, mendoan memang didesain tipis sejak dari awal pencetakannya. Setelah dikupas kemasannya yang terdiri atas dua lapis, daun pisang di lapisan dalam dan daun jati di lapisan luar, tempe mendoan mesti diangkat secara hati-hati. Kalau tidak, ia akan mudah patah karena ketipisannya. Dilumuri adonan tepung terigu berbumbu lalu digoreng, mendoan menjadi camilan lezat untuk ukuran masyarakat sekelas saya.
Di daerah lain, di kota domisili saya, orang suka membuat mendoan palsu. Tempe tebal raksasa yang berbalut kemasan plastik dipotong-potong selebar telapak tangan. Tiap-tiap potong lalu dibelah tipis-tipis hingga ketebalannya menyerupai mendoan. Dimasak dengan cara yang sama, kemudian tempe berkemul itu ramai-ramai dinamai mendoan juga. Di warung-warung permanen maupun di lapak dan gerobag kaki lima, mendoan palsu itu menjadi “snack” yang laris manis.
Suatu sore saya menemani istri mencari camilan untuk berbuka puasa. Pilihan jatuh pada gerobag aneka gorengan. Di kaca gerobag tertera tulisan Rp500,00 (tentu, ejaannya tidak sebaku ini). Artinya, harga camilan yang dijajakan di situ adalah 500 rupiah per biji. Ibu anak-anakku menyodorkan selembar uang Rp5.000,00-an.
“Campur, Pak,” katanya.

Sunday, April 8, 2012

Berguru kepada Abang Becak

Teman yang satu ini sungguh beruntung. Ia punya seorang ayah. Satu-satunya ayah yang dimilikinya itu bekerja sebagai pengemudi becak. Beliau dan teman-teman seprofesi boleh iri. Pengemudi kapal terbang ada namanya: pilot. Pengemudi kapal laut punya sebutan khusus: nakhoda. Pengemudi kereta api punya julukan: masinis (sekalipun berkelamin perempuan, ia tidak dijuluki mbaksinis). Pengemudi mobil – segala jenis mobil – disebut sopir. Pengemudi dokar, andong, atau delman punya nama: kusir atau sais. Lha pengemudi becak? Belum dibuatkan julukan khusus untuk mereka. Di Betawi, pengemudi sepeda beroda tiga (bila mirip merk produk tertentu, anggap saja itu bukan ketaksengajaan [?]) itu dipanggil “abang becak” (bila ia seorang perempuan, pasti panggilannya berubah). Di daerah-daerah lain, mereka lazim menerima sebutan “tukang becak” atau “penarik becak”. Yang terakhir ini kacau lagi. Pengemudi becak kan duduk di belakang kabin penumpang? Masa, menarik dari belakang ke depan???
Namun, bukan kelangkaan sebutan khusus itu yang membuat abang becak pantas diangkat sebagai guru. (Tapi jangan mimpi dipanggil untuk mengikuti sertifikasi atau inpassing, lho, Bang!)
***
Seorang perempuan setengah baya berteriak, “Becak …, becak …!”

Quo Vadis Pendidikan Karakter?

         To educate a person in mind and not in morals is to educate a menace to society (Mendidik orang dengan pendidikan otak tanpa pendidikan moral sama halnya dengan menanam ancaman bencana bagi masyarakat). Pesan ini disampaikan oleh mendiang Theodore Roosevelt, presiden ke-26 Amerika Serikat. Secara lebih sinis, pada kesempatan lain presiden termuda yang pernah dimiliki negeri Paman Sam itu menyindir, A man who has never gone to school may steal from a freight car; but if he has a university education, he may steal the whole railroad.” Seseorang yang tidak pernah mengenyam bangku sekolah paling-paling mencuri dari gerbong pengangkut barang; tetapi jika sempat mengenyam bangku kuliah, bisa jadi ia akan merampok seluruh lintasan kereta.
Akhir-akhir ini isu pendidikan karakter mencuat sebagai topik perbincangan yang ramai menghiasi halaman media massa. Berbagai kalangan – pejabat eksekutif, politisi, pakar dan pengamat pendidikan – seolah-olah berpacu unjuk keprihatinan. Semua seperti sudah sepakat bahwa segala bentuk keterpurukan yang melanda bangsa ini merupakan akibat kegagalan sistem pendidikan kita di dalam membangun karakter bangsa.

Saturday, April 7, 2012

Ayahku Seorang Pendidik

Tetangga depan rumah kami dulu punya empat anak, tiga perempuan dan satu laki-laki. Tidak seperti anak-anak lain di desa kami, anak laki-laki tetanggaku itu tak kenal pekerjaan "anak desa". Dia tidak pernah terlihat memikul air dari sumber air di pinggir sawah. Memikul hasil bumi dari sawah atau ladang juga tak pernah dilakukan. "Nikmatnya" memikul kotoran sapi dan kambing dari kandang untuk memupuk tanah garapan orang tuanya pun tak pernah dirasakan. Paling-paling, sesekali dia ikut teman-teman sebayanya ramai-ramai menggembala sapi di padang rumput. Enak nian hidup anak tetanggaku itu. Barangkali nasib baik itu menimpa dirinya lantaran dia anak lelaki satu-satunya di keluarganya.

Suatu pagi ayahku mengajak anak-anaknya, aku dan dua kakakku, mengusung pupuk kandang ke ladang. Itu kami lakukan berulang-ulang dalam sehari. Capek, memang. Ada bengkak merah di pundak kami. Dalam hati, aku pun memrotes perlakuan ayahku kepada kami itu. Kala itu usiaku belum genap sepuluh tahun. Sedangkan anak lelaki tetanggaku itu sekitar enam atau tujuh tahun lebih tua daripada aku.

"Apa kalau anak-anak tidak dilibatkan memupuk, sampeyan khawatir tanamannya tidak bisa subur, to, Kang?" tegur tetanggaku bernada mencibir ayahku.

"Wong aku ini tidak memupuk tanaman, kok, Dhi," sahut ayahku, "Aku ini kan sedang memupuk anak-anakku."

Wednesday, April 4, 2012

Bias dalam Sertifikasi Guru

Ketika mendengar kata "sertifikat", lazimnya orang mengasosiasikannya dengan "pengakuan". Sertifikat hak milik tanah, misalnya, dipahami sebagai pengakuan bahwa sebidang tanah sebagaimana disebut spesifikasinya adalah milik orang atau badan yang identitasnya tertera di dalam dokumen tersebut. Keterangan lokasi, ukuran, dan gambar situasi tanah yang tertera di sertifikat mesti sesuai dengan fakta yang terbukti di lapangan. Selisih sekecil apa pun antara data di sertifikat dan fakta di lapangan akan berbuntut panjang bila kelak terjadi sengketa menyangkut status tanah tersebut,

Sertifikasi Guru
Setelah dinyatakan lulus sertifikasi, seorang guru akan menerima sertifikat profesi guru. Konon, menurut konsep yang diundangkan, sertifikat itu berfungsi sebagai pengakuan atas profesionalisme guru. Sedangkan tolok ukur profesionalisme guru terdiri atas 5 (lima) komponen: (1) kualifikasi akademik, (2) kompetensi pedagogik, (3) kompetensi profesional, (4) kompetensi kepribadian, dan (5) kompetensi sosial.

Kualifikasi akademik menjadi komponen yang paling gamblang wujudnya dan paling gampang asesmennya. Siapa pun, asalkan melek huruf, bisa menjadi asesor. Peraturan perundangan yang mengatur standarnya pun tidak memerlukan uraian rinci. Ini tentu berbeda dari empat komponen yang lain. Karena bersifat operasional, tiap-tiap kompetensi itu dijabarkan secara rinci indikator-indikatornya.


Friday, March 30, 2012

Mata Ibuku yang Sebelah

Aku sungguh benci dia. Dia hanyalah biang kemaluan bagiku. Pertemuan dengannya adalah saat yang paling membuatku menderita. Apalagi bila itu terjadi di depan orang banyak. Kehadirannya menjadi perusak citra diriku. Jika dia datang ketika aku sedang tertawa renyah bersama teman-temanku, seketika tawa riangku musnah. Jika dia datang ketika aku sedang riuh rendah bergurau, seketika senda gurauku menjadi kacau. Jika dia datang ketika aku tengah bernyanyi riang, seketika laguku mendadak sumbang.
Pekerjaannya memasak. Setiap hari dia membuat beraneka makanan dan menjajakannya di sebuah sekolah. Entahlah, kenapa para guru dan siswa di sekolah itu setia menjadi pelanggannya? Apakah itu karena cita rasa masakannya berhasil memanjakan selera lidah mereka, ataukah mereka sekadar iba menyaksikan duka nestapanya. Yah, barangkali, sebenarnya mereka tidak berniat membeli makanan yang dijajakannya. Boleh jadi, mereka hanya ingin mengapresiasi ketabahannya sebagai seorang perempuan yang menderita cacat mata. Atau, mereka terdorong untuk membayar kegigihannya sebagai seorang janda yang harus menghidupi dirinya sendiri dan membesarkan anak semata wayangnya.
Suatu hari, ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar, dia datang ke sekolahku. Pada jam istirahat, dia menghampiriku sekadar untuk menyapaku. Mendadak derai tawaku terhenti. Suasana riang penuh canda siang itu segera berubah menjadi senyap dan kaku. Semua mata menatap tajam ke wajahnya.
Betapa malunya aku! Tega-teganya dia melakukan ini kepadaku! Tak kuacuhkan kehadirannya. Sejenak kupelototi dia dengan tatapan penuh kebencian, lalu kubuang muka dan cepat-cepat aku lari, pergi darinya.
Sepulang dari sekolah, sampai di rumah aku ungkapkan kemarahanku kepadanya.
“Kalau kau hanya ingin menjadikan aku bahan cemooh, kenapa kau tak mati sekalian saja?!” bentakku tanpa terusik secuil pun perasaan berdosa.


Saturday, March 24, 2012

Teken Pakta Integritas???

Di Karanganyar, Jawa Tengah, seluruh kepala sekolah SMP dan SMA ramai-ramai menandatangani pakta integritas. Tentu, isinya berkaitan dengan pelaksanaan ujian nasional. Hebat, ya?
Ya, setidaknya, orang berhak untuk menggubah beragam pertanyaan sebagai respon terhadap trend tanda tangan pakta integritas itu. (1) Pakta integritas itu penegasan integritas yang sudah menjadi tradisi atau pertobatan dari tradisi nir-integritas? (2) Pakta tersebut tameng penangkal atau topeng penyamaran? (3) Pakta itu niat atau janji? (4) Pakta tersebut penting atau demi kepentingan?
Dirangkum, empat pertanyaan tersebut terwakili oleh satu pertanyaan saja: ada apa di balik "ritual" penandatanganan pakta integritas itu?


Fenomena sang Surya

Muhammad Surya Alam Aprilima. Demikian nama tokoh fenomenal ini. Ditakdirkan terlahir pada 5 April membuat ia menyandang tanggal ulang tahun itu di ujung namanya. Nama yang sungguh indah! Mudah-mudahan sepenggal perjalanan sekolahnya bisa menjadi sang surya yang menyinari keindahan dunia. Setidaknya, dunia teman-teman seusianya.

Paruh pertama semester gasal kelas 6. Seorang ibu menampakkan kesabarannya yang luar biasa. Ia menyilakan orang-orang lain mendahului gilirannya untuk mengambil laporan hasil belajar tengah semester anaknya. Ia memilih giliran terakhir.

"Saya minta tolong, Pak," pintanya kepada guru wali kelas anaknya. "Nilai matematika Surya itu selalu di bawah rata-rata," lanjutnya.

Keterlaluan memang! Dalam tes diagnostik untuk mendeteksi peta materi sukar pada ujian nasional --waktu itu masih berstatus UASBN-- Surya "berhasil" memecahkan rekor. Nilainya 1,25! Artinya, hanya 5 dari 40 item soal yang dijawab dengan benar.

Uji Kompetensi Awal

Ada yang sejak awal sudah menolak. Ada yang panik untuk menjalani. Ada yang berdebar-debar menanti pengumuman hasilnya. Ada yang kemudian bersorak kegirangan (bangga?) Ada yang mendadak jantungan.

Ada yang kecewa ... Dan yang terkesan paling kecewa adalah Pak Menteri. "Nilai UKA (Uji Kompetensi Awal) sangat rendah," kata beliau. Nilai rata-rata nasional "hanya" berkepala 4. Ya, 4 koma sekian.

Duh, guru ... guru ....
Demi tunjangan sebesar gaji per bulan, semua jadi ruwet begini. Jangan-jangan sudah tidak ada lagi persoalan pendidikan yang menjadi perhatian bangsa ini selain kesejahteraan para guru? Ngeri!

Nyontek?!!!

Tiga tahun terakhir saya mendapat tugas mengampu kelas 6 - kelas terakhir di sekolah dasar. Pada awal tahun pelajaran, saya selalu bertanya kepada anak-anak, "Siapa yang selama bersekolah belum pernah mencontek?" Mencengangkan! Tahun pertama, tahun pelajaran 2009/2010, di antara 127 siswa tak seorang pun tunjuk tangan. Tahun kedua, 2010/2011, tak seorang anak pun - di antara 141 anak - tunjuk tangan. Tahun ini, 2011/2012, 1 di antara 152 anak tunjuk jari. So, selama tiga angkatan, dari sebanyak 420 anak, saya baru mendapati SEORANG siswa yang belum bergelar pencontek.

Berikutnya saya bertanya, "Siapa yang pernah diajari nyontek oleh orang tua kalian?" Di antara 420 anak tidak ada yang mengacung. Tanya saya lagi, "Siapa yang pernah diajari nyontek oleh ibu atau bapak guru kalian?" Kembali sepi: tak ada yang tunjuk tangan.

Look Up

Part 2 So look up from your phone, shut down the display Take in your surroundings, make the most of today Just one real connectio...