catatan ringan hasil pengindraan jagat pendidikan

Mengenai Saya

Foto saya
Semarang, Jawa Tengah, Indonesia
Dilahirkan dan dibesarkan di desa, dewasa di kota, berpikir global dan bertindak lokal ala desa.

Total Tayangan

Follow by Email

Translate

BTemplates.com

BTemplates.com

Blogroll

Kamis, 23 Januari 2020

Memuliakan Tamu


Prof Furqon menghadiahkan 3 buku karyanya kepada SMA Islam Hidayatullah Semarang
Solo, 11-01-2020

Saya lagi beruntung. Atau, lebih tepatnya: saya beruntung lagi. Di luar rencana, tetiba mendapat kesempatan jalan-jalan. Tidak jauh, memang. Sekitar 1 jam dari kota pangkalan. Mendadak didaulat untuk mewakili pimpinan. Membersamai teman-teman seperjuangan: para guru dan tenaga kependidikan Smaha Hebat. Silaturahmi ke saudara tua: SMA Al-Islam 1 Surakarta. Sembari kulak kawruh. Ikhtiar untuk selalu berbenah.

Jarum jam masih lumayan jauh menuju angka 8. Rombongan kami tiba di tempat tujuan. Di Jalan Honggowongso. Kelurahan Panularan. Kecamatan Laweyan. Sopir bus sempat bingung mencari tempat parkir. Agar tidak mengganggu lalu lintas. Sementara, bus menepi dan berhenti di seberang Sekolah. Beberapa penumpang turun. Lalu berjalan menyeberang. Tidak lama kemudian, datang seorang petugas. Memandu bus untuk kembali berjalan, berputar balik beberapa meter di depan, dan berparkir di depan Sekolah. Di sebelah kiri gerbang. Berbagi bahu jalan dengan dua deret sepeda motor yang sudah lebih dulu diparkir.

Seluruh rombongan turun. Tanpa harus menyeberang jalan. Regu penerima tamu sudah bersiap. Berjajar satu lapis mulai dari gerbang. Mengular hingga tangga menuju aula. Menyambut kedatangan kami. Dengan senyuman ramah mengembang. Melengkapi ucapan tulus selamat datang. Juga jabat tangan dengan tamu berjenis kelamin sama. Kepada yang berbeda jenis kelamin, cukup dengan menangkupkan kedua tangan di depan dada.

Kami disilakan masuk ke aula. Di lantai dua. Satu per satu mengisi daftar hadir. Lalu duduk di kursi-kursi yang sudah tertata rapi. Tak lama berselang, regu sinoman menyusul. Menyangga baki-baki. Masing-masing berisi sejumlah dus, botol air mineral, dan gelas teh. Satu per satu muatan baki diturunkan, ditata rapi di atas meja bertaplak batik. Pramusaji menjulurkan tangan kanan. Ibu jari terbuka, diacungkan ke kudapan yang sudah tersaji. Bibir tersenyum lebar. Sambil berucap, “Mangga.”

Begitulah Solo, julukan populer untuk Kota Surakarta. Sampai hari ini masih setia menjadi Jawa. Tak peduli dengan kehadiran era revolusi 4.0. Yang memicu hiruk pikuk itu. Kultur Jawa Soloensis tetap eksis. Belum tega menyerahkan hidangan kepada tamu langsung dari tangan ke tangan. Seperti transaksi dengan pengemis. Apalagi, mendistribusikan makanan dan minuman secara berantai. Yang kadang penyampaiannya setengah dilempar. Mirip pembagian sembako kepada kaum fakir. Yang rela berjam-jam berdesakan memadati halaman luas di depan rumah besar nan mewah. Atau, berlepotan lumpur di lapangan desa yang becek setelah diguyur hujan semalam. Demi memperebutkan sedekah dari dermawan berlimpah harta.

Sejumlah meja ditata menyela deretan kursi. Suguhan makanan dan minuman diparkir di atasnya. Tamu-tamu tak perlu repot memegang botol atau gelas minuman dan memangku kotak kudapan. Atau, bersusah payah mencari titik aman untuk menaruhnya di bawah atau sekitar kursi. Selain menyusahkan, gaya nyuguh tamu ala pengungsian itu juga mengandung unsur penistaan terhadap makanan/minuman.

Hidup tak selalu cukup dengan pragmatisme. Meski sudah ada air minum dalam kemasan, kami tetap disuguhi teh manis hangat. Manis adalah simbol. Kami disambut dengan sepenuh ketulusan hati. Itu terpancar jelas pada berpuluh-puluh muka yang menyambut kehadiran kami. Lengkap dengan tatapan mata bersahabat dan sunggingan senyum ramah. Hangat adalah sasmita. Bahwa kami diterima dengan sepenuh kehangatan jiwa. Itu sungguh terasa dalam jabat tangan yang erat. Kami diterima dan diakui sebagai saudara. Tak bersyarat. Teh manis hangat. Disajikan dalam gelas. Memantik sentuhan langsung. Bibir gelas dan bibir si peminum. Tak berjarak. Tak berantara.

Solo: the spirit of Java. Masih begitu terasa.

Oleh pimpinan rombongan, saya didudukkan di barisan kursi terdepan. Bersama beberapa anggota rombongan. Tersisa satu kursi. Paling kanan. Di deretan kami. Datang kemudian seseorang. Berbaju batik bermotif sederhana. Bukan batik berkelas, dugaan saya. Berpeci hitam. Khas peci orang biasa. Berjalan memasuki aula. Seorang diri. Menyalami kami yang duduk di tepi. Mulai dari belakang. Sampai di baris terdepan lalu belok kanan. Akhirnya berlabuh di kursi paling kanan. Yang belum berpenghuni tadi. Selisih satu kursi di sebelah kanan saya.

Saya mulai menduga-duga: apakah ia pengurus Yayasan? Yang didaulat untuk menyampaikan pidato sambutan? Yang bersangkutan tak kunjung berkata-kata. Masih betah duduk dengan santainya. Teman sebelah saya, yang duduk persis di sebelahnya, juga tampak tidak berminat untuk mengajaknya berbincang. Terpaksa saya dikte. Dengan membisikkan pertanyaan, “Apakah Bapak itu pengurus Yayasan?” Teman saya menoleh ke Bapak di sebelah kanannya. Mewakili penasaran saya, “Nuwun sewu, Bapak pengurus Yayasan?” “Inggih,” jawaban Bapak yang ditanya. Percakapan pun berakhir. Dengan skor 1 : 1. Rupanya, teman yang satu ini telanjur dominan unsur asamnya. Kurang piawai berbasa basi.

Upacara penyambutan pun dimulai. Pewara memegang mikrofon. Setelah salamnya dijawab serempak, ia lalu menyapa hadirin. Mulai dari pihak yang paling dituakan. “Yang terhormat, Ketua Yayasan, Profesor Doktor Haji Muhammad Furqon Hidayatullah, eMPede ...,” sebutnya.

Deg! ... Pyarrr ...! Serasa pecah dada saya. Ambyar! Saya tersipu. Nama yang sudah cukup lama akrab di telinga, eh, mata saya. Dulu sering saya jumpai di halaman media massa. Liputan kiprahnya. Atau kutipan pandangan dan pendapatnya. Menyangkut isu-isu aktual. Seputar pendidikan. Sayangnya, saya hanya mengakrabi namanya. Wajahnya tidak saya kenali. Hingga hari ini kehadirannya saya cuekkan. Padahal duduk sebaris. Hanya tersekat satu orang.

Masih sambil berusaha menyembunyikan perasaan berdosa. Saya rogoh dan keluarkan ponsel dari saku jaket. Saya ketik nama itu. Untuk berburu informasi terkini. Apa jabatan beliau (nah, mulai dari sini saya pakai kata ganti beliau) sekarang? Tak mau kehilangan jejak mutakhir. Maklum, terbilang cukup lama saya tidak mendapati nama beliau di media. Akibat saya tidak sesering dulu memelototi media cetak. Yang masih saya ingat, berita tentang pencalonan beliau sebagai rektor. UNS, tentu. Kampus yang sempat mencantumkan nama saya. Sebagai calon cantrik di salah satu program studi diploma. Namun saya batal melakoninya. Demi menepati akad yang lebih dulu memastikan status saya. Kampus lain di kota lain.

Berselancar sejenak, akhirnya saya temukan profil mutakhir beliau. Direktur Pascasarjana. Tertulis: sejak 2015. Setelah menuntaskan jabatan Dekan FKIP dua periode. Tampaknya beliau hanya menjabat satu periode. Berarti berakhir pada 2019. Di laman https://uns.ac.id/id/tentang-uns/pimpinan-unit-kerja tercantum nama lain pada jabatan itu.

Lagi-lagi, saya dibuat terbelalak. Kami hanya rombongan anak-anak ingusan. Ditakar secara kualitatif maupun kuantitatif, kami terlampau kecil. Diterima oleh Kepala Sekolah saja sudah merasa terhormat. Kenapa musti diterima langsung oleh Ketua Yayasan? Yang adalah seorang guru besar? Yang mantan dekan dua periode? Yang juga pernah menjabat Direktur Pascasarjana? Di perguruan tinggi negeri yang cukup besar? Kontan, kami merasa tersanjung. Harga diri kami melambung.

Sungguh! Teladan berharga dari saudara tua: adab menghormati tamu. Pendidikan karakter yang konkret. Yang luput dari target observasi kami. Barangkali karena kami (eh, diganti saya saja, biar aman) terlalu jemawa. Merasa sudah menkhatamkan pelajaran akhlak terhadap tamu. Secara tekstual saya memang hafal pesan (lafaz dan tulisannya) teladan utama dan guru paripurna saya. Tentang akhlak terhadap tamu itu. Yang artinya begini: “Sesiapa yang mengaku beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah memuliakan tamunya.”

Namun, saya gagal merumuskan SOP-nya. Belum apa-apa sudah menyerah. Merasa tidak menemukan petunjuk teknisnya. Kedunguan telah membutakan saya. Hingga tak sanggup menangkap makna pesan “memuliakan tamu” itu dalam etika luhur warisan leluhur. Prinsip gupuh, yang mengejawantah dalam optimalisasi aruh, lungguh, dan suguh mestinya dipahami sebagai kearifan lokal. Yang 100% akur dengan konsep memuliakan tamu. Yang sahih untuk diangkat sebagai tafsir kontekstual atas pesan tekstual itu. Yang layak belaka dijadikan prosedur operasional standar pengamalan autentik atas sunah qauliyah itu. Atau, kelewat permisif terhadap penetrasi budaya global? Yang mendewakan sipirit kepraktisan dan efisiensi di atas segala-galanya?

Last but not least, saya merasa perlu mencatat bonus perjumpaan kami dengan Prof. Furqon. Beliau diagendakan untuk memaparkan profil Yayasan Perguruan Al-Islam, yang menaungi SMA Al-Islam 1 Surakarta. Masih dalam rangkaian upacara penyambutan. Setelah sebelumnya disuguhkan tari saman. Menampilkan gerak ritmis nan kompak para siswi setempat. Lengkap dengan musik pengiring: perkusi dimainkan oleh dua siswa dan vokal dibawakan oleh dua siswi. Yang sudah menorehkan prestasi di level Kota Surakarta. Juga dibuka dengan pidato selamat datang oleh Kepala Sekolah, Ibu Umi Faizah. Yang disambung dengan pidato kula nuwun oleh Pak Muwahid Din. Wakil Kepala Sekolah Smaha Hebat yang didaulat memimpin rombongan. Mewakili Kepala Sekolah, yang berhalangan hadir. Lantaran sedang berkabung.

Di luar ekspektasi kami. Prof. Furqon tak sekadar memaparkan informasi datar dan dangkal. Tentang sejarah singkat dan profil ringkas Yayasan maupun Sekolah. Setiap butir informasi dielaborasi secara akademis. Aspek historisnya diungkap. Landasan filosofisnya digali. Konsep pedagogisnya dicerna. Rekayasa kontekstualnya diproyeksikan. Kami merasa tercerahkan. Kentara sekali minat dan kepedulian beliau dalam bidang pendidikan. Jauh melampaui latar belakang pendidikan dan pekerjaan formal beliau. Sebagai dosen pendidikan olahraga. Studinya--mulai S1, S2, hingga S3--juga tak pernah beranjak keluar dari bidang pendidikan olahraga.

Mengakhiri paparan yang dilanjut dengan sesi tanya jawab, Prof. Furqon menghadiahkan tiga buku karyanya kepada kami. Berikut buku-bukunya.

Mendidik: Memahami dan Peduli karya Prof. Furqon

Pendidikan Karakter Ibnu Miskawaih karya Prof. Furqon

Pendidikan Al-Ghazali karya Prof. Furqon

Pucuk dicinta ulam tiba. Semoga Prof. Furqon selalu dijaga dalam kesehatan prima. Agar terus dapat berkarya nyata. Berkontribusi untuk pendidikan anak Bangsa. Demikian juga SMA Al-Islam 1 Surakarta beserta semua sekolah di bawah naungan Yayasan Perguruan Al-Islam Surakarta. Semoga selalu mencapai kinerja dan prestasi optimal. Dan kami mampu meneladani kebaikan-kebaikannya.

Selasa, 26 November 2019

7 Kemerdekaan yang Terenggut dari Guru (Tafsir Radikal atas Pidato Mendikbud pada Peringatan Hari Guru Nasional 2019)


Pidato Mendikbud Nadiem Makarim pada upacara bendera peringatan Hari Guru Nasional 2019 menuai apresiasi luas. Ini kalimat utamanya: “Guru Indonesia yang tercinta, tugas Anda adalah yang termulia sekaligus yang tersulit.”

Kalimat utama tersebut segera diikuti tujuh kalimat penjelas. Ketujuh-tujuhnya berisi potret kontradiksi antara das Sollen dan das Sein yang disandang guru. Khas guru Indonesia, tentu.

Pertama, “Anda ditugasi untuk membentuk masa depan bangsa, tetapi lebih sering diberi aturan dibandingkan dengan pertolongan.” Inilah akar kemerdekaan guru yang tercerabut. Justru seiring pengakuan guru sebagai profesi. Kontraproduktif. Konyol, bahkan. Di belahan dunia mana pun, profesionalisme ditandai dengan otonomi. Guru profesional mestinya bekerja dan berkarya secara otonom. Seorang profesional bertanggung jawab atas dasar kepercayaan (trust-based responsibility). Sementara, regulasi demi regulasi yang mengatur kerja dan karya guru cenderung menempatkan guru sebagai a totally under control labor. Rupanya, pengakuan guru sebagai profesi--yang ditandai dengan tunjangan profesi guru sebesar gaji pokok--dimanipulasi sebagai mahar untuk mengebiri guru. Ya, otonomi guru telah terbeli.

Kedua, “Anda ingin membantu murid yang mengalami ketertinggalan di kelas, tetapi waktu Anda habis untuk mengerjakan tugas administratif tanpa manfaat yang jelas.” Jangankan menginfakkan waktu di luar jam mengajar untuk melayani kebutuhan belajar siswa! Jam mengajar saja tidak jarang terampas untuk menyelesaikan tugas-tugas administratif. Bayangkan, jika berhelai-helai berkas harus diserahkan siang. Padahal berita tagihannya baru diterima pagi pada hari yang sama! Ironisnya, berkas-berkas yang dihimpun dengan susah payah--disertai pengabaian kewajiban guru sekaligus perampasan hak siswa--itu sering akhirnya hanya teronggok di sudut-sudut kantor urusan pendidikan. Tanpa sempat dilirik mata jeli pejabat pemeriksa. Semua tahu, kepatuhan melunasi tagihan segala rupa dokumen itu demi keamanan karier guru semata: tunjangan ini itu, kenaikan pangkat, promosi jabatan. Tak secuil pun berkontribusi terhadap mutu pembelajaran di kelas.

Ketiga, “Anda tahu betul bahwa potensi anak tidak dapat diukur dari hasil ujian, tetapi terpaksa mengejar angka karena didesak berbagai pemangku kepentingan.” Sejak lahir, ilmu pendidikan (pedagogi) mengakui dan mengenalkan tiga ranah pendidikan: afektif, kognitif, dan psikomotor. Ujian tulis, termasuk ujian nasional (UN), hanya bisa mengukur ranah kognitif. Mustahil ia bisa mengukur kompetensi afektif dan psikomotor. Sedangkan prestasi autentik dalam dunia nyata lebih banyak dibentuk oleh kompetensi afektif dan psikomotor. Tapi kenapa kompetensi kognitif yang selalu didewakan sebagai takaran prestasi sekolah? Siswa peraih nilai UN tertinggi dipuja-puja sebagai siswa paling berprestasi. Sekolah peraih rata-rata nilai UN tertinggi atau pemilik siswa peraih nilai UN tertinggi dielu-elukan sebagai sekolah paling unggul. Lalu memanen predikat sekolah favorit. Kabupaten/kota atau provinsi peraih rata-rata nilai UN tertinggi serta-merta menduduki puncak klasemen daerah paling berhasil membangun pendidikan. Guru mana yang tidak tergoda untuk mengangkat citra siswa, sekolah, kabupaten/kota, dan provinsinya di mata nasional?

Keempat, “Anda ingin mengajak murid keluar kelas untuk belajar dari dunia sekitarnya, tetapi kurikulum yang begitu padat menutup pintu petualangan.” Pembelajaran di luar kelas itu mengasyikkan. Baik siswa maupun guru merasakan keasyikan itu. Tapi kenapa guru begitu tega memberangus keasyikan para siswa? Dan juga keasyikannya sendiri? Apa lagi? Kalau bukan demi mengejar serentetan tes: harian, tengah semester, akhir semester, akhir tahun, akhir sekolah? Mana ada guru yang berani bertemu orang tua murid untuk menyerahkan rapor atau ijazah anaknya yang di dalamnya bertebaran angka nilai merah? Sekolah tak lagi menjadi taman yang menggembirakan dan membahagiakan. Diksi “taman” yang dipakai oleh Ki Hadjar Dewantara sudah lama ditanggalkan. Sudah dilupakan! Bahkan, sudah dihapus dari glosarium pendidikan kita. Kecuali pada jenjang prasekolah.

Kelima, “Anda frustrasi karena Anda tahu bahwa di dunia nyata kemampuan berkarya dan berkolaborasi akan menentukan kesuksesan anak, bukan kemampuan menghafal.” Semua guru paham bahwa bukti autentik penguasaan ilmu pengetahuan adalah amal (karya nyata). Namun, apa daya? Semua pemangku kepentingan mengukur keberhasilan siswa hanya berdasarkan angka-angka semu yang tertera di rapor dan ijazah! Yang sebagian besar terbatas sebagai representasi capaian siswa dalam menghafal pengetahuan faktual dan konseptual! Semua guru tahu dan yakin bahwa manusia ditakdirkan tidak sanggup menjalani hidup seorang diri. Karenanya ia dijuluki sebagai makhluk sosial. Tapi, apa boleh buat? Institusi pendidikan sudah disulap menjadi sirkuit! Ajang kompetisi antarsiswa. Ring pertarungan antarsekolah. Arena adu prestise antardaerah.

Keenam, “Anda tahu bahwa setiap anak memiliki kebutuhan berbeda, tetapi keseragaman telah mengalahkan keberagaman sebagai prinsip dasar birokrasi.” Satu-satunya keberagaman siswa yang masih diakui: peringkat kepintaran yang ditentukan oleh nilai hasil tes/ujian kognitif! Apa yang harus dipelajari, seragam untuk semua siswa dengan berbagai keberagaman. Bagaimana dan dengan apa mereka diajar dan belajar, seragam. Bagaimana mereka menampilkan hasil belajar, seragam. Semua guru pun dituntut tampil seragam. Kecuali dalam hal-hal terkait kasta sosial: status kepegawaian, pangkat dan jabatan, serta (tentu saja) gaji. 

Ketujuh, “Anda ingin setiap murid terinspirasi, tetapi Anda tidak diberi kepercayaan untuk berinovasi.” Bagi guru, tantangan berinovasi hanya hadir di ajang lomba. Dalam menjalankan tugas keseharian, inovasi menjadi makhluk langka. Atau tabu, bahkan. Bagaimana sempat berinovasi, jika keenam kemerdekaan yang tersebut terdahulu sudah direnggut dari guru? Forum-forum yang mengumpulkan para guru pun (apa pun tajuk kegiatan dan label penyelenggaranya) hampir selalu berujung pada tiga agenda utama: [1] penyeragaman rencana pembelajaran; [2] penyeragaman buku teks pelajaran; dan [3] penyeragaman alat penilaian hasil belajar. Itu dulu. Ketika saya masih aktif menjadi guru. Sekarang? Tidak, pasti! Tidak berubah! Barangkali. Semoga saya (tidak) salah.

Kini, Mendikbud Nadiem “Milenial” Makarim pasang badan untuk memperjuangkan kemerdekaan belajar. Tetapi, buru-buru ia menimpali dengan pernyataan, “Namun, perubahan tidak dapat dimulai dari atas. Semua berawal dan berakhir dari guru. (Versi saya: semua berawal dari dan berakhir pada guru).”

Di satu sisi, pernyataan itu hendak memantik kesadaran dan mengobarkan semangat guru untuk menjadi pelaku utama perjuangan merebut kemerdekaannya yang sekian lama terenggut. Namun, di sisi lain, sekaligus ia mencerminkan keraguan Mas Menteri akan kesanggupannya mengubah mindset birokrasi pendidikan yang menjadi sasaran perjuangannya. Aroma pesimistis itu juga tercium dari pernyataan sebelumnya, “Perubahan adalah hal yang sulit dan penuh dengan ketidaknyamanan.”

Bagaimana jika kemudian pihak pro status quo mati-matian mempertahankan cengkeramannya? Lalu menciptakan ketakutan pada pasukan yang digadang-gadang menjadi garda depan perjuangan merebut kemerdekaan itu? Atau, jangan-jangan pion-pion itu justru sudah telanjur nyaman menikmati ketakmerdekaan?

Selamat merayakan Hari Guru Nasional! Ibu/Bapak Guru abad ke-21, selamat menyelami alam pikiran Menteri baru yang gelisah memandang wajah pendidikan bangsanya. Mas Menteri Nadiem “Milenial” Makarim, selamat mengarungi lautan pendidikan nasional. Anda boleh yakin, di kedalaman sana terpendam mutiara-mutiara berkilauan. Juga aneka biota unik nan indah memesona. Namun Anda juga sudah menyadari, badai dahsyat silih berganti menggiring ombak ganas yang berpotensi menghempaskan Anda ke dinding karang nan keras dan tajam.

Satu senjata, setidaknya, sudah tergenggam di tangan Anda: merdeka dari ancaman pre-power maupun post-power syndrome. Anda menjadi Menteri tanpa melanggar hierarki senioritas di habitat asal. Begitu pun kelak, setelah pensiun dari Menteri. Anda tak perlu khawatir akan menjadi target balas dendam para senior yang sempat kehilangan superioritas.

Pidato singkat itu cukup membuktikan kepekaan lensa Anda. Salah satu pilar utama pendidikan yang rapuh terbidik dari angle yang pas. Montasenya juga apik.

Akhirnya, “bisnis” baru Anda membutuhkan kejelian dan kepiawaian dalam melumasi segenap gir, rantai, dan sumbu roda penghela kereta pendidikan Tanah Air. Karat yang sudah mengerak tentu rentan terhadap gesekan.

Sebagai penutup, tak bosan saya mengutip kredo ini: “The quality of an educational system cannot exceed the quality of its teachers.” (Prof. Pasi Sahlberg)

Selasa, 19 Februari 2019

Tak Ada Murid Tak Pintar



Dia itu salah satu murid saya. Murid ilmu per-SOAL-an. Mulai dari nol. Besar. Dulu dia suka menyodorkan soal. Sudah jadi naskah sepaket. Minta disuntingkan. Saya baca sekilas. Lalu saya tanyakan: mana kisi-kisinya? Terbelalaklah si empunya soal.

Saya hafal. Mayoritas soal tes di negeri ini tidak menetas dari telur kisi-kisi. Entah. Mungkin terlalu merepotkan. Sempat membuat soalnya saja sudah bejo. Tak perlu dibebani tuntuntan yang lebih merepotkan: membuat kisi-kisi. Atau ada alasan lain: sudah mahir. Tiap pekan membuat soal. Masa, masih harus membuat kisi-kisi juga?

Dalam coaching kelompok pekan lalu, saya bertanya. Kepada seorang teman. Guru, yang juga penjahit. “Apakah penjahit yang sudah mahir juga biasa membuat baju yang dipesan pelanggannya tanpa membuat pola?” Begitu saya bertanya. “Ya tidaklah, Pak,” jawabnya. Sambil berekspresi gemas. Atau menggemaskan?

Ulah Radikal dalam Merawat Kompetensi Guru


Menggemaskan! Itu kesan saya tentang modus pendidikan di negeri tetangga. Tetangganya Timor Leste. Betapa tidak? Ups, tahan dulu. Nanti saja narasinya. Di paragraf ujung sana. Atau di ujung tulisan ini.

Dua pekan terakhir ini saya berkutat dengan koreksi soal. Aneh, memang. Lazimnya, yang dikoreksi jawabannya. Kok, ini soalnya? Begitulah. Eh, belum. Baru begini. Maksudnya, begini ceritanya.
Seperti dalam catatan HOTS yang Lagi Hot #1 dan #2, pada 26 Januari lalu  saya menerima titah. Menemani teman-teman belajar membuat soal HOTS. Lengkapnya: soal tes tulis yang menguji keterampilan berpikir aras lebih tinggi (higher order thinking skills atau HOTS). Kegiatannya bertajuk coaching. Saya juga kewalahan menemukan padanan yang pas untuk kata coaching itu. Di kamus pernah saya temukan arti coach: kereta yang ditarik oleh empat kuda. Semacam kereta kencana tunggangan Prabu Kresna, barangkali. Yang turut berjasa dalam perang agung Bharatayudha itu.

Saya menyanggupi. Dalam hati, saya bimbang. Pihak mana yang kelak tidak betah: peserta atau coach-nya? Karena saya ingin benar-benar seperti delman carteran itu. Mengantarkan penumpang hingga ke alamat masing-masing. Targetnya paten: mahir membuat soal HOTS. Dan sejak awal saya sadar. Alamat peserta berbeda-beda. Ada yang dekat, ada yang jauh. Jalan yang mesti dilalui pun tidak sama. Ada yang lurus, ada yang berkelok. Medan yang harus ditempuh beragam pula. Ada yang datar, ada yang terjal.
Andai kegiatannya berbayar, saya akan cukupkan dengan satu kali pertemuan. Yang berlangsung setengah hari itu saja. Kalau diperpanjang, kasihan yang mbayari. Namun, saya sadar (tumben, ya?). Saya tak bisa berbuat banyak. Untuk negeri saya (karena saya pegawai swasta, bukan negeri). Pun untuk wilayah administratif yang lebih sempit. Bahkan, untuk yang paling sempit sekalipun. Kecipratan amanah selingkung ini saja, sudah anugerah luar biasa.

Saya membulatkan tekad: mengusiri (bentukan dari kusir, bukan usir) coaching hingga tuntas. Dan saya benar-benar menjalankan fungsi kusir: hanya mengendalikan arah. Agar tidak ada penumpang yang tersesat. Sedangkan laju kereta ditentukan oleh power para kuda. Tentu, juga dipengaruhi stamina penumpang: seberapa teguh (bukan nama saya; maka, t-nya tidak kapital) hasrat mereka untuk mencapai alamat. Asli, tentu. Bukan alamat palsu.

Alamat yang sering palsu itulah, yang selalu dan sedang saya gugat. Keterampilan merancang, membuat, dan menyajikan instrumen penilaian hasil belajar itu mestinya sudah tuntas. Di-coach-kan di bangku sekolah. Sebelum (maha)siswa bakal calon guru ditahbiskan sebagai calon guru. Dengan seremoni segala rupa. Jauh sebelum digelar ritual penyematan lencana profesional. Apriori, memang. Bisa jadi, itu fitnah belaka. Mendiskreditkan para (maha)guru. Yang bertahun-tahun menempa teman-teman saya itu. Dengan segenap ketulusan jiwa.

Di akhir pertemuan, saya memberikan tugas: membuat dua butir soal. Lengkap dengan kisi-kisinya. Beserta kunci jawaban dan pembahasannya juga. Disetor melalui surel (surat elektronik; padanan email). Karya yang sudah dikirim saya periksa. Saya beri catatan-catatan. Penanda kesalahan dan petunjuk perbaikannya. Lalu saya kirim balik kepada si empunya soal. Untuk diperbaiki. Hasilnya disetor kembali kepada saya. Saya periksa lagi, coret-coret lagi, kirim balik lagi. Begitu seterusnya. Hingga nihil kesalahan. Setidaknya, menurut kacamata saya. Bila sudah beres, baru saya akan memberikan tugas berikutnya.

Entah. Sampai kapan proses ini akan berlangsung. Sekali lagi, stamina teman-teman menjadi faktor dominan. Saya sih asyik-asyik saja. Merunut relevansi indikator soal dan kompetensi dasar rujukannya. Meraba-raba konstruksi soal yang dikehendaki indikatornya. Mengukur level kognitif yang teruji. Mencermati kejelasan dan fungsi stimulus soalnya. Mencerna keterbacaan bahasa yang digunakan. Menimbang-nimbang kelogisan dan homogenitas opsi-opsi jawabannya. Memprediksi peluang terjadinya multitafsir. Dan sebagainya, dan seterusnya.

Ketika menjumpai kesalahan, sepele maupun fatal, saya anggap itu proses bagi teman-teman saya. Ya, mengetahui yang salah itu sering menjadi pengalaman berharga. Tahapan yang bermakna dan berdampak terhadap langkah selanjutnya: menjadi bisa menghasilkan yang benar. Sementara, bagi saya, kesalahan-kesalahan itu adalah ilmu autentik. Rambu-rambu yang menyuguhkan petunjuk: apa yang mesti saya lakukan. Jika sikap menerima kesalahan sebagai anugerah ini terus dijaga oleh kedua pihak, saya yakin: semua akan sampai pada alamat. Dengan selamat. Layak untuk dirayakan. Berhak atas sambutan suka cita.

Saya hanya kusir. Menarik tali kendali untuk memastikan arah menuju alamat. Memecut bila kuda menunjukkan gejala salah arah. Itu yang mengejawantah dalam notasi pada karya teman-teman. Saya tidak memberikan angka atau huruf sebagai simbol nilai. Tidak ada rapor. Tanpa ijazah, sertifikat, maupun piagam. Tidak juga berpengaruh terhadap penilaian kinerja. Seluruh proses itu menuju muara tunggal yang murni: memenuhi standar kompetensi guru. Dalam hal ini, kecakapan merancang, membuat, dan menyajikan alat penilaian yang akuntabel.

Kelayakan teknik dan alat penilaian hasil belajar, memang, selalu menjadi perhatian saya. Maklum, saya penghayat aliran kepercayaan: bahwa wajah penilaian adalah cermin untuk melihat rupa pembelajaran. Apa yang dinilai guru, menggambarkan apa yang diajarkan kepada siswa. Bagaimana guru menilai, mencerminkan bagaimana ia mengajar siswanya.

Modus saya dalam upaya merawat salah satu kompetensi teman-teman guru ini, boleh jadi terbilang radikal. Coaching tak berbatas tempat dan waktu, itu radikal. Pelatihan tanpa berujung sehelai sertifikat, itu radikal. Yang lebih radikal lagi: coach-nya tidak mengantongi sertifikat instruktur halal. Yang paling radikal: coach-nya berpendidikan lebih rendah daripada seluruh trainee-nya.

Kepada Ibu/Bapak (maha)guru pendadar para (calon) guru, saya mohon izin untuk melunasi utang Ibu/Bapak: mengantarkan teman-teman saya mencapai kemahiran dalam mengurus penilaian hasil belajar anak-cucu kita. Ibu/Bapak sudah berjasa besar: menanam benih-benih kompetensi itu. Melalui mata pelajaran/kuliah yang Ibu/Bapak ajarkan. Saya hanya membantu merawatnya. Agar benih-benih itu tumbuh menjadi tunas. Agar tunas-tunas itu bertumbuh berbatang berdaun berbunga dan berbuah (sengaja, saya tidak membubuhkan koma pada pemerian dalam kalimat ini; agar masih dikenali sebagai manusia: bisa dan biasa salah).

Nuwun. Pareng.

Kamis, 07 Februari 2019

HOTS yang Lagi Hots #3


Banyumanik, 2 Februari 2019

Menyambung pertemuan ke-1 sepekan sebelumnya. Pertemuan kedua ini sebenarnya tidak terprogram. Di luar kontrak. Menurut rencana, saya hanya dijadwalkan untuk membersamai teman-teman dalam kelompok-kelompok kecil. Mungkin tidak sampai sepuluh orang peserta tiap-tiap kelompok. Tapi mendadak saya mengusulkan pertemuan tambahan. Klasikal. Maka, saya sebut pertemuan ke-2 ini sebagai pertemuan remedial.

Saya iba. Mayoritas teman-teman belum beranjak dari soal-soal yang menguji LOTS: mengingat (remembering) dan memahami (understanding). Itu terendus dari karya yang sudah sampai ke dapur koreksi saya. Belum mencapai 25% dari jumlah peserta, memang. Saya mulai menduga-duga. Apa sebab? Apakah mereka gagal memahami perbedaan antara LOTS dan HOTS? Apakah mereka mengalami kesulitan yang amat sangat untuk membuat soal HOTS? Itu dugaan pertama. Atau, jangan-jangan, mereka masih memandang sebelah mata urgensi HOTS? Kalau yang LOTS saja sulit, ngapain susah-susah bikin yang HOTS? Atau, gek-gek HOTS itu dianggap sebagai bid’ah? Ini syak wasangka kedua.

Dugaan pertama saya coba menepisnya. Pasalnya, dalam pertemuan ke-1 sudah saya suguhkan sejumlah contoh. Untuk dibandingkan: yang LOTS bagaimana, yang HOTS seperti apa. Ditambah, ada buku panduan dari Puspendik. Yang saya bagikan beberapa hari sebelum  pertemuan. Tepatnya, saya minta tolong pihak berkompeten untuk membagikannya. Pun kemudian saya susulkan video tutorial. Produk Puspendik juga. Total, 9 keping: 3 tentang soal HOTS, 1 tentang kisi-kisi soal, 3 tentang kaidah soal pilihan ganda, 1 tentang kaidah soal isian, dan 1 lagi tentang kaidah soal uraian.

Andai saya sibuk, soal-soal itu tinggal saya kembalikan lagi saja. Saya beri catatan dengan tinta merah: “MAAF, SOAL YANG ANDA BUAT MASIH lots! BELUM hots!” Begitu. Untungnya, atau celakanya(?), saya lagi nganggur. Jadinya, tetap saya beri sejumlah coretan. Sambil mengoreksi konstruksi dan bahasanya. Kadang juga substansinya. Ya kisi-kisinya, ya rumusan soalnya. Tidak mengapa. Idhep-idhep “tadarus”.

Saya pun yakin, dugaan kedualah biangnya. Untuk membedah ini, saya terpaksa mesti jemawa. Cumanthaka memba-memba ngulama. Begitu cibiran yang layak saya terima. Betapa tidak? Seperti tampak pada foto di atas, saya membuka kelas remedial ini dengan pengajian. Hahaha. Saya ingat satu adegan yang terekam apik di dalam kitab suci agama saya: fit and proper test. Uji kelayakan dan kepatutan. Untuk meyakinkan wangsa malaikat. Bahwa penunjukan bangsa manusia sebagai calon khalifah di bumi itu putusan objektif, rasional, meritokratik.

Begini kisahnya.

وَإِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٞ فِي ٱلۡأَرۡضِ خَلِيفَةٗۖ قَالُوٓاْ أَتَجۡعَلُ فِيهَا مَن يُفۡسِدُ فِيهَا وَيَسۡفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۖ قَالَ إِنِّيٓ أَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ٣٠
30. Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

وَعَلَّمَ ءَادَمَ ٱلۡأَسۡمَآءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمۡ عَلَى ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ فَقَالَ أَنۢبِ‍ُٔونِي بِأَسۡمَآءِ هَٰٓؤُلَآءِ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ٣١
31. Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!”

قَالُواْ سُبۡحَٰنَكَ لَا عِلۡمَ لَنَآ إِلَّا مَا عَلَّمۡتَنَآۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَلِيمُ ٱلۡحَكِيمُ ٣٢
32. Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

قَالَ يَٰٓـَٔادَمُ أَنۢبِئۡهُم بِأَسۡمَآئِهِمۡۖ فَلَمَّآ أَنۢبَأَهُم بِأَسۡمَآئِهِمۡ قَالَ أَلَمۡ أَقُل لَّكُمۡ إِنِّيٓ أَعۡلَمُ غَيۡبَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَأَعۡلَمُ مَا تُبۡدُونَ وَمَا كُنتُمۡ تَكۡتُمُونَ ٣٣
33. Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini.” Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: “Bukankah sudah Ku-katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?”

وَإِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ ٱسۡجُدُواْ لِأٓدَمَ فَسَجَدُوٓاْ إِلَّآ إِبۡلِيسَ أَبَىٰ وَٱسۡتَكۡبَرَ وَكَانَ مِنَ ٱلۡكَٰفِرِينَ ٣٤
34. Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka, kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.

Firman Tuhan ini yang saya pakai sebagai senjata. Lima ayat di dalam surat Al-Baqarah itu menarasikan fit and proper test terhadap Adam a.s. Hanya saja, saya menggugat diksi yang dipakai Kementerian Agama untuk menerjemahkan dua kata yang saya garisbawahi: أَنۢبَأَ (menyebutkan) dan  ۡأَسۡمَآءَ (nama-nama). Jika ujiannya sekadar “menyebut nama-nama benda”, prediksi saya Malaikat jauh lebih kompeten daripada Adam. Bukankah Malaikat itu jago dalam remembering, reciting, dan recalling? Maka, saya (kembali nakal dan nekat) menerjemahkannya menjadi “menguraikan tabiat benda-benda”. Medharake watak-wantune samubarang kalir. To identify the nature of observable things. (Wuih, mangkin nggaya saja ini!)

Ini analisis semantik yang saya pakai. Kata anba’ punya akar yang sama dengan kata naba’ dan nabi. (Saya, sih, sebenarnya buta bahasa Arab. Mangkin kentara cumanthaka-nya, kan?) Nabi itu juru penerang. Juru penjelas. Pamedhar sabda. Messenger. Interpreter. Sedangkan al-asma’ al-husna, yang terkenal berjumlah 99, merujuk pada sifat-sifat agung yang melekat pada Tuhan (the nature of God).

Dari analisis “ngawur” itulah saya menyimpulkan: Adam dipilih oleh Tuhan sebagai khalifah di bumi karena kompetensi HOTS-nya. Sebenarnya lebih enak dibalik: untuk menahbiskan khalifah di bumi, Tuhan meng-install software HOTS pada diri Adam (representasi bangsa manusia). So, HOTS itu fitrah manusia. Blaikkk! Berarti, kalau suka menjejalkan soal-soal tidak HOTS kepada siswa, sungguh kita sedang giat menyiapkan generasi yang akan menanggalkan fitrahnya?!

Simpulkan sendiri saja. Biar upgraded to HOTS human being.